Kopi dan “1984”

Kopi

Indonesia adalah surga kopi. Rasanya kita tak bakal kekurangan kopi karena setiap daerah menghasilkan kopi khas yang sedap. Coba cicip kopi Aceh dan kopi Toraja, tentu beda dengan kopi Lampung dan kopi Malang.

Itulah yang membuat petualangan rasa kopi Indonesia tak pernah membosankan. Setiap daerah memiliki harta karun kopi dengan aroma dan rasanya yang khas.

Namun, sayangnya Winston dalam dunia “1984” tak pernah merasai kopi yang sedap. Setiap hari ia mendapatkan jatah kopi yang berbau, mungkin aroma dan rasanya seperti logam dan arang. Intinya kopinya tak sedap.

Gulanya pun tak pernah gula betulan. Melainkan, gula sachetan berupa gula sakarin.

Oleh karena itu ketika kekasihnya, Julia, diam-diam membawakan kopi bubuk dengan aroma yang sedap serta gula pasir, ia merasa terharu. Ia seperti berasa dalam dunia mimpi karena terasa tak nyata.

Dalam bab empat bagian kedua ini Winston mulai merasa dirinya menantang maut dengan berani berkencan, meski sembunyi-sembunyi. Di dunianya yang keras dan serba terkontrol, ini adalah sebuah pemberontakan. Namun, sampai kapan ia dan Julia bisa menghindar?

~ oleh dewipuspasari pada Januari 22, 2026.

Tinggalkan komentar