Kucing Liar Itu Tersenyum

Seekor kucing liar yang tua dan sakit-sakitan datang ke rumah. Kucing-kucing rumah menjauhinya karena takut tertular. Aku kuatir Pang menjauh karena si kucing tua. Namun, aku tak bisa mengusirnya karena ia nampak malang.
Si kucing tua tiap hari main ke rumah. Makannya banyak. Sepertinya rasa sakit tak menghalanginya untuk makan. Jika diperhatikan ia nampak lebih kuat dan penampilannya lebih bersihan daripada kali pertama ia datang.
Suatu ketika ia meminta dimanja. Ia sepertinya tak pernah punya teman manusia. Ia memandang iri kucing-kucingku yang kuelus dan kusayang. Ia pun mendekat.
Kucoba mengelusnya. Bulunya kasar, kusam, dan banyak yang rontok. Ia nampak kegirangan.
Ketika si kucing kufoto asal-asalan, aku tersenyum melihat hasilnya. Ia nampak tersenyum senang.
Aku masih berharap Pang pulang. Sangat. Moga-moga ia pergi bukan karena keberadaan si kucing tua.
Aku tak bisa mengusir si kucing tua karena aku juga tak tahu alamat asalnya. Ia seperti kucing tua yang lelah berjalan.ia hanya berharap kasih sayang dan cukup makanan yang mungkin dulu susah bahkan tak teraih olehnya.
