Gelisah Selama Perjalanan Solo

Perjalanan solo ke Singapura dan KLBeberapa kali perjalanan solo kulakukan. Perjalanan yang lumayan jauh dan menantang kulakukan sendirian yaitu menuju Banyuwangi-Bali dan Sumbawa dengan berbagai mode transportasi. Saat itu ada perasaan campur aduk yang kualami selama perjalanan. Hal serupa kemudiaj juga kurasa ketika melakukan perjalanan ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan berbagai mode transportasi yang baru-baru ini kualami.

Saat menuju Banyuwangi kemudian lanjut Bali, ada perasaan malas dan ingin membatalkan perjalanan. Perjalanan tersebut dipicu aktivitas gunung berapi yang membuat perjalanan dibatalkan. Aku kemudian memesan tiket kereta menuju Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi, baru menyeberang dengan feri ke Bali. Sebuah perjalanan panjang untuk menuju konferensi di sekitaran Pantai Sanur, Bali.

Perjalanan ke Sumbawa juga ada kaitannya dengan sebuah konferensi, namun di Mataram, Lombok. Karena penasaran akan Sumbawa maka aku pun juga mencoba menyeberang dengan feri. Aku kemudian menginap di rumah nelayan setempat bersama keluarganya.

Selama perjalanan solo tersebut aku merasa cemas dan gugup. Aku ingin kembali pulang saja ke rumah, ke rumahku yang hangat. Menuju ke tempat yang asing sendirian rasanya menakutkan.

Tapi di satu sisi ada rasa penasaran dan andrenalin yang terpacu. Aku ingin mencoba ini itu. Aku ingin melihat dunia.

Sebenarnya ada beberapa lagi perjalanan solo yang kulakukan. Tapi dua perjalanan tersebut terasa membekas.

Kali ini ketika menuju Singapura dan Kuala Lumpur, rasa cemasku muncul ketika aku lupa memesan dan menyalakan roaming internasional. Saat hendak berlabuh di Harbour Front, kedua nomorku tidak lagi bisa kugunakan.

Seandainya ada WIFI maka aku bisa membuka tiket bus, pesawat, dan juga browsing. Tapi WIFI adanya di tempat-tempat tertentu. Yang menantang di sini adalah saat aku berjalan kaki dan tidak ada WiFI. Mau tak mau aku harus bertanya ke seseorang.

Perjalanan solo ke Singapura dan KL Bagian yang paling membuatku cemas adalah menuju ke titik perhentian bus menuju KL di Golden Mile Tower. Aku belum pernah ke sana dan tempatnya nampak asing. Apalagi kami akan berkumpul sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Berjalan dan naik transportasi umum malam hari di negara orang agak membuatku cemas.

Rute pertama menuju museum masih bisa kulakoni dengan agak percaya diri. Meski sudah sangat lama tidak ke Singapura, aku kasih ingat dengan beberapa jalan utamanya. Aku masih ingat suasananya.

Perjalanan solo ke Singapura dan KL Setelah turun dari MRT, aku melihat kanan kiri untuk melihat jalan yang kiranya kukenal. Aku kemudian berjalan kaki menggunakan insting dan juga potongan peta yang sempat kuskrinsut. Wah untungnya sampai.

Menuju perhentian kedua ini agak susah karena ada transit MRT dan juga berjalan kaki ke tempat yang belum pernah kusinggahi. Karena was-was aku kemudian memanfaatkan WIFI untuk mengurus soal roaming. Akhirnya setelah satu jam bergelut dengan urusan pembelian dan aktivasi roaming, nomorku kembali bisa digunakan.

Biayanya sekitar Rp200 ribu. Sebenarnya bisa untuk seminggu sih. Pilihannya hanya harian dan mingguan, kalau harian aku kuatir puyeng lagi mengurusnya.

Setelah masalah roaming beres, aku merasa tenang dan lebih menikmati perjalanan. Padahal ketika sinyal internetku mati tadi, rasanya agak panik dan ingin pulang saja.

Nah bagian paling membuatku cemas adalah menuju ke tempat perhentian bus. Entah karena lelah atau mengantuk, aku salah naik bus dua kali. Aku keliru lokasi menunggunya, yang seharusnya aku menunggu di posisi berlawanan. Duh aku mulai takut ketinggalan bus.

Perjalanan solo ke Singapura dan KL
Setelah turun dari halte, aku harus berjalan kaki. Suasana Singapura sekitar pukul 22.30-23.00 terasa begitu lengang. Aku berjalan kaki dengan cepat. Ketika akhirnya menemukan lokasi perhentian bus, aku baru merasa lega. Kukeluarkan minuman dan camilan yang kubeli di mesin. Aku benar-benar lega.

Keesokan harinya aku akan tiba di Kuala Lumpur. Mungkin karena sudah melewati masa kepanikan, aku kemudian merasa tenang. Aku merasa santai selama di Kuala Lumpur walaupun ini kali pertama aku berjalan-jalan di Kuala Lumpur.

Ketika aku bertanya pengalaman ke kawanku yang kali pertama ke Jepang sendirian, ia juga seperti diriku. Awal-awal tiba ia merasa tak nyaman, gugup, ada rasa takut dan ingin kembali pulang saja ke rumah. Tapi setelah perasaan was-was itu reda, yang muncul kemudian adalah rasa senang dan ingin tahu.

~ oleh dewipuspasari pada Februari 2, 2024.

4 Tanggapan to “Gelisah Selama Perjalanan Solo”

  1. Kira-kira kalo ke Singapore gitu harus dicek dulu nggak kk saldo di rekening kita ada berapa gitu? Atau cuma butuh visa aja?

Tinggalkan Balasan ke dewipuspasari Batalkan balasan