Jalan Tak Ada Ujung, Cerita Kegelisahan dan Ketakutan Pejuang

 

Jalan Tak Ada Ujung

Suasana peperangan dengan dentuman bom dan tembakan senjata membuat para warga sipil selalu dirayapi oleh rasa ketakutan. Lantas bagaimana dengan perasaan yang dialami oleh para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan? Kisah Guru Isa yang dituntut menjadi bagian gerakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan disampaikan dalam novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung.

Kegelisahan guru Isa seperti jalan tak ada ujung. Istrinya, Fatimah, sering mengeluh beras habis dan utang menumpuk.

Meski Isa bekerja sebagai guru, gajinya rasanya tak pernah cukup untuk membiayai kebutuhannya di mana harga sembako makin mahal. Selain itu murid-muridnya makin jarang yang ke sekolah karena situasi kota yang makin pelik dan tegang. Hal ini membuatnya kurang bersemangat untuk datang ke sekolah.

Saat berangkat ke sekolah untuk mengajar suatu hari, ada berondong tembakan dari pasukan Ghurka. Isa sangat ketakutan, apalagi sudah ada korban nyawa. Ketika sampai di sekolah, rupanya tak ada muridnya yang datang.

Kegelisahan Isa makin sering dan bertambah ketika ia masuk sebagai penasihat pejuang di lingkungan tempat tinggalnya. Ia juga makin terlibat dalam gerakan organisasi pejuang setelah berkawan dengan Hazil yang sama-sama menyukai biola. Sejak itu ia makin sering bermimpi buruk.

Cerita Perang Kota dari Warga Biasa
Isa adalah orang biasa. Ia seorang guru sekolah yang sebenarnya punya cita-cita sederhana. Ia hanya ingin hidup damai bersama anak istrinya serta hidup berkecukupan.

Tapi masa perang tidak bisa memberinya kemewahan itu. Masa Agresi Militer Belanda digambarkan dalam buku ini lebih kejam dan lebih menegangkan dibandingkan masa penjajahan karena Belanda berkomplot dengan serdadu sekutu dan tentara Ghurka yang ganas.

Mereka yang disebut warga sebagai ubel-ubel itu sering membunuh warga sipil yang dianggap pemberontak hanya karena mereka lari ketakutan. Korbannya tak jarang anak-anak dan orang biasa.

Isa digambarkan peragu dan mudah gelisah, karakternya manusiawi. Hal ini berkebalikan dengan Hazil yang di awal nampak penuh semangat dan pemberani. Tapi pembaca kemudian diperlihatkan dengan perkembangab karakter masing-masing tokoh, terutama Hazil dan Isa.

Dibandingkan novel dengan latar peperangan mungkin cerita dalam novel ini tidaklah wah. Ceritanya relatif datar dan temponya juga lambat.

Meski demikian, pembaca bisa melihat bagaimana Isa mewakili rakyat kebanyakan melihat situasi menegangkan pada saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Dalam novel ini juga terlihat bagaimana ada saja orang-orang yang menyebut dirinya pejuang yang lebih menakutkan daripada bangsa Belanda dan sekutunya. Mereka bisa langsung membunuh dengan kejam orang-orang yang diduga mata-mata dan berbuat seenaknya ke warga biasa.

Seperti jalan tak ada ujung, Mochtar Lubis menggambarkan situasi yang seperti tak ada solusinya. Mengungsi dari Jakarta seperti bukan jawaban karena di mana-mana situasi peperangan juga menakutkan.

Detail Buku:
Judul: Jalan Tak Ada Ujung
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tebal Buku: 167 halaman

Gambar milik iPusnas

~ oleh dewipuspasari pada Mei 7, 2025.

Tinggalkan komentar