Malam, Hujan, Buku, dan Si Meong

Kucing dan bukuUh mataku entah kenapa susah sekali terpejam malam ini. Sudah pukul sepuluh malam lewat, namun si peri rupanya lalai menaburkan serbuk tidur dan serbuk mimpi ke mataku.

Kucoba menghitung anak biri-biri untuk membantuku tidur. Satu, dua, tiga.. aku malah terjaga.

Rasanya aku perlu sesuatu untuk membantuku tidur.

Aku memutuskan beranjak dari kamar dan menuju dapur mungilku. Kujerang air. Kumasukkan bubuk susu dan cokelat ke dalam mug besar. Lalu kutambahkan kayu manis dan karamel. Baru kutuangkan air panas dan kuaduk hingga semuanya larut.

Aroma karamel, cokelat, dan kayu manis menciptakan harmonisasi relaksasi yang sempurna. Aroma manis, eksotik yang membuat rileks hati.

Kubawa mug ke ruang tengah. Kiki si meong menghampiriku. Ia rupanya terbangun karena penasaran.

Kuambil sebuah buku dalam rak. Buku dari Tolkien yang belum pernah kubaca sepertinya cocok untuk menemaniku hingga terlelap.

Malam ini tak begitu hening. Suara gerimis di luar ibarat musik latar dalam film dengan aku sebagai pemeran utama.

Membaca buku diiringi gerimis dan susu cokelat hangat rasanya menyenangkan. Si Kiki kemudian naik ke pinggiran sofa. Ia dengan percaya diri tanpa izin lalu duduk di atas pangkuanku. Hangat.

Lembar demi lembar buku kuselesaikan. Cerita ini belum pernah kubaca dan belum pernah diadaptasi ke film, sehingga membuatku penasaran. Susu dalam mug terus berkurang. Sementara Kiki sesekali berganti posisi.

Hujan di luar sana makin rapat dan deras. Dengkuran Kiki juga makin keras. Ah suara-suara ini ibarat lagu Nina Bobo yang melenakan.

Suara meongan membuatku bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan dan di mana aku saat ini. Sinar matahari mulai menyapa dan Kiki yang telah turun dari sofa, merasa lapar.

Ah rupanya aku terlelap di sofa semalam. Bukuku terjatuh, namun untungkah tak ada yang lecet.

Aku mencoba untuk bangkit dari sofa. Uhhh badanku kaku dan pegal sekali.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 4, 2024.

Tinggalkan komentar