Diary Istri Upik #Para Kucing Pengamen

Waktu membuka pintu dan hendak menyapu teras pagi hari aku dikejutkan oleh meongan kucing kecil. Dan aku terpana melihat di sebelah Upik ada kucing mungil yang warnanya mirip banget dengan induknya. Busyet deh, tukang ngamen di rumahku bakal bertambah nih. Padahal kehadiran Upik juga dulunya tidak diundang hanya berbekal kasihan. Wahwahwah alamat perlu ada bujet khusus buat membeli ikan pindang alias ikan cue buat para kucing-kucing pengamen Kakakku sudah gerah dengan ceritaku tentang kucing. Dulu sejak ngekos di Jakarta aku juga punya kucing bernama Upik dan Buyung. Kucingnya tidak cantik, putih kusam dan kurus. tapi raut mukanya sedih sehingga aku sering memberinya makan. Bahkan demi kucing-kucing tersebut aku bela-belain belanja ikan cue di pasar tiap minggu. Sewaktu Upik hilang dan Buyung sakit dan kemudian juga menghilang, rasanya ada yang hilang. Aku yang terbiasa tidur malam mengerjakan tugas kuliah kala itu merasa kesepian.

Lalu tiga tahun kemudian ketika menempati rumah baru, si Upik muncul. Awalnya kucing putih dengan ekor bulat ini numpang tidur siang di teras. Karena ada sisa ikan, aku berikan ke dia. Lama kelamaan dia sering singgah ke rumahku. Si Upik yang waktu itu hamil biasanya sudah siap di teras ketika aku mendorong pagar. Dia lalu mengamen dengan gaya mengeongnya yang tidak merdu. Seperti berkata “Tuanku sudah datang. Ayooo waktunya makan.”

Suamiku tidak suka akan kehadiran Upik. Dia benci kucing dan terus mengingatkanku untuk tidak menyentuhnya. Ok-ok aku hanya memberi makan karena kasihan, jawabku. Kedua, ia tidak suka kucing itu dinamai Upik. Pasalnya, aku juga memanggil suamiku dengan nama Upik. Waduh, masak namaku sama dengan nama kucing, protesnya. Aku hanya menjawab, nama Upik itu imut dan terkesan lucu.

Selama sebulan berikut si Upik tidak pernah lagi datang. Suamiku merasa senang karena dia tidak begitu suka akan kehadiran kucing-kucing. Namun, ada kucing belang telon liar yang suka menerobos rumah. Karena mukanya yang lucu tapi bandel, saya menamainya Si Badut. Badut berbeda dengan Upik. Jika Upik berlaku sopan hanya mengamen di teras, si badut suka mengamen dalam rumah. Akibatnya, suamiku mengejar-ngejarnya dengan sapu agar ia keluar rumah. Dan yang membuat kami tidak suka dengan Badut, dia sangat kasar. Beberapa kali terlihat ia menerjang Upik, bahkan menendangnya, ketika berebut upah mengamen.

Dan kini ada si Upik dan anaknya. Sebagai ucapan selamat datang, aku buatkan segelas susu hangat di kotak plastik. Yaaa Upik nakal, bukannya buat anaknya, si Buyung, susu hangat itu tuntas dijilatnya. Selamat datang Upik dan Buyung.

Gambar : dari picturesof.net

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 25, 2012.

6 Tanggapan to “Diary Istri Upik #Para Kucing Pengamen”

  1. Lagi sebel sama kucing yang suka nggelundungin tempat sampah kalau ada bau ikan sedikit, porak poranda semuanya…

  2. ternyata upik yang ini to. ada dua upik dong Pus ya. cowok dan cewek. hihihi. si Upik besar merasa tersaingi mungkin Pus…

Tinggalkan Balasan ke whysooserious Batalkan balasan