Dunia Bawah Tanah Para Kucing

pong cemongEntah sejak kapan kami mulai memakamkan kucing. Kucing-kucing tersebut tinggal bersama kami dan sudah seperti bagian dari keluarga kami. Ketika mereka pergi dari dunia, kami memakamkan mereka di halaman rumah kami. Aku menyebutnya dunia bawah tanah para kucing.

Sejak pohon mangga kami masih berdiri tegak hingga menghilang, kami terus memakamkan kucing-kucing kami di sana. Memang ada kalanya makamnya agak menumpuk atau berdekatan karena aku tak begitu ingat letaknya. Namun hampir semua kucing kami yang meninggal ada di sana.

Kecuali Cipung si putih dan Nero. Cipung dimakamkan di kantor dan Nero entah kemana. Ia menghilang tanpa jejak ketika ia sakit dan lemah. Kucing-kucing yang hilang seperti Panda, Popo, Pong, dan Nero Nakal juga entah di mana. Mengingat hal itu aku merasa sedih dan gundah.

Halaman itu menjadi tempat main dan tempat peristirahatan terakhir. Ada si Mungil, Opal, Petualang, dan terakhir kemarin adalah Pong Cemong. Aku sering memakamkan dengan tanganku sendiri. Namun, ada kalanya dibantu terutama untuk kucing yang besar karena aku harus menggali lebih dalam dan itu sangat melelahkan.

Dalam khayalanku para kucing itu sesekali bermain di halaman untuk mengunjungiku atau karena mereka kangen dengan tempat mereka hidup dulu. Mereka akan bergulingan di taman seperti dulu.

Dalam imajinasi liarku yang lain, para kucing yang telah meninggal hidup di dunia bawah tanah di halaman. Mereka beraktivitas seperti biasa, bermain, tidur, hanya mereka tak lagi sakit dan lapar.

Kucing-kucingku terus hidup di hatiku. Mereka mengisi hati dan hidupku dengan kenakalan dan tingkah lucu. Aku sayang mereka selalu.

Selamat tinggal Pong Cemong. Selamat datang di dunia bawah tanah di halaman.

~ oleh dewipuspasari pada September 12, 2024.

Tinggalkan komentar