Para Kucing Tamu
Beberapa hari ini rumahku kedatangan para kucing tamu. Mereka tidak hanya masuk ke dalam halaman, namun dengan santainya menerobos ke dalam rumah. Padahal aku tidak pernah bilang ke mereka, anggap saja seperti rumah sendiri.
Ada kucing betina dengan wajah judes dan ekor bundel yang beberapa kali bertamu. Ia tamu yang paling percaya diri dan rakus. Belum kutawari makan, ia sudah mengambil makanan kucing sendiri. Ia ibarat kucing sapu-sapu. Makanan kucing yang masih bersisa akan dihabiskannya.
Kadang-kadang aku senang kedatangan tukang sapu makanan ini. Apalagi jika perlu jasa tukang bersih-bersih makanan. Namun sebaliknya, jika aku sedang sibuk memberi makan kucing. Ia suka menyamar jadi kucingku lalu ikut merebut makanan.
Kucing tamu lainnya adalah kucing hitam dengan bulu tebal seperti Kemoceng. Ia kucing jantan sehingga sering diusir oleh Pang. Meski tampilannya sangar, suaranya begitu lembut. Nada suaranya seperti minta ijin untuk makan.
Nah satu lagi kucing tamu adalah kucing oren jalanan. Ia kucing jalanan sejati dengan wajah kotor dan tampilan apa adanya. Ia juga mudah lapar. Prinsipnya, selagi ada makanan maka jangan sia-siakan.
Ia mungkin mengira dirinya unta. Yaitu, makan apapun sebanyak mungkin buat cadangan. Tapi ia pilih-pilih makanan. Makanan biskuit kering, lebih baik jangan. Mumpung bertamu pilih yang agak enakan, ikan atau makanan basah.
Ia punya wajah memelas di antara para kucing tamu lainnya. Jika belum dapat makanan, ia sabar menunggu hingga tertidur.
