Bertahan Hidup

Setiap kali anak kucing itu muncul, aku merasa nafasku tertahan. Aku ingin menangis melihatnya. Ia nampak kesakitan. Kondisi tubuhnya sudah parah dan nampak tak tertolong. Tapi semangatnya bertahan hidup membuatku salut dan mencoba membantunya.

Ia salah satu dari tiga anak kucing liar yang kadang-kadang muncul di halaman rumah. Tiga anak kucing itu lahir bersamaan dan dulu pernah tinggal di gang kecil samping rumah.

Pasanganku tak suka kucing. Kehadiran si Nero dan (lalu) si Mungil merupakan hasil kompromi. Ia tak mau ada tambahan kucing lagi. Adanya dua kucing dewasa dan tiga anak kucing liar yang suka muncul di halaman rumah sudah membuatnya senewen. Aku merasa dilema, kasihan kepada nasib kucing liar itu tapi juga peduli ke pasangan yang alergi terhadap bulu kucing.

Tiga anak kucing itu lucu-lucu. Favoritku yang berbulu tebal dan lincah. Aku suka memanggilknya Ponoc. Ada juga yang putih malu-malu. Satunya lagi juga putih dengan ekor yang panjang.

Kelima kucing liar itu kuberi sisa makan Nero. Aku juga suka memberinya pakan kucing berupa biskuit kucing. Mereka nampak baik-baik saja hingga suatu ketika.

Si Ponoc sekeliling matanya nampak kotor. Si putih juga. Sepertinya tertular oleh kucing ekor panjang. Aku kemudian berkonsultasi ke dokter di klinik hewan dan mendapat saran untuk mengoleskan salep khusus sehari dua kali.

Ketiganya pun kuobati. Tidak begitu manjur tapi lumayan. Si kucing ekor panjang kemudian suka menyendiri. Ketika ia muncul lagi aku tertegun dan ingin menangis. Ia sangat kurus, matanya kotor dan sulit terbuka. Mulutnya juga kotor dan nampak susah dibuka.

Ia tak doyan makan dan hanya ingin minum. Aku coba membersihkan wajahnya dengan air hangat. Tapi ia mengelak. Aku tak tahu apakah dokter hewan mau menerimanya melihat kondisi tubuhnya yang kotor dan seperti itu. Membawanya juga bakal susah karena ia masih suka mencakar. Aku merawatnya sebisanya. Dan hatiku terasa mencelos setiap ia muncul.

Induknya sudah tak mau merawatnya lagi. Ia tak lagi disusui atau dijilat dibersihkan induknya. Anak kucing-kucing lain menjauhinya.

Kupikir ia akan menyerah dan kemudian meninggal. Ketika aku liburan dan menitipkan makanan ke satpam, aku terkejut melihat ia masih hidup dengan kondisi yang tetap sama. Ia bertahan hidup.

Dua hari ini bisa menyantap makanan. Ia bisa menyantap perlahan-lahan nasi bercampur makanan kucing lembek. Aku memberinya makan itu sehari dua kali, namun kadang-kadang susah memisahkan makanan tersebut dari jangkauan kucing-kucing lainnya. Kucing dewasa nampaknya tak peduli dan melahap makanan jatah kucing sakit itu.

Ia mencoba bertahan hidup dengan tubuh lemahnya. Aku terkesan akan semangat dan perjuangannya. Kucing kecil aku akan membantumu sebisaku.

gambar dari pixabay dan openclipart

~ oleh dewipuspasari pada Januari 9, 2019.

8 Tanggapan to “Bertahan Hidup”

  1. Saya juga ada kucing kecil yg selalu muncul di belakang rumah. Dan selalu cepat mati. Barangkali ibunya nggak membiasakan anak-anaknya bertahan hidup sebagaimana hewan liar.

    • Ada induk kucing yang cuek. Dulu ada beberapa kucing yang ditelantarkan dalam bentuk masih bayi. Tapi ada juga yang telaten merawat. Si Nero salah satu anak kucing yang disayang induknya hingga besar dan memasuki tahun kelima.

  2. Bertahan hidup mungkin merupakan pilihan

  3. Bertahan hidup mungkin merupakan pilihan

Tinggalkan Balasan ke dapur seharusnya ngebul Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: