Makan Sendiri dan Imajinasi
Makan sendirian sudah ada di kamusku sejak memutuskan untuk berkuliah di luar kota. Aku tak pernah merasa janggal atau kesepian selama bersantap sendirian di luar. Aku bisa memilih menu sesuai suasana hatiku, melamun sesukaku, dan memutuskan datang atau pergi kapan saja.
Aku suka makan di luar bersama kawan dan keluarga. Tapi aku juga tak keberatan untuk bersantap sendirian.
Dulu waktu kuliah, aku lumayan sering memasak sendiri. Tapi ada kalanya aku malas dan ingin sekalian bersantai sejenak dengan bersantap di luar. Ketika kawan tak ada yang menemani, aku tak masalah. Aku juga tak masalah makan di tempat, tak membungkusnya untuk makan di kosan.
Sejak dulu aku menyukai kopi hitam yang tak terlalu manis. Ada warung sederhana yang dulu suka kusinggahi, dengan menu makanan murah meriah dan mereka juga menyediakan kopi. Tidak, warung makannya tidak estetik.
Tempat makan itu sangat biasa, tapi aku menyukai masakannya yang membuatku teringat pada rumah. Aku tak peduli tatapan mahasiswa melihatku makan sendirian dan menyeruput kopi. Saat itu minum kopi belum ngetren sehingga bukan pemandangan biasa seorang perempuan menyeruput kopi hitam di sebuah warung makan.
Kebiasaan makan sendirian ini terbawa hingga aku dewasa. Ketika aku malas masak dan di rumah sendirian, ada kalanya aku memilih jalan kaki dan kemudian bersantap di kedai yang menarik perhatian.
Aku duduk di sana, asyik memperhatikan menu. Lalu kupilih menu yang jarang kusantap atau belum pernah kucoba di tempat makan tersebut. Mencobai makanan baru itu bagiku seperti menambah pengalaman baru.
Saat-saat makan sendirian ada kalanya membuat otakku bekerja lebih kreatif. Imajinasi bertaburan menunggu untuk kupilih. Kubayangkan kedai makan ajaib. Benakku berseliweran tentang masakan yang membuat awet muda dengan resep yang ajaib.
Ketika menyantap cumi saus tiram, aku perhatikan aneka bahan yang ada di piring saji. Semua bahan itu kukenali. Suatu ketika aku akan mereplikasi menu ini.
Lalu anganku membumbung tinggi. Bagaimana jika begini apa yang akan terjadi?!
Aku nyaman-nyaman saja makan seorang diri. Kupesan makanan yang unik. Aku siap memanen imajinasi.
