Pojok Baca dan Tatanan Baru Bandara Radin Inten II

Ketika kembali ke Jakarta dari Lampung dengan naik pesawat, rupanya ada sesuatu yang berbeda di Bandara Radin Inten II. Arus penumpang untuk masuk ke dalam diubah sehingga ada pengalaman baru. Gara-gara perubahan ini aku jadi memperhatikan isi rak Pojok Buku Digital.
Selama ini aku tak pernah naik ke lantai tiga bandara. Tapi karena ada perubahan arus penumpang masuk di mana penumpang dialihkan untuk naik turun ke lantai tiga dulu baru ke ruang tunggu, maka aku jadi memperhatikan lebih detail isi bandara. Ini juga gara-gara maskapai yang delay tiga jam. Fiiiuuh.
Di lantai tiga dulu seingatku adalah ruang tunggu VIP. Tapi kini dibuka jadi lalu lintas biasa. Di sini ada ruang duduk yang nyaman dan beberapa tenant makanan minuman, juga ada toilet. Nah di lantai dua bagian pojok aku baru memerhatikan ada mushola mungil dan toilet. Oh iya ada ruang anak-anak bermain seperti bandara pada umumnya.

Sebenernya rutenya jadi terkesan dipaksakan sih dan tidak nyaman. Kasihan penumpang yang buru-buru, bakal naik turun dulu. Anggap olah raga ya hahaha.
Kehadiran Pojok Baca Digital Harus Diapresiasi
Nah di ruang tunggu lantai dua ada pojok baca yang disebut Pojok Baca Digital. Sebenarnya sudah sering lihat sejak setahun terakhir ini, cuma sering datang ke bandara ini ngepas waktunya. Jadinya belum sempat eksplorasi, baru kali ini.
Ada rak buku, meja komputer dengan dua buah laptop, layar, dan deretan bangku. Sayangnya bagian ini sepi pengunjung.
Aku melihat deretan bukunya. Kebanyakan bukunya serius, tentang teknologi hasil pertanian, tentang peternakan dan lainnya. Juga banyak buku bergambar untuk anak-anak.
Uhmmm.. . siapa ya yang mengkurasi pojok baca ini ya? Desain tempat dan isi raknya, kecuali buku anak, kurang menarik bagi mereka yang menunggu di bandara.



Memang sih cara beternak dan bertani itu penting. Tapi kebanyakan penumpang pesawat ingin sesuatu yang sifatnya santai dan ringan. Buku-buku tentang pariwisata, majalah pariwisata dan gaya hidup, serta novel ringan, buku dengan ilustrasi, dan komik akan lebih menarik.
Aku pernah baca di novel ada pojok baca di bandara yang memperbolehkan penumpang membawa buku untuk dibaca di pesawat. Selanjutnya buku itu wajib dikembalikan ke bandara tujuan. Tapi sepertinya susah ya diterapkan di negeri ini meski konsepnya menarik. Isi raknya kebanyakan adalah novel yang populer sehingga rak bukunya laris. Menariknya penumpang juga boleh menyumbang buku di situ.
Setidaknya aku memberikan aplaus untuk pihak bandara yang menyediakan ruang baca. Gara-gara delay kelamaan aku tuntas membaca bacaan anak di sini dan kemudian tuntas juga membaca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami.

