Berjuang untuk Hidup dalam “To Live”

To live yu hua
Usai membaca “Kisah Seorang Pedagang Darah”, aku jadi tertarik membaca buku berjudul “Hidup” (To Live), yang juga dikarang oleh Yu Hua. Novel ini merupakan salah satu karya yang dianggap kontroversial. Novel ini pernah dilarang beredar di China karena dengan gamblang dan apa adanya mengungkap penderitaan warga selama perang saudara antara pendukung nasionalis vs komunis, hingga era Revolusi Kebudayaan.

Tokoh utamanya adalah Fugui. Ia awalnya anak tuan tanah kaya raya, yang sayangnya pemalas, doyan main perempuan, dan gemar berjudi. Gara-gara berjudi, tanah dan rumah orang tuanya lenyap. Ayahnya syok dan kemudian meninggal.

Sejak itu Fugui, bersama ibu, anaknya, dan istrinya yang tengah berbadan dua harus tinggal di gubuk jerami. Ia yang dulunya bermalasan harus bekerja keras.

Sementara politik di negeri tersebut sedang kacau, hingga mereka merasai era yang benar- benar pahit. Namun hidup harus diperjuangkan.

Kisah yang Apa Adanya
Dalam novel ini, Yu Hua tanpa basa-basi bercerita tentang dampak situasi politik ke masyarakat. Mulai dari penjajahan Jepang, kemudian berlanjut ke perang sipil (perang saudara antara pendukung nasionalis dan komunis), hingga revolusi kebudayaan, semuanya berdampak besar ke masyarakat. Ada kalanya propaganda hanya sekedar penabur delusi, utopia sesaat, derita berkepanjangan kemudian.

Ketika hak milik dihilangkan, sawah, seluruh bahan makanan, ternak dan alat masak diserahkan ke Komune Rakyat. Delusi kantin gratis diciptakan, namun tak berlangsung lama. Setelah bahan makanan habis, warga pun kelaparan. Bahkan tak sedikit yang berkelahi memperebutkan sebuah ketela atau mengemis di kota. 

Bagian ketika anak Fugui begitu kelaparan hingga rela minum air telaga, dan satunya berkelahi karena ketelanya direbut sungguh membuatku sedih. Aku jadi makin terharu ketika mereka begitu bersyukur bisa memasak bubur beras dari beberapa genggam beras dari hasil si istri yang mengemis seharian. 

Tokoh seperti Fugui mengalami nasib buruk bertubi-tubi. Namun di tengah-tengah situasi yang penuh derita, masih ada kehangatan di keluarga tersebut. Ia masih terbilang beruntung, istrinya demikian sabar dan setia, meski ia dulu sangat keji dan pernah memukulinya. Jika ingat tindakannya, ia sangat malu dan menyesal akan perlakuannya kepada istrinya. 

Seperti dalam buku pedagang darah, tokoh utama di awal cerita digambarkan sebagai sosok yang berkarakter buruk. Namun dalam perkembangannya, ia membuktikan bisa berubah ke sosok yang lebih dewasa. Ia jadi penyayang dan bertanggung jawab.

Sayangnya font dan layout buku ini agak kurang nyaman untuk dibaca. Hurufnya kekecilan dan terlalu rapat. Ketika dibaca malam hari, mata jadi mudah lelah.

Siap-siap tisu ketika membaca buku ini. Tak sadar mataku basah usai baca buku ini.

Sebuah novel yang gamblang menggambarkan penderitaan warga era Revolusi Kebudayaan.

Oh ya novel ini kabarnya ada filmnya, tapi aku belum pernah nonton sih.

Detail Buku:
Judul: Hidup (To Live)
Penulis: Yu Hua
Penerjemah: Agustinus Wibowo
Penerbit: @bukugpu @fiksigpu
Tahun Terbit: Cetakan ke-2, 2020
Tebal: 224 halaman
Skor: 8/10

~ oleh dewipuspasari pada Februari 14, 2022.

13 Tanggapan to “Berjuang untuk Hidup dalam “To Live””

  1. menarik juga yaaa angle ceritanya tentang kelamnya sejarah nyata kerasnya hidup si tokoh utama, gak heran sih dibanned karena gamblang yaa menggambarkan kondisi suram di China pada masanya

  2. peperangan hanya membawa kesengsaraan tapi syukurlah tokoh utama jadi berubah lebih baik, menyadari kesalahannya.
    Berarti ini novel zaman dulu banget ya. Cocok buat penyuka sejarah.

  3. Kalo lihat dari cover bukunya kayak sedih gitu ya, menarik ini bacanya.

  4. AKu suka baca kisah nyata seperti ini, apalagi jika penterjemahnya bagus, sehingga bahasanya gak “awkward” seperti pak Djoko Lelono, penterjemah idola sejuta umat…

    Aku sih berharap nanti ada versi e-book aja ya, soalnya sekarang aku baca novel gak lagi melulu pake buku “beneran” tapi lebih ke e-book karena bisa dibawa ke mana saja, dan kalau hurufnya kkecilan tinggal kita “cubit” sampe ke font yang diinginkan

  5. Wah aku yang suka baca kalau front kecil – kecil juga bye kak, nggak mau maksain diri, maklum usia udah nggak muda juga, jaga mata. So far, trims infonya nih

  6. Oh..ini novel terjemahan, iya sih rata-rata ukuran tulisannya kecil.
    Karakter seperti tokoh Yu Hua ini begitu banyak dijumpai dlm real life.
    Aku sempat dengar ada salah satu karya sastra cina yg dilarang beredar tapi justru meraih berbagai penghargaan sastra internasional. Yang ini bukan ya?

  7. Mungkin dari covernya sudah menceritaka gimana lelahnya mereka ya mba jadi sedikit kurang menariik padahal ceritanya bagus banget… Jadi penasaran akuh…

    Orang yg kasar berubah menjadi baik dn penyayang itu yg terpenting terakhirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: