Kucing Pemijat
Kucing itu memijat perutku dengan perlahan-lahan, tapak kakinya lembut. Raut wajahnya serius. Ia nampak teliti dan cermat menaruh jemari kedua kaki depannya di tubuhku. Seolah-olah ia tahu titik-titik mana yang membuatku rileks dengan disentuh.
Aku menyebutnya kucing pemijat. Ia hampir setiap hari memijat perutku. Biasanya ia meminat hingga hampir satu menitan. Cukup lama bagi seekor kucing.
Kucing pemijat itu adalah si Sam alias Samsudin. Kucing betina itu paling mahir dalam menentukan titik pijat yang tepat. Ia juga tak menggunakan cakar sehingga pijatannya lembut dan tekanannya pas.
Kucing-kucing lainnya, Cindil dan Pang mencoba meniru cara memijatnya. Sayangnya cakar mereka keluar sehingga aku malah merasa kesakitan.
Kucing gelandangan, si Kemoceng yang merayuku agar ia diangkat jadi kucingku menggunakan jurus pijat untuk melunakkan hatiku. Lagi-lagi ia belum mahir melakukannya. Pijatannya buru-buru seolah-olah ia ingin lekas dapat hadiah. Cakar depannya juga sekali-kali keluar sehingga aku mengernyit dan menghentikannya.
Biasanya si Sam memijatku pada malam hari sebelum tidur. Setelah lelah memijat, ia kemudian naik ke dadaku dan berbaring di sana dengan nyamannya. Kepalanya disorongkan ke dada dan kaki depannya berupaya memelukku. Ah kini gantian lenganku yang harus menopang badannya.
Ia suka berganti-ganti pose saat tidur. Setelah puas dengan gaya manja seperti anak bayi. Ia pun mengangkat kepalanya, lalu posisi Sphinx di dadaku.
Yang menyebalkan jika ia mengubah arah duduknya sehingga ekornya menghadap hidungku. Ekor si Sam agak bundel. Ekor itu bergerak-gerak membuatku pusing. Lama-lama aku pun bersin.
Duh ketika bangun, badanku yang mulai enak dipijat malah pegal. Si Sam meminta bayaran berupa makan malam yang lezat sebelum tidur pulas.
