Kisah-kisah Perjodohan oleh A.A. Navis

Kalian masih ingatkah dengan penulis bernama A.A. Navis? Ia terkenal dengan karyanya berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerita tersebut memang menyentil. Banyak yang menyukai dan tak sedikit melontarkan caci-maki terhadap karya tersebut, padahal pesannya sungguh dalam dan kisahnya legit. Kali ini aku ingin mengupas kumpulan cerpennya bertajuk “Jodoh”.

Ah kalau aku tak melihat nama pengarangnya mungkin buku ini akan lewat begitu saja. Ada kalanya aku memilih buku gara-gara isinya. Ada saatnya aku penasaran karena covernya. Dan banyak pula aku membeli buku oleh nama pengarangnya. Buku ini masuk alasan ketiga.

“Jodoh” merupakan kumpulan cerita pendek A.A. Navis. Ia berisikan sepuluh cerita. Sembilan berkaitan dengan perjodohan dan satunya tentang kisah seorang ibu.

Dua di antara karya ini meraih penghargaan. Cerpennya yang berjudul “Jodoh” meraih penghargaan tahun 1975, pemenang Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep. Satunya lagi, “Kawin” mendapatkan penghargaan dari majalah Femina pada tahun 1979.

Benang merah dari cerita-cerita pendek ini adalah segala hal berkaitan dengan pernikahan dan perjodohan. Meskipun saat itu tahun 1970-an ke atas pemikiran masyarakat sudah modern, banyak terjadi perjodohan paksa oleh keluarga. ‘Korbannya’ bisa siapa saja. Ia bisa pria dan wanita yang memiliki pendidikan tinggi. Ketika kedua orang tua sudsh berencana dan menentukan, maka si anak tak bisa berbuat apa-apa karena takut disebut durhaka.

Membaca cerita satu dan lainnya aku jadi teringat akan tembang “Cukup Siti Nurbaya” milik Dewa 19.

“…katakan pada Mama. Cinta bukan hanya harta dan tahta.
Pastikan pada semua. Hanya cinta yang sejukkan dunia…”
(Bukan itu Mama, bukan itu Papa)

Tema-tema nikah paksa sering mewarnai karya sastra pada masa angkatan Balai Pustaka. Cerita seperti “Azab dan Sengsara, “Salah Asuhan”, ” Di Bawah Lindungan Kabah” lekat dengan unsur pernikahan paksa. Sisi perempuan lebih banyak yang merana.

Dalam cerpen berjudul “Jodoh”, Navis bercerita tentang seorang pemuda yang sudah diburu-buru untuk menikah karena usianya. Ia dulunya pria yang idealis dan penuh semangat. Ia tak mempermasalahkan kapan waktu untuk menikah hingga usianya mendekati tigapuluh dan kawan-kawannya sudah berkeluarga.

Badri, nama si pemuda tersebut merasa gelisah. Pendapatannya tak besar. Ia ragu gajinya cukup untuk berdua, apalagi jika sudah bertiga berempat dan seterusnya dengan bertambahnya anak-anak mereka kelak. Untuk itu ia membuat rencana. Ia akan memilih pendampingnya dengan syarat-syarat yang dibuatnya agar membuatnya merasa tenang dengan soal pendapatannya yang tak seberapa.

Ia lalu menyusun kriteria. Gadis yang akan menjadi istrinya kelak adalah memiliki tinggi badan minimal 160 cm agar anak keturunannya nanti juga cukup tinggi. Selanjutnya ia berharap calon mertuanya tak masalah dengan sosok menantu yang berdarah campuran seperti dirinya. Ketiga, si gadis sebaiknya juga bekerja. Syukur-syukur pegawai negeri dan seorang guru sekolah.

Adakah yang memenuhi kriterianya. Sebenarnya ada sosok tak jauh dari dirinya yang juga mulai cemas disebut perawan tua. Tapi ia marah kepadanya karena Badri juga sering mengajak Rosnia untuk jalan-jalan. Akhirnya ia pun berkawan dengan rubrik ‘Kontak Jodoh’ dan ada tiga gadis memenuhi persyaratannya.

Dengan penuh semangat Badri menghubungi pengasuh rubrik ‘Kontak Jodoh’ dan melakukan janji pertemuan dengan si dia. Tapi betapa terkejutnya Badri gadis itu tak lain adalah Lena. Lena pun malu dan marah mengetahui pemuda itu adalah Badri.

Ceritanya kocak. Memang cerita ini paling menarik di antara lainnya. Siapa nyana gadis yang ‘disepelekannya’ ternyata sebenarnya memenuhi kriterianya. Ceritanya lugas dan enak dibaca.

Cerpen lainnya berjudul “Kawin” menceritakan pemuda perantauan Minang di Jawa yang buru-buru pulang karena dikabarkan ibunya sakit parah. Di sana ia menemukan keramaian dan persiapan pernikahan. Rupanya ia sudah disiapkan pesta. Pesta pernikahan antara dia dan gadis yang terhitung masih sepupunya. Ia lemas dan ingin berontak. Apalagi ia sudah punya kekasih di tanah Jawa.

Cerita lainnya banyak yang berakhir tragis. Ada kisah yang tak kalah pilu berjudul “Kisah Seorang Pengantin”. Dikisahkan ada perempuan muda berusia 23 tahun yang selama ini sibuk mengasuh adik-adik tirinya. Ia kemudian dinikahkan oleh ayah tiri dan ibu tirinya dengan seorang pemuda tampan. Sayangnya si pemuda tak pernah menyukainya.

Ia berang dipaksa menikah dengan si gadis pilihan ibu. Si ibu sendiri egois. Ia memaksa anak laki-lakinya menikah dengan gadis tersebut karena ia tidak cantik. Ia kuatir gadis cantik akan merebut perhatian anak laki-lakinya. Dengan ancaman cap durhaka anak laki-laki tersebut melampiaskan kemarahannya ke perempuan yang menjadi istrinya tersebut. Si perempuan yang hanya mengikuti kemauan kedua orang tua tirinya itu merasa merana. Ia lalu bertekad bulat untuk berpisah. Menjadi janda lebih baik daripada hatinya terus disiksa oleh perang dingin antara suami dan mertuanya.

Di sini yang menarik sosok si gadis digambarkan tabah dan tegar. Mereka kadang-kadang tak bisa menghindar dari perjodohan tapi mereka juga bisa berpikir dewasa karena manusia sebenarnya merdeka. Jika hidup selalu dipaksa dengan ‘ancaman’ ini dan itu maka sebagian jiwa-jiwa akan berontak dan berharap tak ingin dilahirkan.

Kisah dalam buku ini memiliki latar belakang Minang. Jika membacanya maka akan terlihat kultur Minang pada tahun 70-an terasa berbeda dengan masa kini, terutama dari sisi kehidupan perempuannya.

Sebuah kumpulan cerita pendek yang apik bahwa hidup tak selalu manis. Ada bagian perjalanan hidup yang asin, getir dan juga pahit.

Detail Buku:
Judul: Jodoh
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: Kompas Gramedia
Jenis: Kumpulan cerpen

~ oleh dewipuspasari pada Mei 7, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: