This Is Amiko, Sastra Jepang tentang Anak yang Unik
Tampaknya tak ada yang memahami Amiko. Begitu juga dengan Amiko yang heran melihat ibunya yang kemudian tidur sepanjang hari. Sosok Amiko ini dikisahkan oleh Natsuko Imamura dalam karyanya, This Is Amiko.
Amiko sejak kanak-kanak memang unik. Ia suka mengintip ibunya yang sedang mengajar kaligrafi. Ia suka tiba-tiba bersenandung. Ia juga senang mendapat hadiah kamera polaroid dan walkie talkie. Ia juga diam-diam menyukai kawan sekolahnya, Nori.
Aktivitas Amiko dan keluarganya awalnya seperti keluarga biasanya. Amiko meski tak berkawan, juga masih akrab dengan kakak laki-lakinya. Hingga semuanya berubah ketika bayi yang dilahirkan ibunya meninggal. Amiko memberikan hadiah yang salah dengan bantuan Nori kepada ibunya.
Ibu menjadi depresi. Ia jadi ingin tidur seharian dan tak lagi mengajar maupun memasak. Kakaknya jadi berandalan. Nori makin menjauhinya. Sementara Amiko makin malas ke sekolah dan membersihkan tubuhnya.
Amiko merasa dunianya berubah. Ia juga mendengar suara-suara aneh di balkon yang membuatnya takut. Namun, tak ada yang mau memahami Amiko. Ia semakin sendirian.
Seperti yang disampaikan si pengarang, Natsuko Imamura, memang tidak mudah memahami Amiko. Ia punya dunia sendiri. Ia juga punya bahasa sendiri untuk menunjukkan kepeduliannya.
Secara perlahan-lahan pembaca diajak mengenal Amiko dan dunianya. Bagaimana responnya ketika ia senang dan takut disampaikan dengan seksama. Ia seperti sosok yang imajinatif dan ingin menjadikan dunia seperti khayalannya. Namun, sayangnya ia hidup di dunia nyata yang ada kalanya kejam.
Ketika membaca bagian ketika Amiko dirundung, rasanya menyesakkan. Dunia anak dan remaja ada kalanya demikian kejam. Amiko menerima siksaan secara fisik dan mental dari sekitarnya, yang kemudian membentuk dirinya.
Cerita tentang Amiko ini memang menyesakkan. Bisa jadi buku ini memicu kenangan dan respon dari mereka yang pernah mengalami depresi dan anxiety, sehingga perlu hati-hati ketika membacanya.
Meski tokoh utamanya anak-anak yang kemudian beranjak dewasa buku ini lebih pas dibaca oleh mereka yang telah berusia 17 tahun ke atas. Oleh karena ada dua cerita pendek lainnya berjudul Piknik dan Chizu dalam buku ini. Cerita Piknik lebih dewasa dari segi karakter dan konfliknya cukup kompleks. Sedangkan Chizu bercerita tentang seorang nenek. Dua cerpen ini relatif singkat dibandingkan This Is Maiko.
Ketiga cerita dalam buku This Is Amiko ini agak sulit dipahami. Kalian perlu bersabar dan membacanya perlahan untuk mengenal terlebih dahulu dunia tiap-tiap karakter dan kemudian mencoba memahaminya.
Detail Buku:
Judul Buku: This Is Amiko
Penulis: Natsuko Imamura
Penerjemah: Tuti Alawiyah dan Jeillyta Chandra
Penerbit: Pastel Books, bagian Mizan Pustaka
Tebak Buku: 214 halaman
