Seblak
Tempat makan di daerah tempat tinggalku kerap berubah. Ada kalanya aku menyesal tak sempat mencobainya. Waktu itu ada bubur rempah dan kupi Aceh yang cepat menghilang. Kini ada seblak prasmanan yang baru datang.
Semenjak ada badai PHK di berbagai tempat, makin banyak penjual makanan di tempatku. Entahlah ini kondisi yang menguntungkan atau bagaimana, aku berharap usaha mereka sukses. Tak sedikit yang berjualan dengan membanting harga.
Penjual di angka 10-15 ribuan pun bertambah. Sebagai pembeli, terus terang aku merasa senang, bisa mencobai berbagai makanan. Kali ini aku ingin makan seblak.
Rupanya ada banyak menu seblak dan bakso aci. Ada seblak reguler dan dengan aneka tambahan lainnya seperti telur dan bakso seafood.
Aku memilih yang biasa. Harganya Rp13 ribu seporsinya.

Seperti biasa kadang-kadang aku suka mengajak mengobrol orang asing. Pembeli seblak ini kebanyakan anak sekolah dan pastinya lebih banyak anak perempuannya. Entah kenapa perempuan suka makanan pedas dan asam. Sumber penyakit maag dan gerd hahaha.
Kulihat wadah sambalnya begitu merah, banyak, dan mengerikan. Aku memilih pedas sedang saja, takut banget lihat aroma sambalnya yang nampak begitu pedasnya.
Setelah si penjual mendidihkan air beserta aneka bumbu, termasuk sambal dan kencur, ia mulai memasukkan isiannya. Mie dimasukkan dulu, berikut potongan sawi hijau. Lalu ada kerupuk merah dan isian yang umum muncul di seblak, seperti tahu aci kering. Jadi deh.
Aku pun makan malam dengan seblak. Agar lebih sedap, aku bikin telur mata sapi lalu kumasukkan ke dalamnya.
Kuahnya sedap. Pedasnya pas. Aroma kencurnya samar-samar. Mienya bikin kenyang, mungkin lain waktu aku minta tanpa mie saja. Kerupuk dan bahan keringnya mekar dan jadi lunak. Sawinya bikin segar.
Memang enak sih jika ditambahkan telur. Sayang baksoku sudah habis di rumah. Bisa dimasukkan juga.
Wah makan seblak ternyata mengenyangkan. Perutku terasa penuh sekali. Gagal deh program dietku hari ini.
Lain waktu aku akan coba tekwan yang baru buka
