Yang Telah Pergi: Tentang Air dan Lainnya

Yang sudah hilang dan pergi buat apa dicari lagi? Toh selama ini diabaikan dan tidak diperhatikan, ujar Pak Eko yang menjadi salah satu narasumber di acara diskusi air di Sendalu Permaculture yang diadakan oleh Festival Kiamat Ekosistem. Mendengar kata-kata beliau itu aku tersentak.
Memang Pak Eko membahas tentang air, tapi aku juga tersentil. Apakah kucing-kucingku merasa terabaikan sehingga mereka pergi? Apakah aku selama ini pilih kasih dan kurang memberikan perhatian juga kasih sayang secara merata?
Oh aku merasa gelisah dan sangat merasa bersalah. Jika memang itu yang terjadi, aku mohon maaf kepada Koko, Opal Junior, Pang, dan Cemong yang merasa terabaikan. Pulanglah kucing-kucingku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki sikapku. Aku menyayangi kalian semua.
Tentang Air
Menurut Pak Eko dan Pak Syaiful, masyarakat sah-sah saja menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari asal bertanggung jawab. Bertanggung jawab di sini bisa bermakna menggunakan seperlunya dan aktif menjaga kualitasnya. Caranya? Bisa dengan membantu mengurangi run-off air hujan, bertanam pohon, membuat biopori, dan juga sumur resapan.
Suatu ketika ada satu kampung di Depok yang mengeluh soal banjir. Jalanan di tempat tinggal mereka sudah beraspal dan kurang pepohonan sehingga air hujan kesulitan meresap.

Dengan banyaknya pepohonan maka akan membantu menyerap air hujan
Setelah dilakukan rembug warga kemudian disarankan untuk membuat sumur resapan yang cukup besar dan dalam di kampung tersebut. Memang agak merepotkan tapi langkah ini lebih cepat dibandingkan bila melakukan reboisasi.
Sebagian warga yang awalnya menolak dan enggan, kemudian melihat manfaatnya, dan setuju untuk mendukung. Banjir teredam dan kualitas air tanah di kampung tersebut menjadi bagus, bahkan lebih bagus dari sebelumnya. Tinggal ditambah penanaman pohon agar resapan air hujan makin meningkat.
Pembahasan tentang air ini meluas hingga ke soal spiritual dan isu lainnya. Pak Eko bercerita ia pernah dimintai tolong sebuah RT yang kesulitan karena air tanah di kawasan mereka mengering. Air tanah tidak muncul sama sekali. Mereka sudah berdoa dan melakukan upaya lainnya, tapi air tak kunjung hadir.
Selidik demi selidik rupanya selama ini warga di RT tersebut sudah lama mengabaikan air sumur. Mereka sudah terbiasa menggunakan air kemasan dan air galon, mulai untuk minum dan memasak. Air sumur tersebut makin terabaikan.
Tak ada cara yang bisa dilakukan kecuali bertobat, nasihat Pak Eko. Warga bisa mengakui kesalahannya dan memperbaikinya secara lisan dan perbuatan. Memang tak ada jaminan air sumur tersebut akan bisa kembali, tapi setidaknya alam mendengar dan mungkin memberikan kesempatan berikutnya.
Pak Eko juga bercerita bahwa ia beberapa kali mendapati tetangga yang sering bertengkar. Rupanya mereka tak lagi minum air yang sama dari satu sumber. Eh? Aku lagi-lagi tersentil. Apa itu ada kaitannya? Ehm iya, ujar beliau. Kalau ingin melakukan rekonsiliasi dan lain-lain makan coba minum air dari sumber yang sama.

Dengan banyaknya pepohonan maka akan membantu menyerap air hujan sayangnya hutan terus dibabati
Sebelum pulang, aku memastikan dan bertanya. Jika kita mulai sering mengonsumsi air galon termasuk untuk memasak, apa air tanah bisa menghilang? Ya, bisa saja terjadi.
Jadi perlu beli filter dulu agar air tanah bisa dikonsumsi? Aku kembali bertanya. Aku tak ingin kehilangan air tanah ini meski sudah ada saluran PDAM di lingkungan tempat tinggal.
Saya tinggal di Pulomas dan selalu minum dari air sumur tanpa difilter dahulu. Bila kita bertanggung jawab akan kualitas air tanah maka sebenarnya tak masalah mengonsumsi air sumur. Demikian tutur beliau.
Oh. Aku tercenung. Selama dalam perjalanan pulang aku merenung. Untunglah air sumur belum mengering, aku harus melakukan sesuatu.
Aku tiba di rumah dan memperhatikan semuanya, termasuk kucing-kucingku dan buku-bukuku. Aku harus mengakui kesalahanku agar tak ada lagi yang merasa terabaikan, baik kucing, tanaman, benda-benda, dan juga air sumur.
