The Immortalist, Kisah Empat Bersaudara dan Rahasia Umur

The immortalist

Apa yang akan kamu lakukan untuk menjalani hidup ini ketika kamu mengetahui kapan waktu kematianmu?

Keempat bersaudara dilingkupi rasa penasaran yang tinggi akan kehadiran peramal misterius. Tanpa memberitahu orang tua mereka, Daniel mengajak Varya dan kedua adiknya, Klara dan Simon menemui si peramal. Satu persatu mereka masuk dan diberikan waktu kematian mereka. Hingga kembali ke rumah, mereka pucat dan tak mau membahas hal tersebut, hingga sebuah momen menghampiri mereka. Itulah awalan kisah yang dibahas dalam novel The Immortalist.

Saul Gold, ayah mereka meninggal. Varya dan Daniel datang meski menjelang ujian di kampus. Setelah pemakaman, Klara berniat berkeliling menggelar atraksi sulap. Varya dan Daniel awalnya menentangnya, namun Klara bersikeras. Mereka kemudian membahas ramalan usia yang pernah mereka lakukan saat masih kanak-kanak. Simon yang ingat usianya bakal tak panjang kemudian memilih jalan hidup yang membuat kedua kakak dan ibunya marah besar.

Apakah ramalan benar-benar mempengaruhimu?
Dulu aku suka membaca ramalan bintang. Ramalan tersebut jarang tertanam di benak, sekali membaca langsung hilang. Tapi aku belum pernah diramal kapan aku akan meninggal. Jika pernah, mungkin aku akan menjalani kehidupan dengan berbeda.

Itulah yang dialami keempat bersaudara Gold. Klara dan Simon begitu terpengaruh oleh ramalan tersebut karena keduanya masih kecil waktu diajak Daniel ke tempat si peramal.

Novel ini terdiri dari beberapa bab yang mengupas kehidupan masing-masing dari mereka, dimulai dari Simon, berlanjut ke Klara, Daniel, dan ditutup oleh Varya. Di awal, ketika mereka menjelaskan kisah pertemuan dengan si peramal misterius itu terasa menarik. Aku membayangkan ceritanya bakal hidup, apalagi latar ceritanya adalah New York tahun 1970-an.

Namun ketika membaca bagian Simon, aku mulai merasa jengah. Rasanya berat untuk membaca bagian ini, tetapi kupaksakan hingga selesai.

Ini adalah opini pribadiku. Aku sedang dalam taraf jenuh dengan cerita-cerita dan film yang memiliki unsur LGBTQ. Belakangan isu ini begitu banyak disisipkan di novel dan di film. Kadang-kadang aku merasa mereka yang mengusung cerita dengan isu ini seperti mengikuti arus, karena sedang tren atau ingin diperhatikan.

Spoiler Alert!
Bagian ini memiliki bocoran tentang isi cerita meski tidak banyak.

Ya, aku jenuh dengan isu tersebut. Cerita Simon yang kental dengan nuansa LGBTQ terasa menjemukan. Apalagi tokoh Simon bukan tipe yang simpatik. Ia melakukan kebodohan demi kebodohan yang kemudian membuat ramalan itu pun nyata

Tapi apakah itu salah si peramal? Entahlah.

Tokoh Klara juga tak jauh beda. Di awal ia yang paling bercahaya. Ia yang menggunakan nama panggung The Immortalist, nampak sebagai karakter yang unik. Namun, lagi-lagi si pengarang memberikan pengembangan karakter yang buruk. Seperti menguatkan ramalan tersebut.

Bagian Daniel di awal-awal juga menarik. Namun entah kenapa karakternya berkembang menjadi buruk. Sementara bagian Varya dari awal tidak begitu menarik.

Spoiler berakhir di sini. 

Karakter keempat bersaudara Gold ini kurang simpatik. Jadi saat membaca aku merasa sulit bersimpati kepada masing-masing karakter. Rasanya aneh ketika mereka menumpahkan kekesalan dan kemarahan ke si peramal.

Menurutku karakter yang paling menarik di novel ini adalah Ruby. Ia yang memiliki desain karakter yang unik, cerdas namun juga punya sisi lain yang menarik. 

Ada banyak deskripsi tentang sesuatu yang sebenernya tidak begitu penting, sehingga terasa melelahkan ketika membacanya. Bagian terbaik dari buku ini menurutku hanya bagian awal dan bagian akhirnya. Aku merasa lega ketika menuntaskan buku ini. 

Aku mohon maaf jika ulasanku ini kurang berkenan. Sepertinya aku bukan target pembaca novel ini. 

Detail Buku:
Judul Buku: The Immortalist
Penulis: Chloe Benjamin
Penerbit: Elex Media Komputindo
Desain Sampul: Erson
Tebal Buku: 372 hal
Tahun Rilis: 2018

~ oleh dewipuspasari pada Februari 13, 2025.

Tinggalkan komentar