Kejadian-kejadian Unik Kualami, Dicurhati Sampai Diantar Taksi Gratis

Dulu aku sering mengalami hal-hal yang menurutku sulit kujelaskan. Kejadian tersebut bagi anak kosan yang duit terbatas tentunya menyenangkan. Namun, adakalanya membuatku kepikiran hingga sekarang.

Yang pertama sepertinya aku pernah cerita. Aku sering dicurhati orang asing atau orang-orang yang baru kukenal.

Di angkot seperti TransJakarta, kereta, atau angkot jaman dulu, biasanya aku tersenyum jika berpapasan mata dengan seseorang. Nah, dari situ kemudian muncul obrolan, dari perempuan sebaya denganku atau dengan ibu-ibu dan nenek. Eh ada juga sih mereka yang masih remaja juga langsung ngobrol banyak hal.

Cerita mereka macam-macam. Rata-rata mereka berbagi keluhan hidup, seperti ekonomi yang sulit, rumah tangga yang sedang konflik, atau hal-hal lainnya yang meresahkan mereka. Biasanya aku hanya mendengarkan dan sesekali berkomentar singkat.

Mereka hanya perlu didengarkan. Mungkin mereka hanya perlu teman curhat. Jadinya kudengarkan hingga ia atau aku yang turun lebih dahulu. Ketika kami berpisah, ia nampak berterima kasih kepadaku.

Sementara energiku terserap. Aku jadi lemas dan capek mendadak, meski hanya mendengarkan mereka curhat.

Dulu ada saja yang berkunjung ke meja kerjaku dan curhat. Kadang-kadang sambil minta tolong mengerjakan tugas anak-anaknya hahaha.

Jika aku sedang sengang, kuterima curhatan mereka dengan senang hati, sambil membaca ini itu karena masih jam kerja kantor. Tapi jika aku sedang sibuk, aku pun kewalahan. Pasalnya, mendengarkan curhat itu memerlukan energi.

Ada juga yang suka menelponku lama hanya untuk curhat. Ini melelahkan. Aku ingin menyudahi tapi aku kuatir yang kulakukan tidak sopan. Aku bersyukur jika koin atau pulsa mereka habis.

Kadang-kadang energiku tak cukup mendengarkan mereka. Akhirnya aku kabur, sembunyi dari meja kerjaku, bekerja di perpustakaan atau mematikan telpon. Aku juga perlu memulihkan energiku.

Nah yang kedua lumayan sering kualami adalah dapat gratisan selama naik kendaraan umum. Tiba-tiba bertemu tetangga atau saudara saat naik mikrolet, lalu dibayari. Ini beberapa kali kualami saat naik angkot jaman SMP, SMA, dan kuliah. Lumayan duit naik angkot jadi bisa kutabung.

Kadang-kadang ada juga orang yang duduk di sebelahku menawarkan makanan. Jika orangnya pria, suka kutolak baik-baik. Aku kuatir kalau makanannya ada apa-apa hehe. Tapi kalau ibu-ibu apalagi nenek-nenek, biasanya kuterima dan kuucapkan terima kasih.

Aku pernah ditraktir seorang ibu ketika naik kereta. Katanya ia ingat anaknya ketika melihatku. Duh aku sih senang-senang saja. Namun, ada kalanya aku bingung membalas kebaikan mereka karena tak pernah berjumpa lagi dengan mereka.

Ketika bekerja di media, aku sering mengalami hal-hal aneh. Pernah suatu kali angkot yang kami naiki mogok di jalan. Saat itu sudah pukul sembilan malam lebih. Akhirnya aku diajak beberapa orang dari angkot tersebut patungan naik taksi. Mungkin karena aku berpikiran positif, sehingga aman-aman saja sampai kosan. Aku juga tak pernah lagi bertemu mereka.

Saat di Lombok, aku pernah diajak bareng naik taksi oleh seorang ibu. Kebetulan tujuannya sama dan kami satu pesawat. Padahal aku tadi hanya menyapanya saat turun pesawat.

Begitu juga ketika aku turun di Sukarno Hatta, seorang nenek mengajakku pulang bareng. Ia dijemput cucunya yang sebaya denganku. Aku sih senang-senang saja. Padahal aku juga hanya ngobrol sebentar sebelum naik pesawat dari Surabaya dengan nenek tersebut, juga menemaninya saat turun pesawat.

Saat-saat seperti itu aku merasa sangat beruntung. Mungkin mereka malaikat yang menolongku. Keberuntunganku kemudian kuteruskan dengan mendengar curhatan orang-orang di sekitarku.

Yang membuatku terpikir hingga sekarang adalah pengemudi taksi yang menjemputku saat selesai liputan. Pengemudi tersebut sebelumnya mengantar aku ke narasumber.

Ketika aku selesai wawancara, asisten rumah tangga si narsum berkata sudah ada taksi yang menjemput. Aku bengong. Selain belum pesan, lembaran duit di tasku juga sudah tipis.

Eh si pengemudinya bilang kebetulan ia mau ke arah kantorku jadi tidak perlu bayar. Ketika aku diturunkan di depan lobi kantor, aku pun bengong. Aku juga tak pernah lagi berjumpa dengan pengemudi baik hati tersebut.

Ketika kupikirkan lagi hidupku, rasanya aku begitu banyak menuai keberuntungan selama ini. Mungkin itu rejeki dari mendengarkan curhatan orang-orang yang tak kukenal.

Gambar dari Pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Maret 7, 2025.

Tinggalkan komentar