Telepon Genggam
Kehadiran telepon genggam di kehidupan masyarakat Indonesia cukup fenomenal. Dalam kurun waktu belum genap satu dasawarsa ia menyodok peran surat, jam, game dan walkman. Ia menjadi salah satu kebutuhan sekunder,atau mungkin kebutuhan primer bagi sebagian orang. Kecintaan manusia terhadap benda ini yang dibidik Joko Pinurbo lewat kumpulan puisinya bertajuk Telepon Genggam.
Penyair kelahiran 46 tahun silam ini bercerita tentang emosi manusia terhadap ponsel. Ada yang gelisah, senang atau malah sedih ketika membaca pesan dalam handphone. Banyak yang merasa tidak tenang bila belum membaca pesan dalam inbox si ponsel dalam sehari.
Seperti dalam puisi pembuka berjudul sama dengan tajuk buku, “Telepon Genggam”. Ia menceritakan dua tamu berlawanan jenis yang bertukar nomor telepon. Sepulang dari pesta, si tamu pria tidak lekas berganti pakaian namun malah merapikan jas dan sepatunya. Ia tengah berharap-harap menerima panggilan dari nomor tamu wanita. “Ia berbaring telentang, masih dengan kaus kaki dan jas yang dipakainya ke pesta dan telepon genggam tak pernah lepas dari cengkeraman. Telepon genggam, surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.’’
Masih ada beberapa puisi bertemakan telepon genggam. Selamat Tidur, Laut dan Panggilan Pulang, misalnya. Sisanya, pembaca temui beragam tema yang akan membawa pembaca ke suasana haru, mistis atau malah terpingkal-pingkal.
Joko tidak selalu menuliskan dalam bentuk konvensional. Terkadang puisinya tidak biasa. Ada pula yang seolah-olah tak mengindahkan diksi.
Detail Buku :
Judul Buku : Telepon Genggam
Penulis : Joko Pinurbo
Penerbit : Kompas
Rating : **** Layak Dikoleksi

