Catatan Krui

KruiAku tak pernah mendengar nama Krui dan Liwa selama ini. Ketika akhirnya aku bisa menjejakkan kaki ke daerah ini, aku merasa bersyukur bisa mendapat kesempatan menjelajahi daerah ini, lengkap dengan cerita manis, pahit, dan mistisnya.

Lampung menyimpan banyak pesona alam, salah satu di daerah yang disebut Krui. Daerah ini terletak di Lampung Barat, sekitar 6-7 jam dari kota Bandar Lampung.

Kawasan ini menarik karena daerah ini memiliki kondisi geografis yang bervariasi. Ada bebukitan, pantai yang langsung bertemu dengan samudera, juga sawah-sawah dengan irigasi.

Kami berangkat usai jam kerja, sekitar pukul 19.00. Perjalanan hingga ke Tanggamus nasih berlangsung lancar. Kami singgah ke warung nasi goreng pinggir jalan sebelum melanjutkan perjalanan. Hingga kami bertemu dengan hutan, rumah penduduk yang jarang, hutan, dan hutan lagi yang senyap.

Pantai Krui Saat itu mungkin sudah sekitar pukul satu dini hari. Jalanan sudah begitu sepi. Ada kalanya kami beruntung bertemu motor atau mobil. Tapi ada kalanya kami melaju dalam sunyi.

Lantunan ayat suci kemudian kami putar menggantikan lagu-lagu yang diputar perlahan. AC dimatikan agar mas Angga tidak terlelap, kami membuka sedikit jendela

Di sana sini gelap. Hingga ada sesuatu yang mengejutkan mas Angga yang menjadi pengemudi. Pasangan juga nampaknya dasar ada sesuatu dan mengeraskan volume ayat suci.

Sementara aku yang duduk di baris tengah, antara melamun dan kuatir. Ada energi yang kuat di antara pepohonan rapat dan tua. Energi ini tak kumengerti dan sebaiknya tidak kucari tahu. Energi ini berbeda dengan yang kurasai selama menuju Liwa, di maka kami juga menjumpai hutan demi hutan.

Kami kemudian lepas dari hutan menuju area penginapan. Lagi-lagi lampu penerangan jalan begitu jarang. Gelap dan berkabut. Tapi untunglah mas Angga yang asli Lampung lumayan hafal dengan jalanan. Kami tiba sekitar pukul 02.30 dengan lelah dan mengantuk.

Ya, Krui sayang untuk dibuat jadi tempat tidur semata. Kami memaksa diri membuka mata sejak pagi, bersantap sarapan gabung makan siang di Puti Minang, lalu mulai menyusuri pantai demi pantai.

Krui Pantai-pantai ini kebanyakan pantai publik. Tak ada biaya untuk masuk, hanya cukup kami berkenan untuk membeli minuman atau makanan dari warga lokal dengan harga yang wajar.

Selama di pantai kami asyik bersantai dan tiduran. Ah inilah liburan, waktunya kami bersantai, hanya menikmati panorama, suasana, dan tak banyak cekrak-cekrek.

Ada beberapa tempat yang tidak sesuai ekspektasi kami. Namun ada juga hal yang melebihi harapan kami. Kami juga menjumpai hal-hal unik yang lagi-lagi bernuansa mistis. Kami juga menjalin silaturahmi dan mendapat wawasan menarik.

Ini kunjungan pertamaku ke Liwa dan Krui. Aku jadi semangat untuk kembali menjelajah negeri ini, mumpung ada waktu, kesempatan, dan juga energi.

Pantai Krui

~ oleh dewipuspasari pada September 15, 2024.

Tinggalkan komentar