Cumi-cumi Hitam Manis Teman si Jamblang
Sega jamblang. Keningku berkerut ketika membaca menu itu di warung-warung kaki lima. Namanya tidak menarik. Namun, rasa ingin tahuku mengalahkan keenggananku. Tidak ada salahnya mencoba, mumpung masih di Cirebon, kilahku. Deretan warung sega jamblang mulai bermunculan pada sore hari. Aku memilih salah satu warung kaki lima yang berjejeran di jalan selepas Masjid Besar. Tidak ada namanya hanya terpal berwarna kuning cerah yang membedakan dengan warung-warung lainnya. Atau bisa jadi aku kurang cermat memperhatikannya, terganggu oleh rasa laparku. Setelah aku masuk dan menempati bangku panjang, seorang ibu berparas sederhana dengan sigap mengalasi piring dengan daun jati.
Ia menceduk nasi panas dan dengan ramah menyilakanku memilih aneka lauk di hadapanku. Mataku menyapu aneka ragam lauk-pauk yang ditawarkan sebagai teman nasi. Seperti pusaran black hole yang amat kuat, pandanganku kemudian tidak mau terlepas dari sepiring olahan laut yang berwarna hitam pekat.
Rasanya sore ini Tuhan memanjakanku. Lauk kesukaanku terhidang di situ, siap untuk kusantap. Telunjukku dengan gagah mengarah ke piring beralas daun pisang itu. “Cumi-cumi Neng?” tanya ibu penjual yang berusia sekitar 50 tahunan. Aku mengangguk dengan khidmat. Rasanya hari ini aku ingin menangis saking terharunya. Jarang-jarang ada restoran atau warung kaki lima yang mengolah cumi-cumi ke selera asalnya.
Kelezatan cumi-cumi yang paling premium menurutku terletak pada tintanya. Masakan cah cumi, calamari alias cumi goreng tepung ataupun cumi cabai hijau tidak dapat menandingi kelezatan rasa cumi-cumi hitam manis
Rasanya lama sekali menunggu si ibu menyendok cumi-cumi berbadan gendut.Air liurku sudah terbit. Dengan gugup aku menelan ludahku. Akhirnya si ibu menyodorkan piring beralas daun jati itu kepadaku. Kepulan uap nasi berbaur dengan harumnya cumi-cumi yang beraroma gurih semakin merangsang indera pengecapku. Pelan-pelan aku potong kepala cumi sambil membauinya. Aku benar-benar ingin menikmati momen ini. Toh di luar gerimis, aku tidak perlu terburu-buru.
Saat lidahku menyentuh kepala cumi itu, rasanya waktu berputar kembali ke masa kanak-kanakku. Aku teringat akan ibuku yang biasa mengolah cumi dalam masakan seperti ini. Dan kali ini masakan ini terasa lebih sedap berkat nuansa sejuk yang dibangkitkan oleh gerimis dan rasa kangenku yang teramat besar terhadap masakan ini.
Kemudian tibalah saatnya aku membelah isi perut si cumi-cumi. Diam-diam aku berdoa agar isinya bukan tahu seperti yang biasa ditemui di restoran Padang. Dan rupanya Tuhan sayang padaku. Isinya benar-benar telur cumi. Enak banget.
Aku melanggar niatku untuk menyantap pelan-pelan. Indera pengecapku tidak mengijinkan. Llidahku ingin terus dan terus menikmati cumi-cumi ini. Dan piringku tak lama kemudian benar-benar bersih dari nasi, cumi-cumi dan aus tintanya.
Kenikmatan ragawi ini dipungkasi dengan teh kental panas. Rasanya yang agak sepet pas dengan manis gula yang muncul dengan malu-malu. Duh aku benar-benar bersyukur bisa mampir di warung ini. Lain kali jika kembali ke Cirebon, aku harus mampir ke warung ini.


belinya mending di pasar aja, kalo di hypermarket mahal, bisa 2 kali lipat wi
hmm enak, aku bisa habis 2 piring nih..he..he..sayang mas udin gak suka kalo dimasak item gini
enak banget…tapi lagi ga ada promo di carefour untuk cumi-cumi