Kebun
Aku sudah berkali-kali berpindah tempat tinggal sejak memutuskan berkuliah dan bekerja di luar kota. Ada kalanya aku cemas akan tempat tinggal yang nantinya bisa kusebut rumah. Dalam benakku, rumah adalah tempat yang punya kebun atau taman kecil. Kebun dengan tanah.
Kebun kecil depan rumah mengingatkanku pada rumah orang tuaku. Entah memang gambaran rumah ideal dalam benak kami seperti itu, rumah nenek, rumah bibi, rumah kakak, dan rumah mereka yang masih memiliki ikatan saudara denganku memiliki kebun alias taman kecil depan rumah. Ketika kamu mulai membuat dan merawat kebun itu, saat itulah kami yakin tempat tinggal tersebut adalah rumah bagi kami.
Mengapa kebun itu penting? Menurutku kebun bukan sekadar tempat menaruh berbagai tanaman. Kebunku sendiri mengalami evolusi, dulu berupa pohon mangga dengan berbagai tanaman hias dan bunga mawar. Kebunku kemudian hancur ketika rumah direnovasi. Tanamannya jadi tertimpa bahan bangunan dan kurang terurus. Saat itu aku merasa sedih dan merasa bersalah.
Kebun itu bagian bawahnya adalah pemakaman. Kucing-kucing sebagian besar kumakamkan di sana. Di atasnya adalah tanaman yang mulai kembali kutata. Meski masih berantakan dan baru seadanya, aku merasa senang dengan adanya kebun kecil ini. Rumahku jadi kembali seperti benar-benar rumah.
Aku suka memandangi kebun pada pagi dan sore hari. Sambil menyiram dan memerhatikan mereka, aku bertanya ke mereka, apa mereka baik-baik saja.
Kebun ini adalah salah satu media untuk grounding, menghubungkan diriku dengan alam semesta. Aku hanyalah sebesar atom dibandingkan alam semesta yang besar ini. Aku merasa terberkati bisa hidup hingga seusiaku saat ini.
Sambil berada di dekat kebun, aku meregangkan badan, mengatur tubuhku untuk rileks dan bernafas. Kucing-kucing ikut berkumpul di dekatku. Aku kucing, dan kebun, aku merasa cukup.
