Yuk Singgah ke Duniaku

KucingSeekor kucing dengan bulu jingga masuk ke tokoku.

Sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan seekor kucing masuk toko andaikata kucing itu berlaku normal seperti kucing pada umumnya. Tapi kucing berwarna jingga alias kucing oyen itu masuk ke dalam tokoku dengan berdiri di atas dua kaki belakangnya. Kaki depannya yang kanan membawa sebuah tas. Kaki depan satunya membawa payung.

Aku seperti Alice dalam negeri dongeng. Kukucek-kucek mataku. Ia masih ada di sana dan kini menghampiriku. Ooh perlukah aku membaca doa pengusir makhluk halus?

Kucing itu tak nampak berbahaya. Ia nampak lucu, menggemaskan, dan juga ramah.

Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Meski suaranya seperti suara kucing pada umumnya, anehnya aku memahaminya.

Berikut terjemahan bahasanya, karena ia menggunakan bahasa kucing miauw miauw ketika berbicara kepadaku. Aku perlu ramuan ajaib untuk bisa pulang ke negeriku, ujarnya.

Aku semakin bengong mendengar permintaannya. Mungkin jika kamu kebetulan melihatku, kamu akan melihat wajahku seperti orang bodoh. Aku tak paham apa yang dimaksud kucing misterius itu dengan ramuan ajaibnya.

Tokoku menjual pernak-pernik yang ada di kisah-kisah fantasi. Ada tongkat sihir, sayap peri, jubah pangeran abad pertengahan, juga mahkota bidadari. Tapi itu semua hanyalah benda buatan manusia.

Ayah ibuku yang mendirikan toko ini. Mereka sangat menggemari kisah-kisah dongeng dan mengumpulkan pernak-pernik ini. Tapi mereka kemudian tak ada kabarnya ketika mencari sebuah relik yang disebut-sebut dalam sebuah kisah dongeng.

Toko ini kurang laku. Orang-orang hanya mampir ke sini saat mendekati Halloween atau saat pesta kostum dan pertunjukan sekolah. Mau tak mau aku harus bekerja sambilan menjadi penulis dan guru les privat.

Lamunanku buyar. Kucing itu memandangiku dan kembali mengulangi kata-katanya. Ia perlu ramuan ajaib yang bisa membawanya pulang.

Si kucing lalu bercerita jika ia telah cukup lama tersesat ke dunia manusia. Ia rindu kakak dan adiknya. Ia rindu makanan dunianya. Ia benci diperlakukan seperti hewan peliharaan di dunia manusia.

Entah kenapa aku kemudian berkata tegas, “Aku akan mengantarmu. Katakan saja kemana tujuanmu!”

Kucing itu sama sepertiku, terkejut dengan kalimatku. Tapi janji adalah janji, akan kupenuhi. Aku tak tahu ada semangat yang mengaliri darahku ketika menyebut perjalanan.

Kucing itu menyebut namanya Kakalanturi. Nama dunianya adalah Kucingtopia. Ia meminta ramuan ajaib bernama Sikkalamantura. Tunggu aku pernah mendengar nama itu.

Kubiarkan Kakalanturi asyik menghirup teh jahe dan menyantap biskuit rumput laut. Aku menghampiri buku katalog milik Ibu. Di sana ia menyimpan semua nama barang yang ada di toko, asalnya, dan juga jumlahnya. Ada sejumlah barang yang tak dijual dan masuk dalam katalog khusus ini. Aku dulu suka membuka-buka buku ini karena nama dan bentuk barangnya unik.

Sikkalamantura merupakan ramuan ajaib yang akan membuatmu akan segera tiba ke tempat ajaib dengan hanya menyebutkan tujuanmu. Kamu tinggal tebarkan bubuk sihir ini ke sekelilingmu. Tunggu ia berkilauan. Lalu sebutkan tujuanmu. Ia akan membentuk semacam kabut berkilauan di depanku, lalu masuklah. Tujuanmu akan muncul saat kabut itu menipis.

Aku membaca dengan antusias. Jadi si kucing itu bisa pulang. Eits… kok… kok stoknya kosong. Di buku tersebut ditulis, ramuan ajaib itu akan digunakan ibu dan ayah pergi ke suatu tempat.

Kucing itu nampak damai dan perutnya nampak kenyang. Ia mulai mendengkur.

Ayah menyimpan peta-peta kuno yang tak kukenal nama-nama tempatnya. Kucari di lemari arsip, tempat yang sama ibu menyimpan katalog buku ini. Ada dua peta. Peta yang kukenal yang kata ibu disebut peta manusia dan peta negeri fantasi. Negeri fantasi juga ada di dunia ini hanya lokasinya tersembunyi.

Peta itu istimewa. Tinggal kau sebutkan nama daerahnya, akan langsung muncul daerah tersebut lengkap dengan gambaran lokasinya seperti hologram. Kusebutkan nama Kucingtopia. Lalu muncullah hologram berupa tempat yang ramai dengan kucing berdiri dengan dua kaki. Tempatnya asri dan hijau.

Kusinkronisasikan peta manusia dan peta negeri fantasi, di situ ada gambaran rute yang harus kujelajahi. Oh rupanya Kucingtopia tidak jauh. Dua hari perjalanan mungkin kami bisa tiba.

Kususun rencana perjalanan. Kami harus naik bus, lalu naik ojek baru berjalan kaki menuju lokasi tersebut karena susah dijangkau alat transportasi. Aku begitu antusias sudah lama aku tak melakukan perjalanan.

Kusiapkan perbekalan, minuman botol, biskuit dan makanan kering, selimut, jubah ajaib, dan kita kargo kucing, jaga-jaga apabila si kucing dilarang duduk di dalam bus. Kakalanturi sudah bangun, kusampaikan rencana perjalanan itu. Ia kecewa stok ramuan ajaib sudah ludes. Ia makin kecewa ketika harus bertingkah seperti kucing normal. Tapi ia senang ketika aku akan menemaninya selama perjalanan.

Kami akan berangkat besok pagi dengan bus. Sudah lama aku tak melakukan perjalanan. Aku merasa harap-harap cemas. Siapa tahu warga Kucingtopia tahu di mana ayah dan ibuku berada.

Kami sudah ada dalam bus. Si kucing duduk di pangkuanku berpura-pura menjadi kucing normal. Kami berdua nampak bersemangat. Kata ibu  perjalanan akan menjadi cerita hidup yang berkesan. Aku siap menuju Kucingtopia dengan rekan perjalanan yang istimewa.

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 22, 2023.

Tinggalkan komentar