Bahasa Jawa Kuno
Ketika menyaksikan pagelaran sendratari Majapahit, tentang Gayatri dan Sri Tribhuwana, aku terkesan dengan kalimat-kalimat yang dituturkan oleh narator. Pasalnya bahasa Jawa yang digunakan oleh narator sebagian besar kurang kupahami. Ternyata bahasa Jawa yang digunakan bukan bahasa Jawa ngoko ataupun bahasa Jawa krama, melainkan bahasa Jawa kuno.
Saat pagelaran pertama, aku bengong mendengarnya. Kemudian baru kutahu bahwa di kiri kanan panggung ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Wah.
Bahasa Jawa kuno yang diperdengarkan terdengar indah. Ketika kucari dalam internet memang bahasa Jawa kuno berbeda dengan bahasa Jawa yang biasa digunakan sehari-hari. Tapi aku masih bingung apakah bahasa Jawa kuno yang digunakan di pertunjukan ini adalah bahasa kawi yang telah terpengaruh Sansekerta atau bahasa Jawa yang lebih kuno, yang usianya lebih tua dari itu.
Jika merujuk pada bahasa Jawa yang digunakan pada era kerajaan, seperti bahasa dalam sastra kuno dan prasasti maka besar kemungkinan bahasa Jawa tersebut adalah bahasa Kawi. Bahasa ini kini dianggap punah, dulu terakhir bertahan di daerah Bali.
Mendengar nama bahasa Kawi, aku jadi ingat sastra kuno yang disebut Kakawin. Dulu yang terkenal adalah Kakawin Sutasuma dan Nagarakretagama. Yang terakhir ini berisikan tentang syair kuno kerajaan Majapahit, dari silsilah raja, Hayam Wuruk, dan sebagainya. Pertunjukan ini juga menggunakan referensi kakawin tersebut.
Aku jadi tertarik ingin membaca kakawin-kakawin yang ada di Indonesia. Rasanya malu juga karena aku belum banyak membaca sastra kuno nusantara, malah lebih banyak membaca sastra klasik dari negara lain.
