Naik-naik Ke Puncak Gunung

“Wah akhirnya selesai juga tuh ujian bahasa Inggrisnya!” kata mbak Karin

“Enaknya ngapain ya habis ini?” tanya mbak Wiwin

“Bagaimana kalau ngadakan pesta perpisahan”, usul Dewi

“Pesta perpisahan buat apa, kan kita nggak akan berpisah”, kata Mr Zaid

“Ya tapi kan nggak semua dari kita melanjutkan ke level tiga”, protes Dewi. Dia berkata begitu karena ada maunya, apalagi kalau bukan acara makan gratisan, terutama es krim. Dia memang ngebet banget dengan yang namanya es krim.

“Eh, kita ke pantai yuk!” ajak mbak Yanti

“Gini deh, kita ke gunung saja”, lagi-lagi Mr Zaid angkat bicara. “Ke gunung asyik, selain panoramanya bagus juga….”

“Juga apa…!” serempak anak-anak.

“Nggak deh..” , jawab Mr Zaid. Aku kan bisa pamer kalau aku jago panjat gunung, katanya dalam hati

“Ke gunung ya, aku setuju deh”, jawab Lutfi yang tiba-tiba nongol.

“Ok-ok siapa saja yang setuju ke gunung?” tanya Mr Zaid dengan wajah sedikit terangkat. Ia bangga karena usulnya disetujui.

Setelah didata ternyata yang ikut tujuh orang. Yaitu mbak Karin, mbak Wiwin, mbak Yanti, mbak Tinik, Lutfi, dan mas Slamet. Tentu saja termasuk Mr Zaid yang punya ide. Mereka berencana pergi ke gunung pada hari Sabtu, tapi belum diputuskan kemana. Mas Slamet usul mendaki ke Gunung Slamet, tentu saja mbak Yanti nggak setuju. Nggak dijelaskan kenapa mbak Yanti nggak setuju dengan usul mas Slamet yang brillian itu. Sedangkan mereka yang tersisa hanya bengong saja memikirkan nasib mereka esok hari. Mas Blantik senyum-senyum sendiri sambil menata rambutnya yang agak funky di balik topinya. Mas Agung sudah cabut dari tadi demikian pula mas Psychopath. Dewi asyik makan coklat sembunyi-sembunyi. Sedangkan mas Asar bingung, pulang kampung, nggak, pulang kampung…

Akhirnya diputuskan gunung yang didaki adalah Panderman. Sebenarnya sih bukan gunung. Tapi apa boleh buat mereka kan pemula, kata mr Zaid.

Pukul 19:00 mereka telah melewati seperduabelas perjalanan. Mr Zaid yang berada di depan sendiri merasa kelelahan karena dia yang paling berat bawaannya. Mbak Wiwin yang pendiam menguntitnya diikuti mas Slamet yang sempat-sempatnya bawa kamus sambil terus mengobrol dengan muka serius dengan mbak Yanti. Mbak Karin kelihatan melamun, entah apa yang dilamunkan. Yang terakhir adalah Lutfi yang sebentar-sebentar menoleh ke belakang dan mbak Tinik yang membawa senapan angin.

“Stop!’ dengan gayanya seperti pemimpin perang Mr Zaid menghentikan rombongan. “Kita terpaksa berhenti dulu untuk melepas lelah.”

“Kita nggak capek kok, terus jalan saja keburu malam.” , jawab mbak Karin

“Iya, iya, siapa yang capek.” Tambah mas Slamet.

Yang lain mengiyakan sehingga Mr Zaid kebingungan. Yang capek sepertinya aku deh, katanya.

Pukul 20.30 rombongan telah berada di perdelapan puncak. Udara telah menggigil. Mr Zaid membuka tasnya. Dikeluarkannya sesuatu yang kelihatan berat dan besar dari dalam tasnya. Ternyata hanya jaket. Selain jaket tidak ada lagi barang yang nampak di situ. “Sekarang senter kalian harus dinyalakan semua.”

“Sudah” jawab mbak Tinik.

“Lho kok yang nyala hanya dua?”

“Memang cuma Yanti dan Karin saja yang bawa”, jawab mbak Wiwin enteng.

“Hah!!” Mr Zaid lagi-lagi kelihatan syok.

Rombongan terus berjalan, tetapi kini tiada lagi senandung-senandung ceria. Mereka kelihatan telah lelah. Dari kejauhan mereka seperti orang yang berjalan sambil tidur.

Udara malam semakin menggigit, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak. “Kita pasang tenda?” tanya mbak Yanti

“Alah masih jam segini masak kita mau tidur?” ejek mas Slamet.

“Ngomong-ngomong siapa yang bawa tenda?” tanya mbak Tinik

“Wiwin ,kan.”

“Enak saja.”

“Jadi..jadi nggak ada yang bawa ya?” tanya Mr Zaid.

Semua menggeleng. “Kukira Zaid yang bawa.” ujar mbak Wiwin.

Pandangan Mr Zaid tiba-tiba terasa kabur. Ia merasa lapar. Ia menyesal mengapa dia tak membawa bekal, dia mengharapkan teman-temannya membawa, ternyata mereka memakan bekalnya sendiri-sendiri tanpa menawarinya Kryuk.

“Suara apa ya?’ tanya mbak Yanti dengan geli. Mr Zaid diam saja sambil terus memandangi roti misis keju yang menggiurkan itu.

“Ok mari kita melanjutkan perjalanan!” ajak mas Slamet.

“Kalian masih kuat?” tanya Mr Zaid. Semua mengangguk.

Dreng-dreng-dreng, rombongan kembali melaju. Kali ini mereka harus berhati-hati karena lampu senter yang menyala hanya satu. Dan seperempat jam kemudian lampu tersebut padam juga. Mbak Karin menjerit. Lutfi hampir terloncat mendengarnya. Buru-buru Mr Zaid menentramkan keadaan. Mereka segera mencari kayu untuk diberi minyak tanah. Setelah kayu mereka semua nyala, ada yang terasa kurang. “Slamet kemana?” tanya Mr Zaid. Semua memandang sekelilingnya. Nggak ada. “Mungkin ikut kelam oleh kegelapan malam”, gurau Lutfi. Tak ada yang tertawa semua khawatir. Rombongan cewek kecuali mbak Tinik tampak ketakutan. “Biar aku saja yang mencarinya”, tawar mbak Tinik dengan gagah berani. Mr Zaid hanya mengangguk ia merasa capek sekali, tetapi ia tak berani bilang.

“Met, dimana Kamu?’

Terdengar suara semak-semak disibak. Mbak Tinik segera menghampiri asal suara itu.

“Hei jangan kesini!”

Mbak Tinik segera menghentikan langkahnya. Dibalik semak-semak itu nampak sebuah gigi dan mata, juga baju yang melayang tapi tidak ada tubuhnya. Mbak Tinik merinding. Dia hampir berlari. “Nik, ini aku, Slamet.”

Nafas mbak Tinik masih tersengal-sengal, “Ngapain lu Met, bikin kita cemas saja.”
“Biasa panggilan alam”, jawab mas Slamet enteng.

Setelah itu rombongan kembali berangkat. Malam semakin larut, hanya bintang-bintang yang nampak. Mr Zaid merasa lapar, semakin dibayangkan semakin lapar ia. Ia tak tahan dan bruk. Ia pingsan.

“Dimana kita?’ tanya Mr Zaid.

“Sekarang kita berada di tempat kamu pingsan kemarin, masih di sepertujuh puncak.”

“Kemarin aku pingsan?’

“Yah tu, karena ngrepotin, kami tinggal kamu di sini, sedangkan kami telah melanjutkan ke puncak.”, jawab mbak Karin.

“Kalian ke puncak dan ninggalin aku di sini?”

Semua mengiyakan.

Mr Zaid terbengong-bengong dan tubuhnya meluncur ringan lagi ke tanah.

~ oleh dewipuspasari pada Mei 26, 2008.

2 Tanggapan to “Naik-naik Ke Puncak Gunung”

  1. Karena nggak punya foto Gunung Panderman, akhirnya nyomot foto Gunung Papandayan di Garut. Gunungnya keren banget dan hawanya sangat segar

  2. wah panderman ya? gimana kabarnya nih bukit? masih saja berdebu dan banyak sampah di puncaknya?

    seingatku dulu pernah melewati semacam makam waktu naik, tapi pas turun ga ngelewati lagi. memang ada ya?

    yang di foto panderman sebelah mana? yang tempatnya panjat tebing itu?

    wah kangen naik2 kedinginan 😀

Tinggalkan Balasan ke dewipuspasari Batalkan balasan