Ngerumpi Beras
Harga beras membumbung tinggi. Di supermarket dan di agen beras sekitar rumah, harga lima kilogram beras kini sekitar Rp85-90 ribu untuk kualitas biasa. Padahal harga beras pada awal Februari sekitar Rp70 ribu untuk ukuran yang sama. Apa harga beras bakal terus naik? Ini membuat was-was karena harga beras bisa jadi mempengaruhi kenaikan lainnya.
Sebenarnya ketika pada awal Februari aku membeli beras, aku merasa harga beras sudah mulai merangkak naik. Hal ini dikarenakan aku suka memperhatikan harga barang yang kubeli. Pada bulan Januari 2024 harga lima kilogram beras masih Rp65 ribuan.
Kenaikan harga beras umumnya relatif landai dibandingkan kenaikan barang lainnya. Aku masih ingat pada Januari 2023 harga beras masih kisaran 60 ribuan untuk lima kilogram alias Rp12,5 ribu perkilonya. Lalu pada awal 2022 masih banyak beras yang dijual Rp55 ribuan per lima kilogram dan itupun kualitasnya sudah lumayan.
Mungkin harga beras masih wajar jika naik Rp1000 per kilogram setiap 1-3 tahun sekali. Tapi tahun ini kenaikannya luar biasa. Ada kenaikan sekitar Rp4 ribu untuk perkilogramnya dalam kurun waktu satu tahun, dari Rp65 ribu per lima kilogram menjadi Rp85 ribu. Itupun tiap pembeli dijatah hanya bisa membeli satu wadah.
Naik hanya Rp20 ribu mengapa masyarakat resah? Jumlah konsumsi beras tiap keluarga tidak sama. Karena aku tidak setiap hari masak nasi maka beras lima kilo bisa cukup hampir satu bulan. Tapi pas rajin masak dan makan sehari minimal dua kali maka beras 5 kilo hanya cukup untuk tiga minggu atau kurang. Kini aku sering menyantap jagung, ubi, waluh, dan oatmeal, sehingga tidak terlalu bergantung pada beras.
Nah, minggu lalu aku mengobrol dengan ibuku seputar konsumsi beras. Rupanya ibu memasak beras sekilo perharinya alias perlu sekitar 30 kilo per bulannya. Itu berarti Ibu mengeluarkan sekitar Rp510 ribu hanya untuk konsumsi beras.
Nah kakak laki-laki yang total anggota keluarganya ada tujuh orang rata-rata memasak 3-4 kilogram beras. Jadinya ia perlu kira-kira 100 kilogram beras per bulan atau sekitar Rp1, 7 juta hanya untuk membeli beras. Besar bukan?!
Itu baru pengeluaran untuk beras. Lantas bagaimana harga barang lainnya. Kucek harga gula pasir dan minyak telah melambung. Dari Rp14 ribu kini menjadi sekitar Rp18 ribu. Entah bagaimana dengan harga produk lainnya, aku belum memeriksanya dengan saksama.
Jika kalian masih merasa belum terpapar dengan kenaikan harga beras karena jarang atau malah tidak pernah masak, maka cobalah cek harga makanan di aplikasi daring. Harga nasi, ikan, dan lain-lain di warteg juga ikut melambung. Aku yakin sebentar lagi harga nasi goreng, bubur, lontong, dan lain-lain juga bakal naik.
Kenaikan harga beras ini sebuah ironi. Toh Indonesia negeri agraris kok bisa harga pangannya begitu melambung sehingga warganya sampai antri dan menderita untuk mendapatkan sembako murah. Apa jumlah beras berkurang gara-gara kemarin banyak dibagikan untuk baksos? Andaikata banyak pihak yang curiga termasuk aku sih ya jangan disalahkan karena memang kenyataannya seperti demikian.
Beras adalah kebutuhan primer di sebagian besar daerah di Indonesia sehingga wajar jika masyarakat mengeluh. Jika seseorang lapar dan kurang nutrisi maka tentunya bakal berpengaruh ke kesehatan dan produktivitasnya. Nanti jika banyak warga sakit, pemerintah mengeluh karena banyak yang menggunakan asuransi kesehatan BPJS? Nanti jika produktivitas berkurang, Jangan-jangan masyarakat lagi yang disalahkan.

Sayur ubi kelor
Kebutuhan beras tidak sama dengan kebutuhan membeli baju ataupun skincare. Tanpa membeli baju baru atau skincare, seseorang bisa tetap hidup dan bekerja. Tapi tanpa beras, ya susah.
Memang pada masa seperti ini masyarakat dan pemerintah disadarkan pentingnya diversifikasi pangan. Sumber karbohidrat bukan hanya dari beras dan terigu, masih banyak sumber karbohidrat yang murah meriah seperti aneka ubi, singkong, jagung, kentang, dan sagu. Dulu banyak daerah yang tak bergantung pada beras karena menggunakan pangan lokal. Tapi entah sejak kapan mereka juga ikut bergantung pada beras.
Nah menyantap sumber pangan non beras ini bisa dilatih dan dibiasakan. Anggap saja awalnya sebagai selingan. Sebagai awalan bisa dimulai dengan bubur tinutuan yang kaya bahan dan menyehatkan. Ada sedikit beras, ubi jalar, jagung, dan aneka sayuran juga ikan asin sehingga semua nutrisi sudah lengkap. Atau juga bisa dicoba sego jagung.
Berikutnya bisa dicoba menu ubi, menu jagung, menu kentang, dan menu singkong atau sagu sehingga dalam sehari bisa satu waktu tanpa beras. Selain berhemat, hal ini akan membantu masyarakat agar tak selalu bergantung pada beras.
Oh beras kapan hargamu kembali seperti semula? Apakah pemerintah sudah menyadari keluhan warganya atau masih pura-pura tuli dan bersiap menjadi pahlawan kesiangan?

