Tuhan, Izinkan Aku Berdosa Raih Berbagai Penghargaan
Lewat film berjudul Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, Hanung Bramantyo kembali bereksplorasi dengan isu yang sensitif dan ‘berani’. Ia bereksperimen dengan alur cerita yang tidak linear.
Film ini diangkat dari novel yang sempat mengundang kontroversi. Novel tersebut berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin Dahlan, yang konon diangkat dari kisah nyata.
Dalam film ini tokoh utamanya adalah Kiran, seorang mahasiswi lugu yang aktif di kajian dakwah. Mahasiswi ini diperankan oleh Aghniny Haque. Dalam kajian tersebut, Kiran merasa tidak puas, karena pertanyaannya banyak tak terjawab. Ia seperti hanya diminta untuk patuh dengan ajaran, tanpa boleh mempertanyakannya.
Konflik bergulir ketika Kiran kesulitan membayar uang kosan, sementara ayahnya di kampung sakit keras. Teman-temannya mengusulkannya untuk tinggal di pusat kajian dakwah, namun pimpinan di sana memintanya untuk menjadi istri mudanya. Sementara dosen yang dikaguminya, Tomo (Donny Damara) menyalahgunakan proposal penelitiannya. Kecewa dengan sikap orang-orang yang dijadikannya panutan, Kiran pun kemudian berubah sikap.
Aku menyaksikan film ini di bioskop pada akhir Mei, namun rupanya aku belum menuliskan ulasannya. Film ini sendiri sudah tayang di Netflix dan sempat menuai kontroversi di Malaysia karena isinya dianggap sensitif.
Dari segi visual, baik sudut-sudut pengambilan gambar, tone warna, dan editing gambarnya tak diragukan. Penggunaan musik latarnya juga pas, berhasil mempertebal suasana ketegangan dan dramatisasi cerita.
Yang menjadi poin keunggulan dalam film ini utamanya adalah akting jajaran pemainnya. Selain itu, juga adaptasi naskah dari novel ke naskah skenario oleh Ifan Ismail dan Hanung Bramantyo.
Aghniny Haque menjadi pusat cerita. Ia bisa memainkan satu sosok dengan dua karakter dan penampilan yang bertentangan dengan apik. Peran yang kompleks tersebut dieksekusinya dengan baik.
Sebagai Kiran, di awal film ia tampil dengan penampilan sederhana dengan baju tertutup dan berjilbab. Ia nampak lugu meski ia juga penuh rasa ingin tahu dan juga cerdas. Di sini Aghniny nampak luwes dan fasih dalam membaca Ayat suci Al-Qur’an.
Di pertengahan film, penampilan dan watak Kiran kemudian berubah. Ia yang menampik tawaran menjadi istri muda seorang pemilik pesantren, kemudian dipersekusi. Citranya yang alim pun berubah menjadi buruk. Bahkan ibunya sangat marah kepadanya.
Alih-alih frustasi dengan kondisi tersebut, ia memilih untuk sekalian saja membelot. Kiran pun bertransformasi menjadi gadis cantik yang modis dan seksi, meski pakaiannya masih relatif tertutup. Ia kemudian menjual dirinya dengan tujuan untuk mengungkap orang-orang yang munafik. Pengguna jasanya dari para politisi hingga orang-orang berpengaruh.
Aghniny di sini memiliki karakter yang kompleks dan dinamis. Perannya ini menuntut totalitas. Dan, ia berhasil. Ketika ia menjadi gadis alim dan kemudian menjadi gadis yang menjual dirinya, nampak jelas perbedaannya, bukan hanya dari sisi kostum dan perubahan penggunaan jilbabnya. Perubahan nada suara dan gaya berbicaranya juga terlihat.
Selain Aghniny, penampilan Donny Damara, Djenar Maesa Ayu, dan Nugie di sini juga memikat. Nugie menjadi sosok politisi yang terlihat bijak di televisi, namun ternyata culas dan kejam.
Film berdurasi 117 menit ini mendapat penghargaan film terpuji dan pemeran utama wanita terpuji di ajang Festival Film Bandung 2024. Film ini juga meraih empat nominasi piala Citra untuk kategori pemeran utama wanita (Aghniny Haque), aktor pendukung pria (Donny Damara), penulis naskah adaptasi (Ifan Ismail), dan penyunting film (Haris F. Syah). Sebelumnya Donny dan Aghniny juga meraih penghargaan di ajang Indonesian Movie Actors Awards 2024.
Gambar milik MVP Pictures
