Tentang Film Dokumenter Es Kopi

Ice cold murderDi Netflix sejak 28 September lalu tayang film dokumenter berjudul Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso. Bagi yang dulu mengikuti berita tentang kasus pembunuhan melibatkan racun sianida, maka film dokumenter ini memberikan perspektif berbeda.

Film berdurasi 86 menit ini diawali dengan memperkenalkan secara singkat kasus tersebut, korban dan tersangkanya. Keduanya adalah Mirna Salihin dan Jessica Wongso. Keduanya adalah dua kawan yang sama-sama pernah menimba ilmu di Australia. Saat itu keduanya bertemu di kafe Olivier bersama kawan mereka satu lagi bernama Hani.

Mirna yang baru datang kemudian menyeruput kopi tersebut. Tapi tak lama ia merasa ada perubahan dalam tubuhnya. Ia tak selamat. Jessica kemudian menjadi tersangka dan dibui selama 20 tahun.

Nah dalam film dokumenter ini sosok si ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin. Ia digambarkan tak lepas dari pistol dan suka berlatih menembak. Ia nampak sedih melihat putrinya meninggal dan tak ingin pelakunya lepas.

Dalam film dokumenter ini ada banyak narasumber yang dihadirkan. Ada dari kalangan jurnalis seperti Timothy, kemudian ada pengamat kasus kriminal, masyarakat biasa, juga dari kalangan jaksa penuntut dan pengacara. Pengacara Jessica Wongso adalah pengacara kondang Otto Hasibuan.

Para saksi yang dihadirkan juga disorot. Mereka ada ahli forensik yang ternyata yang diperiksa hanya sampel bagian lambung, kemudian ada ahli ekspresi wajah, dan juga pakar kedokteran lainnya. Yang menarik jumlah sianida di tubuh Mirna ternyata tidak banyak saat tiba di rumah sakit dan setelah meninggal, kurang dari ambang batas yang bisa dianggap beracun bagi tubuh. 

Dari film dokumenter ini penonton diberikan perspektif baru. Utamanya adalah bukti yang kurang cukup. Selain itu juga seperti ada desakan dari para warga yang mengikuti kasus ini agar Jessica segera dijebloskan ke penjara.

Memang jika mengingat tujuh tahun silam, kasus ini menyita banyak perhatian masyarakat. Ada banyak hal yang menyebabkan kasus ini menjadi sorotan. Yang pertama karena dilakukan di tempat publik. Yang kedua, korbannya adalah perempuan yang cantik dan terbilang sukses. Dan yang ketiga, masyarakat mendapatkan kesibukan untuk menebak-nebak motif dan bagaimana si pelaku menjalankan rencananya.

Namun menurutku film dokumenter ini masih kurang imbang dalam memberikan informasi. Tak ada wawancara dari pihak keluarga Jessica dan juga Hani. Hani sebagai saksi kunci tak ada dalam film dokumenter tersebut. Demikian juga dengan suami dari Mirna. Bukti-bukti yang memberatkan Jessica yang dulu muncul di berita juga tak disampaikan.

Dalam film dokumenter ini malah yang membekas adalah sikap ayah Mirna yang terkesan arogan. Padahal dulu ketika melihat di teve, ia nampak seperti sosok ayah yang terguncang dan hanya ingin mendapat keadilan untuk putrinya.

Selain perspektif baru, aku merasa film dokumenter ini seperti berupaya menggiring penonton, memberikan kesan tertentu ke setiap sosok yang hadir dalam film ini. Menurutku ini merugikan bagi pihak yang dibuat seakan buruk tersebut. 

Memang film dokumenter ini masih belum berimbang, namun yang menarik dalam film dokumenter ini dan aku menyepakatinya, bukti dalam kasus Mirna ini kurang kuat. Selain itu tekanan dari pihak masyarakat umum itu ternyata juga mengerikan, Jessica seperti sudah dianggap pelakunya, padahal belum tentu ia pelakunya. Jaksa, hakim, dan pengacara tersangka juga pastinya mendapat tekanan kuat.

Ehm aku jadi ingat buku To Kill a Mockingbird, bagaimana rumitnya jalannya peradilan ketika sosok tersangka sudah mendapat stempel pelaku dari masyarakat.

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 2, 2023.

4 Tanggapan to “Tentang Film Dokumenter Es Kopi”

  1. Bagian polisi Australia menunjukkan daftar kejahatan Jessica yg diindikasikan ada gangguan psikologis di Australia saya rasa menjadi kunci untuk menangkap Jessica. Film ini seperti merangkai kepingan kisah selama berbulan-bulan menjadi tayangan 1 jam.

    • Ehm aku bukan orang hukum sih, kurang tahu apakah latar belakang kriminal bisa jadi pemberat. Aku hanya merasa cerita di film dokumenter ini kurang lengkap. Kalau masalah durasi sebenarnya nggak masalah. Ada beberapa cerita sejarah yang bisa terangkum dengan baik dalam waktu 1-2 jam.

  2. Sudah nonton juga..setuju dg pendapatmu mba agak menggiring opini…dan bagi yg ngerti hukum tentu lebih paham

    • Kesan menggiring opini muncul mungkin karena informasi yang ada di dokumenter ini kurang lengkap dan berimbang ya. Mungkin mereka hanya ingin menampilkan perspektif baru.

Tinggalkan Balasan ke Phebie Batalkan balasan