Dari Suoh Kembali Ke Bandar Lampung Melewati Persawahan dan Berjumpa Bebek

Sudah lama aku tidak menjejak bumi Lampung. Ada rasa rindu juga rasa deg-degan karena rumah dinas yang horor dan kerap membuatku takut. Sembari melamun, aku menata folder foto lalu aku menemukan foto-foto persawahan, dengan langit biru dan bebek lucu.
Aku suka bebek. Bebek itu bikin gemes. Kadang-kadang aku merasa bersalah menyantap bebek goreng karena mereka berasal dari hewan yang menggemaskan.
Waktu itu kami melakukan perjalanan dari Suoh. Sebuah perjalanan panjang setelah kami menghabiskan waktu ke Krui kemudian main ke daerah puncak Lampung yang dingin. Sayangnya waktu itu hujan deras terus mengguyur sehingga kami gagal naik bukit dan memutuskan kembali melewati Suoh sambil menikmati panorama danaunya.
Waktu kami di Lampung mungkin tak bakal lama. Padahal aku sudah menyukai kota ini dengan segala keindahan dan keburukannya. Mungkin kota ini akan selalu kurindukan dan jadi bagian hidupku, seperti halnya Surabaya dan Malang.
Sawah. Aku menyukai sawah dan hutan. Keduanya kontras. Satu buatan, satu alami. Selama menuju Krui kemudian Suoh kami menjumpai hutan yang masih alami dengan suara angin dan penghuninya yang misterius dan mendebarkan. Inilah suara hutan dengan para fauna dan flora yang hidup di dalamnya.

Aku membuka sedikit jendela sambil menghirup aroma hutan yang segar dan beraroma floral. Ada beragam aroma tumbuhan di sana. Kemudian terdengar bunyi serangga.
Kata penduduk setempat, jika beruntung bisa bertemu hewan-hewan di sini. Untunglah aku tak bertemu hewan buas dan kami terus meluncur hingga bertemu Danau Suoh yang kebiruan dan terus melakukan perjalanan menuju Kota Agung.
Hutan kemudian berganti dengan pemukiman penduduk dengan ladang dan sawah. Sawah yang hijau kemudian ada sawah yang menguning dengan latar pegunungan. Indah. Aku beruntung diberi kesempatan mengenal berbagai penjuru Lampung, dari Barat, Timur, Tengah, dan Selatan telah kujangkau. Masih banyak daerah yang belum kueksplorasi terutama daerah utara seperti Tulang Bawang, Lampung Utara, dan masih banyak lagi.
Kesimpulanku Lampung itu luas dan kaya.


Jika naik pesawat, aku sering sedih melihat banyak bebukitan dan hutan-hutan berganti menjadi tambang pasir dan kebun sawit. Banyak kawasan hijau dirusak sehingga sekarang Lampung banyak dilanda banjir bandang. Kasihan warga sekitar. Hanya tertimpa bencana alam sementara yang mengeksploitasi sumber daya alamnya entah pergi ke mana.
Sebenarnya aku ingin berbuat banyak ke Lampung. Tapi aku bukan siapa-siapa. Mungkin yang bisa kutuliskan hanya tulisan-tulisan tentang Lampung baik pujian maupun keluhanku.

