Untunglah Poster Film Itu Dicabut

Siang hari yang panas, menjelang akhir bulan Maret aku mengarungi jalanan Margonda. Aku lupa hari itu akhir pekan sehingga jalan andalan Depok itu sungguh padat. Sedang asyik melamun karena penat, lamunanku buyar karena melihat papan reklame besar yang dipasang di jalanan Margonda. Poster film “Aku Harus Mati”, membuatku ingin memaki-maki karena bikin aku terkejut ketika membacanya.
Melaju di jalanan harus ekstra hati-hati. Aku tak paham bagaimana logika bagian marketing dan promosi film itu karena isi poster film tersebut menurutku sangat berbahaya ditaruh di jalanan Depok dan daerah lain. Pesannya sangat berlawanan dengan harapan pengguna jalan pada umumnya yang ingin selamat sampai di tujuan, titik.
Di antara sejumlah pengguna jalan, bisa jadi ada yang sedang mengalami gangguan mental akut. Bisa jadi ada satu di antara ribuan pengguna jalan yang merasa begitu kalut hingga tak ingin melanjutkan hidup. Nah, poster film ini bakal berbahaya karena bisa mendorong atau memvalidasi keinginan orang tersebut untuk berhenti hidup.
Memang ada saja pihak marketing dan promosi film yang ingin beda dan menarik perhatian. Sayangnya upaya mereka malah membuat kontroversi dan kesal. Dulu aku ingat ada yang memasang promosi video trailer film horor yang begitu seram.
Aku saat itu lupa matikan teve di kosan. Ketika terbangun, iklan itu tayang. Dan ada sosok Pocong menyambutku di layar. Membuatku ingin berteriak. Astaga, jantungku dan mataku, sungguh kasihan.
Ada juga pihak pembuat film yang promosinya suka ikut arus isu yang sedang ngetren. Awalnya netizen merasa salut dan anggap itu bukti kepedulian terhadap isu, eh ternyata cuma promosi film dan isu filmnya kurang berkaitan alias cuma nebeng isu yang sedang hangat dan ingin dianggap keren. Huuuh promosi film nggak gitu juga deh.
Karena merasa kesal dengan poster “Aku Ingin Mati”, aku curcol di grup komunitas film, eh ternyata papan reklame berisikan poster film itu ada di mana-mana. Mereka menargetkan keramaian dan tempat-tempat yang kiranya apabila dipasang di sana bisa menjadi perbincangan.
Bagaimana orang-orang tidak kesal, papan reklame “Aku Ingin Mati” diletakkan di dekat rumah sakit, masjid, pasar, kampus, dan jalan raya. Penempatan seperti ini terasa minim pertimbangan dan empati, apalagi di dekat rumah sakit, kok bisa?!
Kemarin aku membaca info akan ada penertiban papan reklame ini Jakarta. Dan di Kumparan dan Radio ElShinta disebutkan Gubernur Jakarta sudah memerintahkan jajarannya menurunkan papan reklame tersebut di sejumlah titik Jakarta. Termasuk promosi film “Jual Jiwa Demi Harta”, papan reklamenya ikut diturunkan.
Kok berasa kayak tahun 2006 ke atas ya di mana ada banyak judul film yang vulgar dan bikin risih saat membacanya. Fenomena judul dan strategi promosi seperti ini seolah mengulang pola lama, vulgar, sensasional, tapi minim pesan dan tidak paham dampaknya.
Kata orang, sesuatu yang banyak diperbincangkan meski menuai banyak kritikan, juga termasuk promosi yang berhasil. Film “Aku Harus Mati” masih mendapatkan sekitar 61 ribu penonton berdasarkan data hari ini di Cinepoint.
Promosi memang erat kaitannya dengan menarik perhatian. Namun, ketika perhatian didapat dengan mengorbankan sensitivitas publik, mungkin ada yang perlu dievaluasi karena melanggar batasan etika dan norma di masyarakat.
Sumber gambar: ElShinta
