Konser, Kenangan, dan Perpisahan

Empat tahun terakhir ada keajaiban terjadi padaku berkaitan dengan dunia musik. Ya, dulu aku lebih dikenal sebagai pecinta musik daripada penggemar film. Aku juga lebih sering dengar dan nonton acara musik daripada film dulu. Nah, empat tahun terakhir aku bersyukur bisa menyaksikan beberapa band yang lagunya kusukai.
Slipknot yang Membuatku Tertawa
Kejutan pertama tentu datang dari band asal Iowa. Rasanya seperti bermimpi bisa mendapatkan tiket konser mereka. Meski tertunda beberapa tahun karena pandemi, akhirnya aku bisa menyaksikan band yang lagunya menohokku sejak masih SMA. Brutal, lagunya brutal dan cadas, tapi entah kenapa juga bikin tertawa. Mungkin karena beberapa personelnya sebenarnya humoris sehingga aku suka tertawa jika mengingat Slipknot.
Lagu-lagu mereka sering kudengar di kantor jika aku buntu ide atau dikejar tenggat waktu. Berlari dengar musik mereka juga asyik.
Lagu Slipknot yang masih rajin kudengar banyak. Ada Duality, Eyeless, Wait and Bleed, Vermillion, Spit It Out, (sic), Surfacing, Purity, Scissors, Diluted, Prosthetics, Tattered & Torn, Gehenna, Gently, A Liar’s Funeral, Spiders, Skin Ticket, dan masih banyak lagi. Aku dulu memang ngefans banget dengan band satu ini hahaha.

Ada salah satu penonton yang bilang kepadaku, nonton Slipknot itu ibarat pergi ke tanah suci bagi penggemar metal. Belum lengkap dan belum afdol jadi metal head jika belum nonton konser Slipknot.
Ketika akhirnya aku bisa menonton Slipknot rasanya senang sekali. Menurutku itu pengalaman konser yang sungguh berkesan.
Sebelum pandemi ada beberapa konser yang pernah kutonton dan menyenangkan. Ada Mr Big, The Cranberries, Linkin’ Park, dan The Used. Pada masa itu aku belum berani nonton konser di Ancol atau tempat lain sendirian hingga pulang tengah malam. Tapi kini karena menurutku cukup aman dan beberapa komunitas yang suka ngajak nonton konser bareng, termasuk yang anggotanya sesama perempuan, aku jadi lebih berani. Kapan lagi mereka datang.
Selama konser Slipknot, ada satu band yang menurutku aksi panggungnya epik. Namanya adalah Batuskha, band black metal asal Polandia. Mendengar dan menyaksikan aksi panggung mereka seperti aku diajak mengikuti ritual keagamaan kuno. Kustom dan properti mereka luar biasa. Sayangnya mereka tampil pukul 17.00. Coba kalau tengah malam, bakal lebih epik.

Setelah mereka aku menonton banyak konser. Waktu itu aku mengikuti berbagai komunitas yang suka nonton konser, sehingga tahu info konser yang akan datang. Senangnya sebagian adalah band yang sejak dulu ingin kutonton.
BMTH yang Rusuh dan Kolab Manis dengan Babymetal
Setelah Slipknot, ada Bring Me the Horizon (BMTH) di mana aku menyaksikan aksi mereka dua kali. Kali pertama berlangsung rusuh karena BMTH hanya memainkan separuh set lagu. Tempat dan fasilitas konser tak sesuai harapan mereka.
Kali kedua mereka berkolaborasi dengan Babymetal, band unik asal Jepang. Saat itu aku juga lagi sering sekali mendengar lagu-lagu seperti Parasite Eve, Shadow Moses, dan Kingslayer. Lagu gim mereka begitu ajib.
Konser kedua berlangsung aman dan sukses. Bagian terbaik adalah ketika mereka memainkan Parasite Eve dengan gaya seperti bermain gim. Kemudian ada Shadow Moses yang menurutku adalah lagu terbaik BMTH.
Nah, kolab aksi panggung Kingslayer ini seperti yang kuharapkan ketika mendengar lagu ini kali pertama. Duet yang aneh ketika didengar kali pertama, tapi kemudian jadi asyik didengar berulang kali. Aku langsung minggir ke tepi karena penonton mudah ‘panas’ selama konser BMTH.

Band Lawas, Hoobastank, The Corrs, dan Suede yang Membuat Bernostalgia
Ada band dan penyanyi lawas seperti Frente, The Red Jumpsuit Apparatus, Steelheart, Ronan Keating, Do As Infinity, dan Amy Search yang ingin kutonton. Ketika menonton aksi mereka, jadi bernostalgia masa-masa kecil yang lebih tenang dan damai.

Band yang kemudian tampil dan membuatku terharu ketika mereka tampil adalah Hoobastank. Dulu aku sering sekali mendengar lagu-lagu mereka seperti What Happened to Us, The Reason, Crawling in the Dark, dan Out of Control. Ketika lagu ini dinyanyikan, aku jadi merasa kembali seperti remaja.

Demikian juga ketika Suede dan The Corrs hadir. Lagu-lagu instrumental The Corrs tak pernah gagal. Penampilan mereka saat memainkan biola dan berbagai alat musik Irlandia begitu berkesan seperti pesta rakyat. Demikian juga ketika lagu Beautiful Ones, She’s in Fashion, Everything will Flow, dan Saturday Night dari Suede mengalun. Bukankah lagu ini sering menemaniku dulu ketika aku masih jadi kuli tinta?!
A1 dan Coldplay Membuatku Ikut Menari
Oh iya ada masa ketika aku menyukai lagu-lagu A1. Suatu ketika aku jadi terus-terusan mendengar lagu A1 seperti Same Old Brand New You, Caught in the Middle, dan Take on Me (cover). Ketika mendengar mereka tampil, aku jadi senang sekali.
Aku langsung berlari ke barisan yang cukup depan dan ikut menirukan gerakan mereka menari saat menyanyikan Take on Me. Hehehhe seru juga, teman-teman mungkin jarang yang tahu aku juga suka lagu-lagu dari boyband dan girlband masa lampau.

Demikian juga ketika nonton Coldplay di Singapura. Aku senang sekali ketika Chris Martin mengajak penonton fokus pada lagu bukan pada hape. Kami diajak menari sambil memandang langit ketika lagu A Sky Full of Star. Bagian ini jadi momen paling berkesan selama konser.
Berpisah dengan Mew
Namun, ada satu konser yang membuatmu terharu hingga ingin menangis, usai menonton aksi mereka. Itu adalah pengalaman yang sungguh emosional ketika menyaksikan konser perpisahan Mew.

Aku sudah mendengar Mew sejak tahun 2008-2009. Lagu-lagu mereka seperti 156, The Zookeeper’s Boy, Am I Wry? No, Comforting Sound, She Spider, She Came Home for Christmas, Circuitry of the Wolf, dan Chinaberry Tree masih sering kudengar hingga sekarang.
Ketika tembang instrumental Circuitry of the Wolf dimainkan, aku senang sekali. Ini lagu yang selalu membuatku membayangkan sekelompok serigala yang berpacu di daratan bersalju.

Ketika lagu terakhir Comforting Sound ditampilkan, aku hanya diam berdiri di tengah hiruk-pikuk penonton. Aku hanya mendengar dan tiba-tiba rasa haru menyelimuti. Aku jadi ingin menangis tapi kutahan.
Ehm mereka bakal tak tampil lagi dan tak bermusik lagi. Kenyataan itu membuatku sedih. Betapa banyak karya fiksi yang kuhasilkan sambil ditemani lagu-lagu mereka.
Setelah Mew, aku belum tertarik menyaksikan konser apapun. Aku seperti berpisah dengan sahabat lamaku.
Gambar: dokpri, Lalafest, Hammersonic, Everlasting, 90s Festival
