Memasak untuk Kesehatan Jiwa
Hari ini Jakarta berulang tahun. Jauh dari pusat kota, sehingga tak ada hingar bingar semacam bazaar dan lainnya di daerahku yang masuk pinggiran. Jakarta sebentar lagi tak lagi menyandang status sebagai ibu kota. Aku penasaran bagaimana kabar kota ini selanjutnya. Tapi sepanjang belum ada Keppres, maka sampai saat itu tiba, kota ini masih menyandang predikat sebagai ibu kota.
Sepi, hanya terdengar salakan anjing dan sesekali suara laju kendaraan. Hari ini seperti hari-hari biasa di sini. Grup WA kampung hanya berisikan kabar salah satu tetangga yang sedang berduka karena putrinya terserang DBD beserta ucapan agar segera sembuh. Ada anjuran dari Bu RT kepada seluruh warga untuk memeriksa tempat-tempat yang kemungkinan menjadi sarang nyamuk.
Aku malas sepanjang hari ini. Hingga sesuatu menggerakkanku untuk bangkit membersihkan rumah dan bergerak. Aku mengamati bunga-bunga kuning yang semakin banyak. Aku mengucapkan selamat datang kepada mereka semua. Cuaca begitu cerah dan hawa terasa gerah. Pakaianku yang kujemur semalaman sudah kering semua. Kuisi tiang jemuran dengan pakaian lainnya yang baru kucuci.
Hawa yang gerah membuat kucing-kucing kepanasan. Mereka bertelekan di lantai kamar mandi, lainnya memilih tidur di depan kipas angin. Kucing-kucing juga ingin tidur nyaman.
Petang hari aku memilih berolah raga ringan. Kuputar musik meditatif dan ku bergerak seadanya. Tapi aku merasa ada yang kurang. Ada yang harus kulakukan.
Aku ingin memasak. Memasak sesuatu yang mudah. Ikan yang kuambil di freezer sudah mulai mencair. Demikian juga dengan pisang goreng, oleh-oleh dari Pekanbaru.
Kupanaskan wajan. Kutaruh ikan kembung setelah kukira beberapa bagian dengan pisau.
Api kubiarkan menyala kecil. Kutaburi sedikit garam, kukucuri tetesan-tetesan minyak, dan kuambil sesiung bawang merah dan cabe rawit. Lalu kututup.
Di wajan berbeda, kucairkan sedikit margarin. Lalu kubiarkan dua pisang di atas wajan dengan api yang menyala kecil. Kubiarkan mereka dan kulanjutkan bergerak secara acak.
Aku tak punya cara berolah raga dengan benar. Aku hanya suka menari sesuka hati bergantung dengan musiknya.
Tak lama aroma pisang goreng telah menguar. Kubalik sisinya. Sisi yang sekarang di bagian atas telah menguning kecokelatan.
Kulihat ikan di sisi sebelahnya. Kucungkit dengan sumpit. Ooh rupanya masih pucat.
Kucing Clara dan Kemoceng mulai berkerumun di dapur. Aroma ikan pasti membangunkan mereka.
Aku tak paham mengapa pisang gorengnya tidak manis sama sekali dan pisangnya keras. Pisangnya seperti belum matang. Mungkin alasannya agar pisangnya tidak lembek dan mudah dibawa. Tapi rasanya tak enak.
Dulu pisang hambar seperti ini dihidangkan dengan sambal merah yang pedas atau dabu-dabu. Rasanya jadi lebih berwarna. Tapi sayangnya yang oleh-oleh ini tidak ada saus atau sambal penyerta.
Agar ada rasanya maka kugoreng perlahan-lahan dengan margarin yang bercampur mentega. Api yang menyala kecil dan lambat membuat pisang gorengnya jadi semakin melembut. Rasa gurih dan asin margarin juga jadi meresap sehingga pisangnya tak hambar.
Setelah menunggu agak lama, jadilah pisang goreng yang gurih. Seharusnya tadi kutambahkan sedikit gula. Gula yang mencair bak karamel akan memberikan rasa yang lebih enak ke pisang gorengnya.
Gula, garam, minyak, dan mentega yang sedikit akan membantu memunculkan potensi dan rasa dari bahan masakan. Jangan banyak-banyak, sedikit saja.
Aku suka masakan yang minimalis karena menonjolkan rasa dari bahan masakannya, bukan malah menutupinya. Karena aku suka masakan sederhana seperti ikan segar yang digoreng atau dibakar tanpa banyak bumbu. Sedikit garam saja sudah cukup.
Masakan dengan bumbu beragam dan berlimpah memang memunculkan cita rasa yang kompleks, namun cukuplah sekali dua kali dalam seminggu menyantapnya. Aku lebih suka masakan minimalis dengan bumbu sewajarnya. Duo bawang, cabe, tomat, dan daun aromatik sudah cukup untuk menonjolkan rasa. Atau bisa ditambah lada plus sedikit gula dan garam.
Aku suka memasak meski tak pandai melakukannya. Aku hanya suka mencampur-campur bahan dan kemudian mencicipi rasanya. Kadang-kadang aku melamun tentang memasak, bahkan pernah bermimpi sedang memasak. Menurutku memasak salah satu terapi kejiwaan, membantuku mengatasi anxiety dan stress yang parah.
Ikan goreng itu sudah matang. Kulit ikannya sungguh bagian yang paling sedap. Ia mengeluarkan minyak yang gurih dan sedap dengan tekstur yang agak krispi. Ketika dewasa aku baru menyadari bahwa kulit ikan adalah bagian yang terbaik.
Kucabik ikan perlahan-lahan dengan sumpit. Uap mengepul. Kupisahkan bagian daging dan durinya. Aku ingin menyantap ikan dengan mudah.
Bagian kepala ikan langsung disambut riang oleh Kemoceng. Bagian dagingnya kubagi-bagi. Aku menyantap sebagian. Bagian lainnya untuk Clara, Sam, dan Pang Poko. Mereka selalu suka ikan segar.
Setengah ikan kembung dan sebuah pisang goreng mengisi petangku. Langit telah berubah menjadi gelap. Kucing-kucing kembali bermalasan di lantai kamar mandi, mencari kesejukan.
