Suara-suara

Rumah laura

Suara-suara itu membuatku sulit memejamkan mata. Ia sepertinya memang minta diperhatikan. Darimana suara itu, dari lantai di atasku kah? Suara-suara menggeser perabot yang tak kunjung usai hingga tengah malam.

Hari itu sebenarnya hari yang kutunggu. Aku tak sabar untuk bermalasan di sebuah penginapan. Apalagi jika melihat gambar-gambar penginapannya yang berlatar pegunungan. Aku ingin menyepi dan rehat sejenak setelah otakku panas belakangan.

Dan aku tak kecewa. Kamarnya memang cukup bagus. Lapang, tak banyak perabot. Posisi balkon menghadap langsung panorama pegunungan. Dari kasur juga terlihat si pegunungan samar-samar. Wah rasanya bakal asyik jika sore dan pagi aku duduk-duduk ngopi di balkon menikmati hawa segar.

Hanya keberadaan dua cermin besar membuatku tak nyaman. Satu di dekat lemari, menuju pintu ke luar. Penempatan yang memang biasa di sebuah hotel, tapi biasanya posisinya tak persis langsung berhadapan dengan kamar mandi.

Satunya lagi sebuah meja kerja atau meja rias yang memiliki cermin besar dan berhadapan dengan jendela tempat balkon. Tak ada lagi meja lain. Sepertinya mau tak mau aku nanti memerlukan meja itu untuk mengerjakan lay out majalah.

Ah aku ke sini untuk bersantai. Seharusnya. Tapi memang masih ada beban menyelesaikan majalah. Aku tak dibayar untuk itu, aku hanya menyukainya dan merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.

Kasur yang empuk, pemandangan bagus dan kanal saluran teve ini itu. Aku jadi ingin bermalasan. Dimulai dari duduk santai di balkon. Nonton film HBO, dan mendidihkan air untuk ngupi dan menyantap jajanan.

Inilah liburan. Tak perlu jauh-jauh. Sejenak saja pergi ke tempat yang jauh dari kebisingan Jakarta. Aku tak direpotkan dengan mengurus kucing-kucing. Kupercayakan ke pak satpam sementara dengan stok beberapa bungkus makanan kucing basah dan kering.

Hampir aku terlelap ketika menyadari suara yang menggangguku. Kata pasangan, dinding kamar di hotel kurang bagus dan kurang kedap sehingga suara dari lantai atas atau kamar samping bisa terdengar. Aku mengernyit ketika ia membaca sebuah ulasan. Kupikir hotel ini cukup kokoh.

Itu suara seperti menyeret-nyeret perabotan. Seperti menggeser perabot berat, semacam kursi di balkon yang berat, bangku meja, dan nakas. Kalau tempat tidur rasanya janggal, kecuali mungkin mereka mencoba menyatukan dua kamar tidur jadi satu. Lalu terdengar tapak kaki berlarian. Dug dug dug.

Ya, pasti itu anak-anak mereka, suara kamar di atas memang tembus, pasangan menenangkanku. Aku mencoba tak menggubrisnya, meski sudah ada tanda tanya besar di benak.

Ini aneh, rasanya sudah aneh.

Ketika kemudian ke kamar mandi, aku merasa tak nyaman. Kubuka pintu kamar mandi. Ah langsung menghadap cermin. Aku jadi makin tak nyaman. Perasaan tak nyaman di kamar mandi ini seperti yang pernah kurasakan ketika menginap di hotel Yogya sendirian. Eh tak sekali. Seingatku malah dua kali. Perasaan ini yang membuatku was-was. Padahal ada bath up dan aku ingin memanjakan diri dengan berendam air hangat.

Berendam tetap kulakukan. Sayang fasilitas ini disia-siakan hehehe. Pintu kamar mandi pun kubuka sebagian.

Usai sholat Maghrib, aku mulai mengerjakan lay out. Ya aku terpaksa menggunakan meja bercermin itu. Aku mencoba tak melihat cermin. Aku tak nyaman jika melihat jendela yang sudah ditutup gorden.

Aku hampir frustasi mengerjakan tugasku. Laju internet kembang kempis, padahal aku perlu akses internet stabil untuk mengedit, mencari foto dan gambar, serta menatanya.

Lalu suara yang tak kuhiraukan itu mulai kembali kudengarkan. Masih seperti tadi. Suara benda berat yang digeser. Seperti mereka yang tengah sibuk memindahkan ini dan itu. Lagi-lagi pasangan berdalih siapa tahu itu mereka yang menggeser kursi di ruang makan yang berjarak dua kamar dari tempatku. Tapi kenapa suara teve, percakapan penghuni tak tembus, hanya suara geser-menggeser ini saja.

Aku makin sadar ini tak beres. Aku mulai berdoa dengan serius agar kami tak diganggu. Kami berdua tak begitu jahat, hanya kadang-kadang menyebalkan jika sedang PMS.

Setelah makan siang di luar aku kembali mengerjakan tugasku. Seharusnya sudah selesai lebih cepat tapi karena akses internet yang lambat dan sinyal yang tak bagus, hingga jam 22 tak kunjung selesai.

Aku lelah. Tujuanku ke sini sebenarnya untuk berlibur. Sudah beberapa hari aku begadang. Aku hanya ingin berlibur dab beristirahat.

Suara itu semakin terdengar. Sumber suaranya semakin sporadis. Kadang-kadang aku merasa seperti di kamar samping, kadang di kamar atas.

Tadi sebelum matahari terbenam aku iseng-iseng memerhatikan tetangga kamarku. Aku limapuluh persen yakin kiri kanan kamarku tak berpenghuni.

Dulu aku juga pernah menginap di hotel yang kurang kedap. Aku bisa mendengar flush toilet, derai tawa dan sayup-sayup suara teve. Tapi di sini yang kudengar hanya suara geser-menggeser perabot yang tak kunjung selesai dan kadang-kadang suara tapak kaki berlarian. Lalu ada bunyi lainnya yang lebih keras. Seperti sesuatu yang berat beradu dengan tembok. Ini membuatku terkejut. Aku melihat pasangan sudah tidur. Kubangunkan. Aku takut, kataku. Apalagi ketika aku mendengar seperti suara kerikil menyentuh kaca jendela. Ini bisa seperti kejadian waktu di Lombok itu, aku tak mau mengalaminya lagi.

Hingga jam satu dinihari suara-suara itu masih terdengar. Rupanya tak hanya aku. Ada beberapa tamu yang juga pernah mengalaminya ketika kugoogling.

Alhasil baru sekitar jam 2an aku tertidur. Aku bangun dengan lesu. Lalu kami memutuskan jalan-jalan keliling hotel usai mandi dan sarapan.

Hotel ini indah dan asri. Panoramanya hijau. Lokasinya tak begitu ramai, enak untuk menyepi.

Sayangnya tak begitu dengan situasi di kamarnya. Suara-suara itu mengacaukannya. Baru masuk lagi di kamar sudah disambut lagi dengan suara itu.

Ah aku pun segera berkemas. Kami membatalkan rencana kami untuk perpanjang. Mending kami pulang daripada terus berada di penginapan seram ini. 

Setiba di rumah kucing-kucing sudah baris menyambut. Duh rumah dan halaman kotor berantakan, tapi aku kangen mereka.

Setelah beres-beres seadanya aku terlelap. Dan kali ini pulas. Bangun-bangun tubuhku kembali segar. Ah rumah tetap yang terbaik untuk beristirahat.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 1, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: