Suatu Ketika Bersama Collective Soul

Ada masa ketika aku menyukai lagu-lagu Collective Soul. Seseorang meminjamkan sebuah album kaset kepadaku. Album kaset Collective Soul. Judulnya Disciplined Breakdown.

Tulisanku sebelumnya tentang Collective Soul mungkin sedikit kuralat. Ketika kudengarkan lagi album Disciplined Breakdown dan kubandingkan dengan tiga album lainnya, rupanya album ini sama kusuka seperti album-album Collective Soul lainnya. Ada banyak tembang Ed Roland dkk di sini yang kusukai. Mendengarnya lagi membuat pikiranku berkelana ke masa-masa remaja yang menyenangkan.

Dulu salah satu kegiatan yang menyenangkan yakni bertukar barang. Saling pinjam buku atau kaset. Modalnya adalah kepercayaan. Kadang-kadang banyak yang nakal dan buku plus kasetnya tak kembali. Mereka yang ‘nakal’ tak pernah lagi masuk lingkaran pertemanan dekatku.

Aku benar-benar lupa siapa yang meminjamkan kaset Collective Soul ini. Kawan-kawanku jarang yang suka ataupun kenal dengan band asal Georgia ini. Jadi sepertinya kawan kakakku yang setia meminjamkan keempat album kaset Collective Soul.

Lagu dalam Disciplined Breakdown ini variatif. Tema dan nuansa yang kudapat ketika mendengar satu-persatu tembangnya berbeda-beda. Lagu dan liriknya semakin matang.

Ada 12 tembang yang masuk dalam album yang dirilis di bawah label Atlantic Record pada tahun 1997. Tiga di antaranya memiliki video musik dan waktu itu diputar di MTV, yakni Precious Declaration, Blame dan Listen.

Tembang-tembang favoritku dalam album ini Precious Declaration, Disciplined Breakdown, Blame, Listen, dan In Between, melengkapi tembang favoritku album sebelumnya, Shine, December, dan The World I Know dari dua album yang dirilis tahun 1993 dan 1995.

Kubahas satu-persatu ya lagu favoritku dalam album yang dirilis ketika Collective Soul dalam kondisi susah ini.

In Between  memiliki iringan gitar yang indah dan melodius. Musiknya jika didengar seperti berlapis-lapis membuatku seperti berpetualang ke sebuah negeri dongeng. Lagu ini membuatku teringat adegan sebuah game petualangan ala Spica, game Jackie Chan dari NES ketika di negeri awan. Sayangnya tembang ini tak memiliki video musik.

In Between bukanlah lagu cinta, lagu ini tentang hal-hal yang kita temui sehari-hari dalam kehidupan. Tentang hal baik dan buruk, apakah ada dikotomi yang jelas dan bisa dihindari dengan mudah? Lirik yang diciptakan oleh Ed Roland lugas dan kaya pesan humanisme. Masih banyak yang takut untuk bersuara untuk kebenaran, masih ada yang harus meratap dan memohon untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya merupakan haknya. Dan, masih banyak yang menggunakan cinta dan benci untuk memecah-belah. Berikut potongan liriknya.

In between us
Good and evil wait
To lie beside us
In our bed we make

In between us
Caution never heeds
We prey on weakness
Then beg for sympathy

In between words
Silence parades so confusion is heard
Our voices afraid
To speak up and reassure
So in between words we remain
In between

Disciplined Breakdown memiliki kombinasi musik yang unik. Line bas-nya memberikan aksen pada tembang ini. Iringan gitarnya cukup cadas. Lagu ini seperti menggambarkan kegelisahan dan hal-hal yang menganggu pikiran.

I never ever can decipher
Who listens to the words I say
While I sense I’m searching
I never know who’s lurking
To scare my sacred thoughts away
I’d love to hang and chat a while
But my mind’s become vile
It seems I’m losing ground
Welcome all to my disciplined breakdown

Sedangkan Precious Declaration memiliki musik yang energik. Dengan dua formasi dua gitar, musiknya jadi kaya. Riff gitar yang dimainkan Ross Childress dan Dean Roland asyik dinikmati. Gebukan drumnya yang ditampilkan Shane Evans juga mantap. Dentuman basnya oleh Will Turpin juga memberikan line dalam beberapa bagian lagu ini. Lagu ini cocok menjadi tembang unggulan album ini.

Aku suka video musik Precious Declaration yang banyak menampilkan aksi tiap personel band. Lagu ini juga bukan tentang cinta. Hehehe tembang-tembang Collective Soul memang bukan hanya tentang romansa, tapi lebih banyak tentang hal-hal yang ditemui dalam kehidupan. Lagu ini berisikan tentang harapan dan tekad untuk meraihnya.

New meanings to the words I feed upon
Wake within my veins elements of freedom
Can’t break now I’ve been living for this
Won’t break now I’m cleansed with hopefulness

Precious declaration says
Yours is yours and mine you leave alone now
Precious declaration says
I believe all hope is dead no longer

Lagu Listen lebih berwarna dan ringan dengan video klip yang cerah dengan dominan warna kuning dan jingga. Namun makna dalam lagu ini rupanya cukup serius. Lagu ini mengingatkan untuk membuka mata dan telinga terhadap nasihat kebaikan. Lirik lagu ini juga diciptakan oleh Ed Roland, si vokalis.

Dalam tembang ini, si lead guitar, Ross Childress, mendapat jatah untuk beraksi secara solo. Melihat video klip ini aku jadi sedih mengingat Ross Childress kemudian mengundurkan diri dari band ini sejak tahun 2001.

Hey why can’t you listen
Hey why can’t you hear
Hey why can’t you listen
As love screams everywhere

Hey you now hunger
Feeding your mind with selfishness
Hey you now wander
Aimlessly around your consciousness
Your prophecies fail
And your thoughts become weak
Silence creates necessity
You’re clothing yourself
In the shields of despair
Your courage now impaired

Sedangkan Blame memiliki video klip berupa sirkus. Tone video klipnya-nya lebih gelap. Lagu ini dibuka dengan intro gitar akustik yang menghanyutkan. Tembang ini membahas tentang keberanian mengakui kesalahan dan tidak ada gunanya menyalahkan seseorang untuk tujuan menjatuhkannya. Kebenaran tidak ada sangkut-pautnya dengan kemarahan yang membabi buta.

When you’re willing to render
To the guilt you concede
When truth is your reason
Then lay that blame on me
When you unveil a conscience
And with peace you agree
When love is your constant
Then lay that blame on me

Pada album ini mereka masih kompak dengan formasi awal. Ada Ed Roland, si penulis lirik, vokalis, dan juga bermain gitar. Shane Evans mengisi drum, Ross Childress di posisi lead guitar dan backing vocals, Dean Roland  memainkan gitar, dan Will Turpin memegang bas dan backing vocal. Kini tinggal tiga personel yang masih eksis di Collective Soul saat ini, dua bersaudara Roland dan Will Turpin.

Gambar dari 1 | 2 | 3

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 15, 2018.

4 Tanggapan to “Suatu Ketika Bersama Collective Soul”

  1. Kalau saya hanya tahu satu lagu, yaitu “Run”…

  2. Lagu2nya berkesan bnget di hati Mbak ya?
    Sy mlah baru tahu klau ad grup musik CS ini 😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: