Hari-hari Kelabu

Hari Jumat adalah hari kelabu buatku

Si abu mendadak sakaratul maut

Si Cemong tak terlihat sejak sahur

Mata si Creamy berdarah ketika menyusu

 

Saat itu tubuhku seperti kaku

Otakku seperti membeku

Tapi kemudian aku kembali bisa bernafas teratur

Si abu pun kupangku dan kuhibur

 

Cukup lama si abu sakaratul maut

Ketika akhirnya ia tak bernafas, air mataku pun jatuh

Kumandikan ia untuk kukubur

Mendadak induknya histeris dan melakukan sesuatu

 

Jasad si abu ia gendong dengan mulutnya

Mungkin Clara tak tahu anaknya sudah meninggal

Ia taruh anaknya lalu dijilatinya

Ia kemudian memandangku dengan nanar

 

Mata Creamy kubersihkan

Darahnya membuatku takut dan cemas

Kubawa ia ke klinik untuk pengobatan lanjutan

Ia akan menjalani operasi mata

 

Cemong hingga malam tak kunjung pulang

Kucari ia seusai tarawih dengan berkeliling gang

Aku melihatnya di kebon kosong gang sebelah

Ia tak mengenaliku dan malah lari ketakutan

 

Kebon itu penuh dengan pohon pisang

Semaknya lumayan tinggi dan rapat

Aku berjalan dengan senter penuh was-was

Takut ada binatang buas dan makhluk lainnya

 

Hingga Sabtu dan Minggu Cemong tak ketemu

Kabar buruk lainnya muncul

Orenji anak Clara yang hilang hari Sabtu

Ditemukan Clara sudah sakaratul

 

Oh nasibku sungguh buruk

Dua anak kucing meninggal beruntun

Cemong juga belum muncul

Aku merasa tak tahan dengan semua itu

 

Setiap hari aku mengunjungi kebon kosong itu

Kadang-kadang sehari dua kali, di sana aku diam menunggu

Kupanggil nama Cemong dan pus pus

Tapi ia tak lagi muncul

 

Apakah aku berhalusinasi hari itu

Apakah itu bukan Cemong, kucingku

Tapi, satpam memanggilku hari Minggu

Ia melihat Cemong di kebon kosong itu

 

Menangkap Cemong sungguh susahnya

Ia tak mengenaliku atau mungkin ia ketakutan

Ia tak pernah pergi jauh karena ia kucing rumahan

Tapi ia sudah tiga hari tak pulang, apa ia tak lapar

 

Hari ini aku makin bersusah hati

Sejak Jumat aku tak punya semangat lagi

Menulis rasanya hampa, aku hanya ingin menangis

Makan sahur dan buka hanya jajan dan kopi

 

Hari ini kutekadkan menemukan Cemong, kucingku 

Aku membersihkan rumah dan bersiap menjemput

Saat menjelang berbuka, aku pun ke kebun

Tapi ia gagal kutangkap, ia kabur

 

Usai tarawih, satpam memanggilku

Ia melihat si Cemong dengan wajah sayu

Rupanya ia lapar empat hari berlalu

Selama ini ia sembunyi di got saat hujan mengguyur

 

Kusiapkan makanan basah

Kutaruh di dekat persembunyiannya

Dengan sabar aku menunggu ia keluar

Sabar, bersabarlah, jangan gegabah

 

Ketika Cemong muncul dan mulai makan

Aku menahan nafas

Sabar, bersabarlah

Ketika ia mulai lengah, kutangkap

 

Kumasukkan ia ke dalam keranjang

Kubawa pelan-pelan agar tutup tak terbuka

Rasanya begitu jauh ke rumah

Ketika masuk ke dalam rumah, baru aku bernafas lega

 

Cemong akhirnya pulang juga

Sudah empat harian ia tak pulang

Tubuhnya jadi ringan dan aroma tubuhnya tak karuan

Ia yang tadi histeris, mulai tenang

 

Ia mulai mengenali kucing-kucing lainnya

Opal menyambut dan menjilatinya

Ia mulai makan dengan lahap

Ia memandangku, mulai mengingat

 

Empat hari ini terburuk bagiku

Aku malas makan saat buka dan sahur

Kehilangan dua anak kucing membuatku rapuh

Kini Cemong sudah kembali, aku mulai tersenyum

~ oleh dewipuspasari pada Maret 10, 2025.

Tinggalkan komentar