Ancaman Kekeringan dan Es yang Menyegarkan
Delapan ratus meter sebenarnya bukan jarak yang jauh. Tapi karena siang hari dan belakangan hawa begitu panas maka jalan kaki dari stasiun ke tempat kumpul-kumpul bikin jadi haus. Aku langsung pesan es teler yang bikin sejuk.
Penampilan es telernya menyegarkan. Aku langsung melahapnya dan tak lama tak tersisa. Eh tak lama aku mulai kembali kehausan. Aku ikut mengantri mendapatkan es teh leci dari teman-teman yang memesan beberapa teko.
Tentang hawa yang panas ini aku jadi teringat obrolan dengan ibuku dan kawan-kawan. Kata ibu dan kawan-kawan tersebut sumur mulai mengering karena kemarau berkepanjangan. Ibu cerita ia mulai lebih berhemat menggunakan air. Ia kuatir sumur bakal mengering suatu kali.
Kawanku malah kondisinya memprihatinkan. Sumurnya betul-betul kering sehingga selama dua minggu ia harus angkut air dari rumah tetangganya sehari dua kali. Setiap pagi dan sore ia mengangkut air. Lelah dan berat. Eh belakangan sumur tetangganya juga mulai kering.
Dia menimbang-nimbang apa pasang pipa PAM, sementara jika beli air galon isi ulang atau air jurigen keliling pasti bakal lebih mahal.
Ehm tentang air ini aku setuju jika air itu adalah sumber daya alam yang vital dan seharusnya negara mengaturnya. Air adalah emas sesungguhnya. Bahkan nilainya jauh lebih berharga air daripada emas permata maupun minyak. Manusia tak bisa hidup tanpa air.
Oleh karenanya negara sebaiknya mengatur kembali tentang kebijakan menjual air kemasan. Jangan sampai sumber mata air tertentu dikuasai pihak-pihak tertentu dan masyarakat sekeliling malah tidak bisa mengonsumsinya.
Ketersediaan air bersih turut didukung dengan pengelolaan sumber air hingga ke hilir yaitu sungai. Adanya pengikat air seperti hutan dan vegetasi juga penting. Jangan sampai suatu ketika Indonesia kekeringan hingga ekspor air bersih.
