Diary Istri Upik #Kenangan Masa Kecil (Maniak Musik :Bagian 1)

joan tanamal si kodok

Mungkin mereka yang beberapa kali berkunjung ke blog ini merasa kecewa melihat posting akhir-akhir ini yang banyak didominasi dengan artikel-artikel tentang musik. Dan mungkin artikel ke depan juga lebih banyak mengupas tentang musik. Pasalnya, dengan bangga saya akui, saya penggemar musik. Seumur hidup, sejak saya masih kecil, saya sudah mengenal musik. Baru setelah umur dua tahun saya baru suka membolak-balik buku dongeng HC Anderson dan baru beberapa tahun berikutnya gemar menonton film. Jadi, tingkatan musik lebih di atas buku dan film, meski tumpukan buku lebih banyak mewarnai rumah saat ini daripada CD dan kaset.

Ayah saya penggemar musik, meski ia tidak bisa memainkan alat musik. Ada satu gitar di rumah kami yang lebih sering dipakai bermain oleh paman. Ia penggemar sembarang aliran musik, dari musik tarling yang mengisahkan kisah-kisah Raden Panji Semirang, musik klasik, hingga musik rock seperti Rolling Stone dan Deep Purple. Mama sendiri lebih suka musik nostalgia dan musik yang dibawakan oleh Dewi Yul.

Sejak masih mungil, rumah tidak pernah sepi dari musik. Jika pagi, mama sering memutar lagu-lagu Joan Tanamal. Saya sampai hafal dan masih ingat beberapa lagunya. Dari lonceng berbunyi tujuh kali, si Kodok, hingga lagu yang liriknya se[perti ini “Aku sedih duduk sendiri, mama pergi papa pergi, oh itu dia mereka datang, aku senang hatiku riang”. Ada juga album lagu anak, seperti Balonku, Naik Delman, Selamat Ulang Tahun, dan masih banyak lagi.

Aku sendiri suka bernyanyi dan menari menirukan lagu itu sembari membantu mama membersihkan rumah. Dan uniknya, penggemarku banyak. Dan ini mungkin yang bakal diirikan kedua kakakku. Setiap pagi setiap mama menyetel lagu dan aku bernyanyi, banyak mata anak-anak seumuranku menontonku dari balik kaca jendela. Lalu mulailah aksi aku mengusir mereka dengan kemucingku karena malu bercampur bangga. Dan begitu seterusnya hingga aku masuk TK. Selepas musik itu diputar, maka mulailah mama menyetel lagu aerobik. Mama saat itu suka senam, dan aku ikut-ikutan menekuk-nekuk tubuhku dan menirukan gerakannya.

Karena rumah nenek dan rumahku berdempetan maka aku suka bermain di rumah nenek jika bosan bermain dengan ayam dan main bongkar pasang. Rumahku dulu memiliki bengkel. Di situ ada cukup banyak ayam. Aku suka bermain dengan ayam baik besar maupun yang kecil. Bahkan, aku bersahabat dengan ayam jago dan sering bepura-pura naik di atas punggungnya.

Saat itu paman dan bibiku masih bujangan dan masih tinggal bersama nenek. Ada banyak kaset di sana, terutama lagu-lagu Iwan Fals dan lagu tentang Brahma Kumbara. Serial radio Brahma Kumbara saat itu populer banget. Dan jadilah aku Mantili mungil, lengkap dengan pedang mainan dan ikat kepala dari pita panjang. Mantili mungil yang sibuk mengejar-ngejar ayam dan kucing garong.

Musik Iwan Fals saat itu yang populer adalah Mata Dewa. Seiring dengan usiaku yang bertambah, maka musik Iwan Fals yang kukenal seperti Bento, Wakil Rakyat seharusnya Merakyat (aku lupa judulnya), Kemesraan, dan masih banyak lagu. Saat itu aku menganggap Iwan Fals musisi yang peduli dengan kondisi sekitarnya.

Kembali ke rumah, selepas bekerja, ayah kerap memutar lagu-lagu bernuansa jaipong. Yup, Ayah seolah ingin mengingat kampung halamannya nan jauh di Heurgeulis. Ada banyak kaset tentang Panji Semirang. Baru ketika aku sudah lebih besar, aku memahami kisah Panji dan Galuh Candrakirana yang sedih nan romantis.

Masih di usia balita, rumah dihibur dengan lagu-lagu Deep Purple. Aku tidak ingat judulnya, hanya ingat satu judul bertajuk Soldier of Fortune yang sedih. Satu lagi yang kuingat adalah permainan gitarnya yang memang cepat dan melodius. Lagu Deep Purple ini bersaing dengan lagu Milli Vannili yang beraroma disko. Pamanku kerap menyetelnya, dan aku lebih memilih musik ini karena lebih ceria dan asyik didengar. Aku masih ingat bagaimana pamanku yang berisi asyik bersenam sambil mendengarkan lagu ini. Lucu banget membayangkannya. Pamanku hanya mengenakan celana pendek ketat, da tidak sadar di belakangnya ada dua makhluk mungil, aku dan kakak laki-lakiku, menirukan gerakannya. Mama yang melihat nampak geli.

(bersambung ke bagian 2->Masa SD: Lomba Karaoke Amy Search, Terpesona Michael W. Smith dan Berkenalan dengan Om-om Metallica)

catatan:

gambar diambil dari: http://bintangkecil90.blogspot.com/2009/03/yoan-tanamal.html

~ oleh dewipuspasari pada Februari 8, 2013.

2 Tanggapan to “Diary Istri Upik #Kenangan Masa Kecil (Maniak Musik :Bagian 1)”

  1. Hihihi.. membayangkan Puspa Kecil bernyanyi dan bergoyang kok imut banget ya.. :”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: