Hidung Hitam Anak Kemoceng
Si kucing Kemoceng punya anak empat. Sedangkan Clara dari dua anaknya, hanya satu yang bertahan. Semenjak kehadiran lima anak kucing, aku kembali sibuk. Mereka makannya banyak, sehingga belanja pakan kucingku kembali meningkat. Aku juga harus lebih rajin membersihkan rumah. Satu hal yang kuperhatikan dari anak Kemoceng adalah hidungnya yang menggemaskan.
Anak Kemoceng punya motif yang beragam. Satu anak kucing mirip banget motifnya dengan milik Opal almarhum sehingga kuberi nama Opal Junior. Dia mengingatkanku pada Opal yang telah tiada.
Satu kucing putih hitam, dengan lebih banyak warna putih. Matanya malas. Dia badannya paling ndut. Saat ini aku masih bingung dengan namanya. Sepertinya dia lebih cocok dipanggil Popo.
Nah, kucing dengan dominan warna hitam, dengan aksen putih ada dua. Yang satu yang sedang dirawat. Ia kuputuskan kuberi nama Panda. Bagian putihnya masih terlihat. Sinar matanya ramah dan bersahabat. Ia manja sekali.
Sementara satunya mirip dengan Panda. Hanya bagian hitamnya lebih dominan. Ia yang paling rakus di antara anak-anak kucing. Setiap kali ada makanan, ia paling sigap mendekat. Tatapannya matanya nakal dan tamak. Sepertinya ia kuberi nama Pong. Karena ia mirip dengan Pong soal makanan. Kucingku Pong sudah lama menghilang dan tak kembali. Aku merindukannya.
Panda dan Pong sama-sama punya hidung yang hitam. Bagian hidungnya yang hitam dan motif di wajahnya yang berantakan membuat kedua kucing itu nampak menggemaskan.
Anak Clara juga tak kalah manis. Ia putih dengan beberapa bagian oren. Badannya juga ndut.
Duh moga-moga para anak kucing ini semuanya sehat hingga mereka dewasa. Amiin.
