Jalan Suoh Menuju Kota Agung Bak Off Road
“Lewat Suoh saja arah baliknya. Di sana pemandangannya bagus.”
Sebenarnya aku ragu ketika mas Angga mengusulkan kami untuk pulang melewati Suoh di Lampung Barat menuju Bandar Lampung. Apalagi Liwa dari semalam hingga pagi hujan begitu deras. Bakal susah menikmati pemandangan pegunungan saat hujan. Tak akan ada negeri di awan dan sunrise. Tapi melihat mata pria humoris itu yang berbinar-binar, aku jadi tak tega menolaknya.
Perjalanan dari Liwa menuju Suoh relatif lancar. Kami melewati jalur pegunungan yang indah meski tertutup mendung dan kabut. Ada kolam berisi teratai merah muda beberapa kali kami jumpai. Teratainya tumbuh dengan subur dan indah sekali.
Kami kemudian melalui jalur hutan yang rimbun. Terdengar suara burung dan serangga. Hawa begitu segar. Jalanan relatif lumayan, meski di beberapa tempat bergelombang, berkubang, dan sebagainya sehingga kami harus lebih bersabar.
Akhirnya kami tiba di Danau Suoh yang indah. Hanya karena mendung dan kemudian gerimis, kami tak jadi naik perahu berkeliling danau dan menyeberang. Kami pun memilih kembali ke arah pulang lewat Suoh ke arah Kota Agung, Tanggamus.
Awalnya jalanan relatif mulus, hanya beberapa kali masih berkerikil dan hancur di daerah Suoh. Kanan kiri masih persawahan yang hijau menguning dan banyak bebek, angsa, juga ayam.
Tapi kemudian jalan makin hancur dan makin parah. Membuat kami harus jalan makin perlahan-lahan.
Ketika jalur persawahan berupa menjadi hutan, jalanan makin hancur. Rasanya susah sekali menemukan jalan beraspal. Kadang-kadang jalanan makin berkerikil, kadang-kadang malah hanya tanah.
Jalur listrik juga nampaknya tidak ada. Bagaimana jika hari sudah gelap ya? Wah bakal makin seram di sini.
Kulihat banyak rumah-rumah dari papan yang nampak sederhana. Juga ada bangunan kayu yang sudah reyot. Beberapa kantor aparat keamanan nampak kosong.
Di perjalanan kami menemui warga setempat. Mereka berkebun kopi, cokelat, dan lainnya. Mereka begitu ramah menyapa dan juga suka tersenyum.
Hingga 4,5 jam kami ber-off road. Jalan berguncang-guncang dan mobil hanya bisa maju perlahan-lahan. Sungguh melelahkan. Mau ke toilet juga susah karena kanan kiri hutan, juga jarang rumah warga.
Kami berpapasan dengan beberapa mobil yang ke arah sebaliknya. Kebanyakan mobil pedagang keliling.
Ada beberapa hal unik kami temui selama perjalanan. Ada penjual martabak manis di tengah hutan yang sepi dan jauh dari warga. Siapa pembelinya ya? Lalu kaki berjumpa kucing kecil. Ia mengikuti mobil kami sehingga kami pun berhenti dan ingin membawanya. Tapi ia takut dengan kami sehingga kami hanya memberinya roti yang ia makan dengan lahap.



Baru sekitar pukul 17.00 kami keluar dari jalan off road tersebut. Kota Agung sudah menyambut. Lelahnya. Senangnya melihat jalan beraspal yang mulus.
Mengapa ya pemerintah daerah setempat sengaja membiarkan kondisi jalan seperti itu? Padahal ada APBD. Apa mereka tidak kasihan ya dengan warga setempat yang kesulitan membawa hasil panen atau berdagang wilayah tersebut? Entahlah.

