“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Untuk masyarakat Papua yang masih menjaga sagu sebagai salah satu sumber pangan tertua di Nusantara.” — Ahmad Arif

Apakah kalian pernah menyantap makanan dari sagu? Yang kumaksud di sini adalah sagu dari tanaman sagu, bukan tepung tapioka yang belakangan kerap disebut sebagai sagu.

Dalam satu dekade terakhir, terjadi pergeseran makna. Entah sejak kapan, tepung tapioka yang berasal dari singkong, sering dimaknai sebagai tepung sagu.

Pergeseran ini membuatku bingung. Apalagi, banyak resep masakan masa kini menyebutkan sagu, padahal yang digunakan ternyata tapioka. Sagu seolah kehilangan identitas, seiring dengan kehadirannya yang semakin terpinggirkan.

Bubur Sagu Buatan Ibu
Membaca buku ini membawaku kembali ke masa kecil di kampung halaman. Ibu dulu sering memasak bubur sagu dengan santan. Ia membeli lempengan sagu kecokelatan. Ketika bercampur air mendidih, lempengan tersebut perlahan larut dan menghasilkan bubur yang kental kecokelatan.

Ibu menambahkan gula dan sedikit garam. Bubur tersebut kemudian disajikan dalam piring, dengan siraman santan agak asin di atasnya. Rasanya khas, gurih, manis, dan memiliki aroma asap yang sampai sekarang masih lekat di benakku.

Sayangnya, lempengan sagu seperti itu kini makin jarang dijumpai. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, aku masih bisa membayangkan aroma asap dan rasa gurih, manis bubur tersebut.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Mungkin karena aku punya kenangan manis akan sagu, aku langsung tertarik membaca buku ini.

Tentang Apa Sih Buku Ini?
Buku “Sagu Papua untuk Dunia” ditulis oleh Ahmad Arif, jurnalis senior yang lama menaruh perhatian pada isu pangan lokal dan ketahanan pangan. Buku ini merupakan bagian dari “Seri Pangan Nusantara”, bersama buku lain tentang sorgum dan sukun.

Dalam buku setebal 208 halaman ini, ia membagi bahasannya menjadi lima bab. Dimulai dari Tanah Asal Sagu, Sagu adalah Ibu, Lapar di Kampung Ibu, Sumber Pangan Masa Depan, dan Sagu Papua untuk Dunia. Dari pembagian bab ini, bahasan sagu tak lagi sekadar soal pangan, melainkan juga soal sejarah, kebijakan pangan, dan keberlanjutan hidup masyarakat Papua.

Dibandingkan buku-buku seri Pangan Nusantara lainnya, buku ini lebih kaya visual. Buku ini dilengkapi foto-foto dan ilustrasi tumbuhan sagu, proses pengolahan sagu, dan kehidupan masyarakat yang menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Sagu dan Ketahanan Pangan Papua
Tanaman sagu (Metroxylon sp.) telah lama dikenal sebagai sumber pangan pokok di Papua dan wilayah Indonesia Timur lainnya. Papeda, yang terbuat dari pati sagu, tak bisa dilepaskan dari identitas pangan lokal Papua.

Namun, sejak adanya swasembada beras dan pembukaan sawah besar-besaran, sagu perlahan tersingkir. Ia seolah-olah turun kelas, sekadar sebagai makanan pelengkap.

Tanaman sagu terdesak, sementara masyarakat dipaksa mengikuti satu pola pangan nasional, yaitu beras. Padahal, jauh sebelum itu, orang Papua telah mengenal ketahanan pangan melalui sagu.

Sagu, Sorgum, dan Sukun: Mana yang Paling Tua?
Dalam buku ini, Ahmad Arif menyebut sagu sebagai salah satu pangan tertua yang dikonsumsi manusia modern di Nusantara. Ketika aku menanyakan perihal ini di grup percakapan, mana yang lebih tua antara sagu, sorgum, dan sukun, ia dengan tegas menjawab sagu.

Sagu tanaman endemik Indonesia yang sudah ada jutaan tahun lalu sebelum Homo sapiens datang ke negeri ini, ujarnya. Sedangkan sorgum tanaman asli Afrika, dibawa masuk ke Indonesia di era perdagangan Arab-India.

Sementara sukun baru ada sekitar 5000 tahun lalu. Leluhur sukun adalah keluwih yang asalnya dari Maluku dan Papua, kemudian didomestifikasi dan disebarkan oleh leluhur Austronesia, pungkasnya.

Sebaran sagu ini menarik diselami. Oleh karena sagu pada abad ke-13 juga dijumpai di Jawa dan Sumatra, tak hanya di Papua dan Maluku. Catatan Marco Polo menyebutkan keberadaan sagu di Barus.

Sedangkan Prasasti Talang Tuo dari abad ke-7 menyebutkan bahwa Taman Srīksetra yang dibuat Raja Sriwijaya memiliki tanaman sagu selain kelapa, aren, bambu, pinang, dan pisang. Disebutkan dalam buku ini pempek hingga 1980-an berbahan baku pati sagu.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Di Jawa, sagu juga jadi sumber pangan. Sagu bersama lontar, nyiur, dan aren terukir di relief Candi Borobudur. Jejak sagu muncul dalam kue horog-horog dan sagon.

Asal kata sagu yang berarti pati juga disebut berasal dari bahasa Jawa. Sagu ini mirip dengan sangu yang berarti nasi di Jawa Barat, juga sega di Jawa.

Masyarakat Kalimantan juga punya varian tanaman sagu, yang dulu juga jadi sumber pangan. Variannya berbeda dengan yang umum dijumpai di Papua. Di Sulawesi, varian sagu juga masih bisa ditemui

Mengenal Sagu dan Olahannya
Sagu merupakan pati yang diambil dari batang pohon sagu. Pati berbeda dengan tepung. Pati merujuk pada saripati tanaman yang diperoleh melalui proses penyaringan dan pengendapan. Sedangkan tepung adalah hasil penggilingan bahan pangan secara lebih utuh.

Indonesia sendiri kaya akan sumber pati: ada pati sagu, pati aren, pati lontar, pati nibung, dan masih banyak lagi.

Masyarakat Papua mengolah sagu dengan menokok. Ada sagu basah dan sagu lempeng bakar yang berwarna putih kecokelatan.

Sagu ini selain diolah jadi papeda, juga bisa dijadikan kue dan makanan lainnya seperti sagu gula merah, sagu apatar, puding sagu buah merah, bubur kacang sagu, buburnee, bagea kenari, sinorli, akar bilang, kapurung, dange, jalaure, ongol-ongol, cakko-cakko, cendol, jela, ilabulo, kokole, ilepao, duwo dilepao untuk Papua, Maluku, NTT, dan Sulawesi.

Di tempat lain sagu diolah jadi bubur gunting, pupudak sagu, amparan tatak sagu, mie geser, mie leor, horog-horog, sagu rangi, sagu goreng, talam jagung, kericu, sagu rendang, sagu lemak, stik sagu, pempek, tekwan, kipo, kue satu, kirain sagu, mie goreng sagu, global sagu, kendor, krenas, mie tarempa, laksa sagu, pinere, lompong sagu, mie laksa, timpan sagu, dan lempeng ubi kayu.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Wah banyak juga ya makanan berbahan sagu di berbagai daerah di Indonesia. Daftar makanan ini belum tentu lengkap, tapi cukup menunjukkan bahwa sagu bisa diolah berbagai jenis makanan lezat

Hutan Sagu dan Habitat Flora Fauna
Pada pohon sagu yang telah ditebang beberapa minggu, akan hidup larva kumbang yang dikenal sebagai ulat sagu, serta jamur yang dapat dikonsumsi. Ulat sagu atau apatar kerap diolah dengan cara dibakar atau ditumis, dan menjadi sumber protein penting bagi masyarakat setempat. Sedangkan jamur kutaano merupakan jamur yang lezat dimakan.

Selain itu, hutan sagu juga rumah bagi tanaman pakis yang bisa jadi sayuran. Sungainya penuh ikan. Dan, hutan sagu rumah bagi rusa, babi hutan, dan kasuari.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Ketika Sagu Ditinggalkan
Oleh karena kesalahan kebijakan pangan, masyarakat perlahan meninggalkan sagu dan beralih ke beras dan mie instan. Terjadi perubahan perilaku konsumen dan pola makan.

Padahal, sagu kaya karbohidrat, mineral, dan relatif tahan terhadap krisis iklim. Ia tumbuh di lahan basah tanpa pupuk kimia, dan tumbuh subur di Papua.

Yang memilukan adalah berita wabah gizi buruk di Asmat tahun 2018. Ada 72 anak yang menjadi korbannya. Rupanya kelaparan ini juga terjadi di Yakuhimo. Sungguh malang. Padahal mereka tinggal di negeri yang kaya.

Anak-anak tak lagi suka makan talas, ubi jalar, dan sagu. Maunya beras. Perubahan pola pangan ini bisa berdampak buruk ke kesehatan, ketahanan pangan, dan kerusakan ekologi.

Ketahanan Pangan Ala Papua
Kebijakan pangan pemerintah yang mewajibkan penanaman padi, jagung, dan kedelai akan bisa mengarahkan negeri ini ke krisis pangan. Ekspor beras dan gandum akan semakin besar karena jumlah sawah tak berbanding lurus dengan warga yang mengonsumsi beras. Candu beras ini juga akan merusak ekologi.

Padahal dulu Papua tercukupi oleh sagu dan aneka umbi. Kini mereka dan lingkungan mereka terancam. Padahal sagu dan umbi bisa diolah menjadi aneka kue modern juga seperti pastel, brownies, dan aneka mie.

“Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua

Mungkin sudah waktunya kita kembali mengingat petuah Soekarno. Ia mengingatkan pentingnya memperhatikan kecocokan lahan di Nusantara. Ia menekankan pentingnya kebijakan pangan berperspektif Nusantara. Negeri ini punya banyak potensi sumber pangan lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat.

Menurut Soekarno menitikberatkan kebijakan pangan hanya pada padi akan sulit memenuhi kebutuhan pangan. Untuk itu biarkan sagu tetap menjadi sumber pangan lokal Papua karena tanaman ini tidak bergantung musim dan tahan tumbuh di lahan gambut. Sagu juga bergizi dan lezat diolah.

Pangan merupakan soal mati hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi, maka malapetaka. Oleh karena itu, perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner”. – Soekarno.

Detail Buku
Judul: Sagu Papua untuk Dunia (Seri Pangan Nusantara)
Penulis: Ahmad Arif
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan ANJ
Cetakan: Cetakan Kedua, September 2023
Tebal: xvi + 208 halaman

~ oleh dewipuspasari pada Februari 26, 2026.

13 Tanggapan to ““Sagu Papua untuk Dunia”: Sagu dan Ketahanan Pangan Ala Papua”

  1. Paling suka sama papeda apalagi dengan ikan kuah kuning. Menarik memang jika membahas tentang ketahanan pangan disetiap daerah. Karena pola pertanian disetiap daerah pasti berbeda. Dan hal itulah yang mempengaruhi seberapa besar potensi daerah tersebut bisa mencukupi kebutuhan pangan warganya

  2. aku dulu juga bingung dengan istilah sagu ini, karena kebanyakan yang sering aku temui di masyarakat yang memasak menggunakan sagu, sagu yang digunakan ya tapioka itu.

    Jadi keinget waktu aku SD dulu, tetanggaku termasuk sering membuat papeda, dan aku taunya kalau papeda itu dari Papua, karena tetanggaku itu. Mungkin karena tentara yang pernah ditugaskan ke tanah Papua, jadi masak masakan Papua udah biasa buat tetanggaku.

    Mungkin kalau sekarang aku disuruh masak dengan bahan sagu, terus aku pergi ke toko bahan-bahan masakan, sama penjualnya bisa aja dikasih tepung tapioka

  3. Alhamdulillah bulan ini masih sempat menyantap makanan berbahan dasar sagu, meski mungkin bukan sagu Papua, yakni Kapurung (makanan khas Palopo), kebetulan ada yang jual di Lombok.

    Kita ini tuh kaya banget akan pangan lokal, bisa banget diintegrasikan dengan program MBG. Tapi begitulah…

  4. Papeda ada di kota tempat tinggal saya, dijual oleh penjual makanan jajanan, tapi saya juga gak tahu itu apa benar-benar terbuat dari sagu. Saya penasaran juga bagaimana rasanya aneka olahan makanan dari sagu makanan khas orang Papua ini. Sagu kekayaan bahan pangan di Indonesia, yang harus kita lestarikan

  5. Baca tulisan ini rasanya jadi sediiiih banget. Gimana ya masyarakat Papua yang punya budaya dan kebiasaan makan sagu pada akhirnya malah mau nggak mau berganti jadi makan nasi. 😦

    Dari review bukunya aja bisa kita lihat kalau tanaman sagu bisa tumbuh subur di sana. Nggak perlu susah buat makannya. Tapi yang ada malah ada kejadian kekurangan gizi… Sedihnya tanah Papua juga makin terdesak sama lahan pertambangan. Duh, Gusti…. Takut banget ketahanan pangan di Indonesia nggak tercapai karena ego semata…

    • Sagu ?. Entah saya sudah pernah makan olahan sagu apa belum. Yang jelas makan makanan olahan dari tepung tapioka sih sudah beberapa kali. Saya setuju dengan review ini. Sagu bukan hanya jenis tanaman. Tapi sagu adalah identitas suatu daerah bahkan negara karena sagu kita bisa belajar sejarah dan menghargai cerita

  6. Aku dulu pernah makan papeda di resto khas Papua. Emang awalnya rasanya kurang cucok di lidah orang Jawa tapi pas dicampur sama gulai ikan dan tambah sambal ternyata seenak itu hehe.
    Iya bumi sana tu kaya akan hasil bumi ya khususnya soal bahan pangan. Sayangnya di era Soeharto diminta makan nasi semua.
    Penting banget buat mengembalikan kearifan lokal pada bidang pangan sih ya. Apalagi kalau bisa diolah dengan baik maka akan diterima lebih banyak orangz gak cuma orang daerahnya tapi juga luar daerah.

  7. Buku yang udah lama masuk keranjang, tapi belum juga saya check put. Selalu suka saya tuh bahasan tentang pangan. Terutama pangan dari Indonesia. Katrena negara kita banyak kekayaan pangan yang perlu diulik.

  8. Benar juga ya tentang kecocokan lahan di Nusantara yang digaungkan presiden pertama Indonesia. Yang ada dibayangan aku itu jadi kita akan tahu ya tanah tempat kita pijak punya potensi hasil bumi apa? Papua dan hasil bumi sagu, rasanya sulit dipisahkan .

  9. Buku yang menarik!

    Aku sendiri belum pernah makan Sagu yang betulan sagu asli. Butuh main lebih jauh kali ya. Kalau diingat, dulu di TV ada tayangan dari pulau selain Jawa dan ngasih lihat proses pembuatan sagu yang sebenarnya gak semudah itu. Sayangnya sekarang gak ada, pun makanan pokok mereka juga banyak yang beralih. Padahal adanya sagu ini emang bisa buat ketahanan pangan

    • Salah satu buku wishlist yang masih belum kebeli, nih. Soalnya kebayang bacanya mesti lumayan fokus, karena detailnya yang juga menarik. Tapi pertama aku lihat review buku ini di IG memang jadi teringat beberapa konten lain di mana masyarakat menukar hasil bumi/laut yang segar dengan mi instan. Kalau buat selingan mungkin nggak apa-apa, atau sekadar penasaran sama sesuatu yang jarang ada, tapi rasanya agak sedih sih ya karena terkadang ada makanan tertentu yang dianggap modern sampai-sampai yang bahannya sudah tersedia dan bahkan relatif lebih sehat jadi dianggap membosankan atau kurang menarik lagi.

  10. Sebenernya ada yang lebih tua dari Sagu, Sorgum, dan Sukun, yaitu Gandum, karena sudah didomestifikasi sejak 10.000 taun lalu, hanya saja kalo di Nusantara Gandum tidak dikenal, lebih ke umbi-umbian ya. Sagu menjadi makanan paling tua di Nusantara, sayang sekali pemerintah melakukan pemerataan dengan beras, padahal jika makanan beragam tidak perlu ada sawah ya yang merusak ekosistem hutan.

  11. Aku suka banget review yang bukan hanya membahas buku, tapi juga membuka wawasan baru. Sagu bukan cuma bahan pangan, tapi identitas dan ketahanan budaya. Tulisan ini bikin aku sadar bahwa pangan lokal punya nilai yang jauh lebih dalam dari yang sering kita kira.

Tinggalkan Balasan ke ainunisnaeni Batalkan balasan