Duku

DukuKresek hitam berisi dua kilogram duku ada di genggamannya. Ia pun membayar dan berlalu. Diliriknya isi kresek hitam itu. Ia tersenyum lebar.

Menyantap duku adalah kegemarannya. Sebenarnya ia tak begitu paham beda duku dan langsep. Yang ia ketahui duku itu lebih mungil dan manis. Sedangkan langsep biasanya lebih besar dan kadang-kadang asem. Tapi ia tak masalah jika salah membeli duku dan hanya mendapatkan langsep. Ia suka keduanya.

Setelah mandi segar, ia pun segera memulai healing-nya. Menyantap duku dan menikmati rasa buahnya.

Ada yang isinya kecil. Ah telan saja, ujarnya masa bodoh. Isi buahnya besar, mending tak dimakan. Pahit. Tak ada isinya, duh senangnya.

Ia terus membuka kulit duku dan mengunyah. Ia suka aroma duku yang khas. Ia suka proses membuka kulitnya. Ia suka rasanya yang nyes dingin dan manis. Ah ia begitu suka duku.

Tak lama isi duku itu telah berkurang separuh.

Di antara sekian banyak buah, duku adalah tiga besar favoritnya selain mangga dan apel. Duku memang salah satu buah yang terbaik. Musim duku adalah salah satu momen terbaik dalam setahun.

Hampir setiap hari ia berhenti di lapak buah itu dan membeli duku. Ia tak merasa bosan setiap hari menyantap itu.

Enak… enak… enak…

Hingga musim duku berakhir. Ia kembali menciut dan nampak rapuh. Semangatnya tak kunjung pulih.

Api yang kecil itu kembali menyala ketika musim mangga tiba.

Mangga memang buah yang terbaik, ujarnya. Enak… enak… enak.

Gambar dari Kompas

~ oleh dewipuspasari pada Maret 2, 2024.

Tinggalkan komentar