Film Pendek dan Isu Tentang Perempuan

Film pendek perempuan Film pendek banyak digunakan untuk menyuarakan isu sosial kemasyarakatan. Belakangan isu perempuan mulai menyeruak, temanya pun beragam. Nah di 100% STMJ di Festival Film 100% Manusia 2024 juga ada tiga film pendek tentang perempuan. Ketiganya adalah Accidentally Intentional, Ba’da Malam (After Midnight), dan Sesaat Sebelum Terucap (Confession).

Yuk kita kupas satu-persatu.

Accidentally Intentional bercerita tentang sosok ibu yang begitu protektif terhadap anaknya. Padahal anaknya sudah besar, yakni berusia 16 tahun. Sebuah kesalahan yang dilakukan anaknya, yakni menonton video tak senonoh, membuatnya naik pitam. Ia marah luar biasa.

Film karya Kevin Rahardjo ini berupaya menampilkan sosok perempuan yang berperan sebagai ibu. Ia memiliki berbagai peran dalam kehidupannya selain sebagai ibu, yakni sebagai istri dan anggota masyarakat. Ketika menjadi ibu, ia melindungi dan mengusahakan yang terbaik bagi anaknya. Namun bagaimana jika ia bertindak berlebihan.

Idenya menarik, namun eksekusinya kurang luwes. Ada banyak hal yang bikin tak nyaman dan merasa janggal ketika menyaksikan film ini, kecuali memang keluarga mereka didesain seaneh itu. Alur ceritanya juga terasa dipaksakan.

Ba'da malam Film berikutnya Ba’da Malam (After Midnight) menampilkan seorang perempuan yang baru pulang menjelang Subuh. Hak sepatunya patah dan ia nampak ingin beristirahat sejenak di sebuah masjid. Tapi pengurus masjid nampak keberatan dengannya. Hingga sesuatu menggerakkan hatinya.

Azwa Hanan Ameera ingin mengangkat isu perempuan pekerja malam yang sering mendapat stigma karena jam bekerjanya ataupun karena pakaian yang dikenakannya. Bagaimana jika perempuan yang banyak mendapat label negatif tersebut ternyata taat beribadah?

Presmisnya sederhana meski aku kurang menangkap kesan ia adalah pekerja malam atau mereka yang baru pulang dari hiburan malam, dandanannya seperti pegawai kantoran yang pulang lembur biasa. Selain itu aku merasa ia ke masjid seperti hendak beristirahat karena sepatunya rusak, bukan karena memang ingin beribadah sejak awal.

Meski demikian, aku suka akan gagasan Azwa. Apalagi ketika ia bercerita akan kesulitannya mencari masjid untuk syuting dan harus melakukan berbagai kompromi agar bisa diterima syuting di sana. Tetap semangat Azwa!

Confession Nah film ketiga, Sesaat Sebelum Terucap (Confession) bercerita tentang sepasang suami istri yang terkejut ketika mengetahui sang ibu hendak mengangkat bayi untuk diadopsi oleh mereka. Apalagi sang ibu nampak begitu ingin dan memaksa.

Isu tentang child free belakangan memang marak dibahas. Ada pro kontra menyertainya. Anisa Berliana cerdik menangkap isu ini dan mengemasnya dalam cerita yang menarik selama 18 menit.

Alur ceritanya menarik bagaimana seorang ibu yang begitu menginginkan cucu nampak bersemangat ketika mengetahui ada bayi milik saudaranya dari hasil hubungan di luar pernikahan yang bisa diadopsi oleh anak dan menantunya. Meski ada dialog dan akting pemain Laras si menantu yang agak berlebihan, hampir selalu nampak marah, dan kurang dijelaskan alasan ia memilih child free, namun cerita dan eksekusi film pendek ini paling solid di antara kedua film lainnya.

Selain memerhatikan isu dan pembabakan, Anisa juga cukup detail dalam memikirkan detail. Warna-warna tembok dan warna pakaian tiap karakter juga dipilihnya secara hati-hati untuk membantu menunjukkan emosi dan vibe tiap adegan.

Oh iya teman-teman apakah ada rekomendasi film pendek bertema perempuan lainnya? Jika ada, maka bisa ditulis di komentar. Yang mau berdiskusi, juga bebas.

Gambar dari 100 Persen Manusia 2024

~ oleh dewipuspasari pada September 11, 2024.

Tinggalkan komentar