Bencana versus Batik
BUNG Pentas termangu-mangu menyaksikan televisi yang menyiarkan korban gompa. Baru sebulan lalu tersiar kabar puluhan warga Tasikmalaya tewas akibat gempa, kini bencana itu menimpa warga Sumatera Barat dan Jambi. Tangis dan jerit para warga berulang kali ditayangkan di televisi. Setiap kali Bung Pentas memindahkan saluran televisi ia menyaksikan rumah-rumah rusak, bangunan runtuh, jalan rusak dan warga yang tengah berduka cita.
Penderitaan korban gempa itu rupanya mengetuk hati masyarakat Indonesia. Di mana-mana Bung Pentas melihat aksi peduli, mulai televisi yang menyediakan rekening bantuan, sekretariat peduli korban bencana, komunitas yang mengumpulkan makanan siap konsumsi, hingga mahasiswa-mahasiswa yang mengenakan jasa almamater dan membawa kardus berkeliling. Tidak ketinggalan pula perusahaan tempat Bung Pentas mengabdikan tenaga dan pikirannya.
Si Beni, warga unit CSR, telah memasang pengumuman di dekat ruang absen dan papan informasi. Ia menjadi ketua panitia peduli bencana dan menerima segala sumbangan berupa uang, makanan, susu bayi, pakaian dan obat-obatan. Sebelumnya telah diberangkatkan tim peduli bencana untuk memberikan pertolongan pertama bagi karyawan yang ada di daerah gempa dan melihat sejauh mana kerusakan gedung dan infrastruktur kantor cabang.
Bung Pentas sendiri kebagian tugas membantu si Beni, sebagai teman baiknya. Ia sibuk mencatat barang-barang dan uang yang telah diterima. Bantuan tahap pertama akan diberikan minggu depan, menyusul bantuan tahap kedua dan ketiga. Bung Pentas mengerjap-ngerjapkan matanya. Keningnya bekerut melihat daftar bantuan di file excelnya. Rupanya jenis bantuan makanan yang diberikan masih sedikit. Ia teringat pengalaman bencana Situ Gintung beberapa bulan silam. Saat itu beberapa jenis makanan menjadi sia-sia karena busuk. Warga di lokasi juga mengeluh kesulitan memasak jenis makanan tertentu karena terbatasnya air dan alat masak di lokasi penampungan korban.
Mulutnya pun otomatis berkomat-kamit sambil menghapus field beberapa jenis makanan yang akan dibeli. Mimik Bung Pentas ini rupanya menarik perhatian Didi yang kebetulan melintas depan meja kerjanya. ’’Sibuk apa Tas kok komat-kamit kayak ikan’’ Bung Pentas melepaskan gagang kacamatanya dan memijat-mijat kelopak matanya. ’’Lagi memilah-milah bantuan mana yang diperlukan dan diprioritaskan,’’ jelas Bung Pentas.
Didi lalu bergeser ke samping Bung Pentas. Ia menatap layar monitor di depan Bung Pentas dan membaca tabel yang tertera di sana, daftar makanan yang akan disumbangkan. ’’Hemm kalau bisa jangan mie dan bubur instant, kasihan mereka harus masak terlebih dahulu. Belum lagi air bersih susah didapatkan’’. ’’Makanan instant masih jarang diproduksi di Indonesia, usulanmu apa?’’ ’’Yang gampang, praktis dan tahan lama sih aneka ragam biskuit, cracker dan marie, juga sosis siap makan,’’ usul Didi. ’’Wah itu sih camilan, tidak mengenyangkan,’’ gerutu Bung Pentas
’’Ehm makanan siap santap yang bergizi dan mengenyangkan belum dipikirkan industri makanan di sini. Padahal sangat diperlukan oleh negara yang rawan bencana alam kayak Indonesia ini’’.
’’Minim pangsa pasarnya mungkin?!’’ ’’Bukannya Indonesia itu pangsa pasar paling strategis selain China dan India, jumlah penduduknya ratusan juta’’.
’’Benar juga. Aku pernah baca diskusi tentang bantuan makanan bagi korban bencana alam di Jalansutra’’. Singkat cerita, para anggota milis menganggap makanan bergizi siap saji perlu menjadi perhatian pakar gizi dan BPPT. Terutama sebagai bantuan makanan korban gempa. Para jamaah haji telah mencicipi makanan siap saji berupa kemasan nasi beserta lauknya yang masa kadaluarsanya berbulan-bulan. Tentara darat di negara maju punya MRE alias meal ready to eat, dengan rasa enak, nutrisi lengkap dan tanpa dimasak.
’’Bukannya orang Padang punya rendang dan Aceh punya ikan kayu yang bisa tahan berbulan-bulan?’’ ujar Didi
’’Mungkin masalah kebiasaan juga. Orang Indonesia belum kenyang kalau belum menyantap nasi, yang mirip-mirip nasi kan mie instant hehe’’.
Pembicaraan mereka lalu terpotong oleh pengumuman dari divisi SDM, himbauan mengenakan pakaian batik sebagai dukungan moril atas diakuinya kain batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh UNESCO. ’’Wah aku balik dulu Tas, mau nyuruh OB belikan pakaian batik di toko sebelah’’. Didi pamit
Rupanya imbauan itu dituruti para karyawan dengan suka rela. Hampir seluruh karyawan mengenakan pakaian batik, termasuk para tenaga kontrak. Kantor menjadi berwarna-warni oleh keragaman batik seperti batik Palembang, batik Jambi, batik Solo dan batik Madura. Bung Pentas sendiri hari itu terbang ke Padang bersama-sama Beni dengan membawa satu truk bantuan dari perusahaannya. Ia menyerahkan berkardus-kardus makanan, pakaian dan obat-obatan ke pos bantuan dengan pakaian batik Madura kebesarannya.


hai,
senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, posting yg oke 🙂 … lam kenal yaa
Terima kasih banyak. Senang bertemu denganmu juga hehe
ini kali pertama saya mampir ke blog Anda, saya Agus Suhanto, salam kenal ya…
Salam kenal Agus:)