Menari Bersama Kucing
Si kucing tak suka melihatku asyik menari mengikuti lagu rancak yang kuputar. Ia sepertinya terganggu dengan aksiku meskipun jarak dengan ia terbaring masih jauh, aku bakal tak mengenainya. Ia lalu mengeong keras, tanda agar aku diam.
Ya, aku mendengar peringatan kerasnya. Kucing ini juga ingin dilibatkan dengan kegiatanku.
Ia tak mau hanya kuelus-elus. Ia mau lebih. Agar hubungan kami makin intens.
Aku paham maksudnya. Ia ingin menari denganku.
Biasanya dalam kisah fantasi yang kususun, tubuhku akan mengecil seukuran dengannya. Kami kemudian menari di halaman saat bulan purnama. Bukan hanya aku dan dia, tapi kucing-kucing di rumah. Kami akan menari hingga kelelahan.
Tapi ini bukan cerita fantasi. Tubuhku tak berubah jadi kucing. Ukuran tubuhku tetap sama.
Aku menggendongnya dalam posisi yang membuat ia tetap nyaman. Kusetel lagu yang lembut. Aku kemudian bergerak perlahan ke kiri ke kanan. Ia nampak menikmatinya.
Kuulang gerakan-gerakan tersebut dengan lembut dan perlahan-lahan. Matanya berbinar. Ia nampak senang. Ah kapan aku membuat ia gembira?
Lagu berakhir. Si kucing nampaknya mau pulas.
Kutaruh ia perlahan-lahan ke tempat ia biasanya tidur. Ehm ia belum mau tidur. Ia mau tidur bersamaku.
