Ketika Perut Pang Membesar Janggal

Hampir dua minggu ini aku resah. Aku memperhatikan perut Pang membesar. Ketika kutanyakan ke dokter sekitar seminggu sebelumnya, ia menyarankan diobservasi dulu. Tapi setelah makin besar, aku memutuskan untuk segera membawanya. Ya, perut Pang tak baik-baik saja.
Pang dua tahun sebelumnya merupakan survivor FIP kering. Ia bertahan dan itu membuatku lega. Aku mau menangis ketika ia didiagnosis menderita penyakit itu karena aku pernah terlambat membawa si Mungil. Ia meninggal tak lama setelah keseimbangannya mulai goyah dan tubuhnya melemah.
Saat Pang disebutkan menderita FIP basah, aku sudah lebih siap dan sudah menduganya. Setidaknya ia masih kuat dan ada obatnya.
Aku merasa sesak ketika melihat tagihan biaya cek darah dan obatnya. Duh selama 60 hari ke depan, Pang akan dirawat intensif dengan berbagai obat. Dan, obatnya tak murah. Aku harus siap fisik, energi, dan waktu untuk Pang. Juga, pastinya dana.
Ehm rasanya ada saja riak dalam kehidupan. Mumu dan Panda Cemong masih memiliki luka di tubuhnya, Opal masih suka batuk, Clara baru melahirkan, dan Nero Manis sedang mengurung diri. Kini ketambahan Pang yang harus mendapat perhatian ekstra.
Ya sudahlah. Namanya saja kehidupan. Aku harus menjalaninya. Semoga Pang bertahan dan kembali sehat.
