Cemani dan Kinantan

Tidak mudah membuat karya fiksi baik puisi maupun cerita dalam batasan kata. Meskipun jumlah kata dibatasi maksimal 200 kata, namun tak sedikit karya yang memikat dalam buku berjudul Cemani dan Kinantan.
Cemani mengingatkanku pada ayam cemani yang bulunya semuanya berwarna hitam. Di sini aku baru tahu jika kebalikan cemani adalah kinantan atau putih semua.
Ya, benang merah dari karya 92 penulis dalam buku antologi ini adalah kata cemani dan/atau kinantan. Setiap karya memuat satu atau dua kata tersebut.
Adanya sejumlah batasan tak membuat penulis kesulitan menyampaikan imajinasi dan gagasannya. Semuanya mengalir dengan lantak, membawa sejumlah pesan dan membangun imajinasi di tiap kata dan kalimat
Salah satu bait puisi yang memikat adalah karya Eustakiaesti lewat puisinya berjudul Aku mengerti Setelah Engkau Tiada Bu. Berikut kutipan satu baitnya:
“Aku mengerti ibu tak lagi putih
Dengan kulit tubuh melegam, bekerja disengat baskara tanpa dendam, membesarkan kami, anak kejam dunia, yang runtun doamu mengubah wajah merah dosa kami jadi kinantan, dengan darasan doa penantian seorang ibu yang kesepian.”
Karya fiksi memang membuat benak berimajinasi. Setiap emosi dari penulis terasa mengalir di sini. Sambil membaca keseluruhan tulisan dalam buku ini aku membayangkan angsa berwarna kinantan dan cemani melakukan tarian sembari diiringi nomor Swan Lake dari Tchaikovsky.
Detail Buku:
Judul Buku: Cemani dan Kinantan
Penulis: Eustakiaesti, Nirvana Lions, Dewi Puspasari dkk
Penerbit: Ellunar Publisher
Genre: Fiksi, cerita mini dan puisi
Tebal: 98 halaman
Terbit: Desember 2023
