Orang Asing

Seseorang kadang-kadang perlu berkeluh kesah. Ketika sulit menemukan kawan atau saudara, ia kemudian berceloteh di media sosial. Sayangnya ia mungkin lupa bahwa media sosial itu bukan ruang kosong melainkan dinding yang bergema. Keluh kesahnya bisa didengar banyak orang dan malah bisa berakibat malapetaka baginya. Lainnya memilih bersandar sejenak ke orang asing. Orang yang tak dikenalnya dan tak mengenalnya.

Beberapa kali aku bertemu orang asing di tempat umum. Aku hanya bertegur sapa sekedar basa-basi. Tapi mungkin karena ia sedang perlu teman kemudian ia bercerita banyak hal kepadaku.

Aku tak mengenalnya dan tak paham apa yang terjadi kepadanya. Ia bercerita tentang masalah rumah tangganya. Ia gemetar, emosinya sepertinya meluap-luap. Aku hanya mendengarnya dan sesekali menunjukkan aku tetap mendengarnya.

Kulihat raut mukanya kemudian lebih tenang. Awalnya ia nampak tertekan. Ia berpisah denganku di halte sekitaran Jakarta Selatan. Kami tak berkenalan dan kami tak tahu nama kami masing-masing. Ia hanya ingin bercerita dan mungkin baginya aman untuk bercerita ke orang asing.

Aku tak pernah lagi berjumpa dengannya.

Suatu ketika di sebuah bandara tiba-tiba namaku dimasukkan ke penerbangan yang lebih awal. Tentu saja aku senang karena bisa pulang lebih cepat dari rencanaku.

Kemudian aku baru menyadari keberadaan seorang ibu di sebelahku. Aku menyapanya. Ia kemudian mengajakku berbicara. Tentang apa saja. Lalu ia bercerita tentang putranya. Aku tak mengenalnya. Aku lagi-lagi hanya sebagai pendengar.

Kursi kami di pesawat terpaut beberapa baris. Ketika pesawat mendarat aku membantunya membawa barang-barangnya. Rupanya anaknya yang menjemputnya mengira aku kenalan ibunya. Ia memaksaku untuk mengantarku pulang.

Aku tak tahu nama ibu itu. Demikian pula dengan putranya. Saat mobil itu berhenti di kosanku, aku merasa beruntung tapi kemudian menyesal tak sempat bertanya siapakah ibu anak tersebut. Lagi-lagi aku tak pernah bertemu mereka. Keduanya ibarat malaikat yang menolongku.

Dari kedua cerita itu aku menjadi sosok orang asing, hingga kemudian tiba waktuku bercerita ke orang asing.

Saat itu aku merasa sangat lelah. Aku melakukan liputan sejak pagi. Baru sekitar pukul 21 lewat aku bisa pulang. Sayangnya angkot yang menuju kosanku sudah tak beroperasi. Aku kemalaman. Akhirnya aku naik angkutan lain yang rutenya panjang dan turunnya masih cukup jauh dari kosanku.

Tinggal aku sendiri. Penumpang terakhir. Aku masih harus berjalan kaki cukup jauh sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.30.

Entah kenapa pengemudi itu kemudian memarahiku. Dia memarahiku kenapa pulang malam dan sebagainya. Dia memarahiku seperti aku berbuat curang atau jahat.

Aku lelah. Aku bekerja lebih dari duabelas jam, di lapangan dan juga masih menulis berita di kantor. Yang kuinginkan saat itu hanya tiba cepat di kamarku. Beristirahat dan kemudian mencari berita lagi keesokan hari. Penampilanku tak mencolok dan aku juga bukan perempuan penggoda.

Aku ingin marah. Aku ingin ia mencabut kata-katanya. Tapi aku lelah. Marah itu memerlukan tenaga.

Aku bergegas turun dan berjalan kaki cepat. Setelah membersihkan badan aku ingin segera bisa terlelap. Tapi tidak bisa.

Saat itu aku hanya ingin menangis
Aku bertanya-tanya apakah pekerjaanku buruk?
Aku dari dulu ingin selalu menjadi jurnalis
Dan konsekuensinya memang pulang larut

Malam itu hening
dan aku tengah bersedih
Tiba-tiba ada bunyi pesan
dari orang yang tak kukenal

Entah kenapa aku kemudian bercerita, hariku buruk dan aku jadi sedih. Ya, aku bercerita ke orang asing itu aku sedang ingin menangis. Aku tak perlu tanggapannya, hanya merasa lega ketika mengungkapkannya.

Aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Ia orang asing bagiku yang menolongku dengan hanya mendengarkan keluh kesahku saat itu.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 17, 2019.

6 Tanggapan to “Orang Asing”

  1. Hai org asing, siapa2 kah namamu? (Lahu Rhoma Irama) 🙂

  2. Demikian juga di blog ini. Menulis untuk dibaca oleh orang-orang yang asing bagi kita. Tetapi kadang, tak dibaca pun sudah cukup untuk melepas keresahan.

  3. Semangat terus mbak~ aku senang ketika seseorang menemukan keinginannya sebagai sebuah pekerjaan. Disini aku masih struggling dengan pekerjaan yang memang masih sedang belajar kucintai. Jangan membiarkan orang lain mengatakan apapun tentang pekerjaan yang sudah mbak impikan. Semangat. Begitu juga untukku, semangat hehe

Tinggalkan Balasan ke Kuningnanaas Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: