Tersandera

SumbaAda kalanya aku ingin bepergian jauh dan lama. Sendirian juga tak masalah. Namun sayangnya ada banyak batasan. Aku juga tersandera. Kucing-kucingku menyanderaku dan aku menjadi tawanan mereka dengan sukarela.
Gara-gara penampilan mereka yang imut dan menggemaskan, aku pun terpikat. Aku kemudian dengan sukarela membiarkan diriku mengabdi ke mereka, dari memberi mereka makan, membersihkan tubuh mereka, hingga membawa ke klinik jika mereka tak enak badan.

Ada kalanya tabunganku langsung menguap ketika salah satu kucing merasa tak enak badan. Aku juga dengan susah payah selalu mencari buah tangan untuk mereka sebelum tiba di rumah.

Wajah imut menggemaskan itu membuatku sukarela jadi tawanan, mengabdi penuh ke mereka. Aku sudah puas melihat wajah-wajah imut itu tidur dengan pulas dan makan kenyang.

Hingga suatu ketika aku merasa resah. Resah yang sangat ketika wajah imut itu sesak nafas. Sejak semalam si Opal nafasnya tersengal-sengal. Tadi pagi kubawa ke klinik untuk dirawat inap. Tapi malang, si Opal tak bertahan.

Aku merasa luluh lantak. Kulepas ia di pemakaman dengan hati suram. Hujan kemudian turun dengan derasnya menemaniku yang sedang berduka.

Lebih baik tabunganku menguap daripada mereka kesakitan dan kemudian meninggalkan dunia. Aku telah memilih jadi sandera mereka. Aku ingin mereka mendapatkan kenangan indah dan bahagia di dunia.

Ketika melihat foto-foto indah perjalanan, terbayang untuk suatu ketika memiliki campervan dan bisa mengajak para pemilik wajah menggemaskan itu berjalan-jalan. Saat ini aku harus puas bepergian secukupnya, lalu kembali mengabdi ke mereka sepenuhnya.

Selamat jalan Opal. Terima kasih sudah menjadi kucingku yang manis dan penyayang.

Kucing Opal

~ oleh dewipuspasari pada Januari 28, 2024.

4 Tanggapan to “Tersandera”

  1. Ikut berduka cita untuk Opal

  2. Rest in love, Opal 🥀💔

Tinggalkan Balasan ke dewipuspasari Batalkan balasan