Selamat Tinggal Kemoceng

Kemoceng pernah gemuk luar biasa. Memang sih saat itu ia hamil. Namun, ia nampak bahagia dan senang makan.
Foto di atas kuambil saat ia hamil besar Cemong, Opal, dan dua kucing lainnya. Ini adalah rombongan pertama Kemoceng melahirkan. Setelah itu Kemoceng melahirkan kali kedua yakni rombongan Kwak. Sayang rombongan kedua banyak yang tak selamat. Bahkan Kwak pun meninggal baru-baru ini.
Sebenarnya pada tahun lalu aku sudah menerima kehadiran Kemoceng. Oleh karena ia makan, tidur, dan kemudian melahirkan di rumahku, ia sudah kuanggap bagian dari keluarga besar kucingku. Panda Cemong dan Opal sudah resmi menjadi kucingku, demikian juga dengan Kwak.
Kupikir Kemoceng senang dan bahagia menjadi bagian dari keluarga kucing di rumah kami. Namun, sepertinya Kemoceng masih menganggap dirinya adalah kucing liar.
Sikap Kemoceng berubah mulai tahun ini. Terutama, ketika ia setelah menyusui Kwak dkk dan hendak kusteril. Ia memang ditolak steril karena usianya yang dianggap telah tua, tujuh tahun, tapi sejak itu ia menarik diri.
Ia menolak kupakaikan kalung. Semua kucing kuberikan kalung karena ada beberapa tetangga yang benci kucing. Mereka mengancam akan membuang kucing liar yang singgah ke halaman mereka. Setelah mendengar ancaman mereka itu semua kucingku kuberi kalung dan kuwanti-wanti agar tak main jauh-jauh.
Kemoceng berbeda. Ia malah ingin menjadi kucing liar lagi. Ia mulai jarang tidur di rumah dan hanya numpang makan. Lama-kelamaan ia tak pernah lagi bermalam di rumah. Sikapnya ke aku juga mulai dingin. Padahal dulu ia suka bersandar tidur ke aku. Bahkan ia lahiran Kwak di atas perutku. Aku diam-diam sedih atas perubahan sikapnya.
Awal bulan ini aku terkejut melihat perubahan fisik Kemoceng. Sejak ia meliarkan diri ia memang tak sebersih dan segemuk dulu. Ia nampak kumal dan kurusan.
Terakhir kulihat ia tengah hamil lagi. Perutnya membuncit. Padahal ia sudah tua, kasihan. Meski perutnya buncit, tubuhnya kurus sekali. Aku bisa merasakan tulangnya. Ada apa dengannya.
Aku merasa ia tak baik-baik saja. Jika ia singgah ke rumah, kusuapi dirinya. Ia mulai malas makan, tapi ia kadang-kadang masih singgah ke rumah.
Menyuapi Kemoceng makin susah. Ia menolak makanan basah yang dulu disukainya. Akhirnya kuberikan makanan dengan kubuat bubur dulu. Kupaksakan masuk mulutnya. Kadang ia muntahkan dan semburkan. Tapi aku lebih ngotot.
Lama kelamaan ia makin jarang datang. Tubuhnya makin kurus dan melemah. Hingga kemudian ia tak pernah lagi datang.
Aku merasa Kemoceng tak akan pernah lagi ke rumah. Mungkin ia sudah tenang ke alam sana.
Aku sedih karena aku tak bisa memakamkan dirinya. Entah di mana ia bersemayam. Sama seperti Kwak, aku hanya bisa memberikan salam perpisahan lewat doa dan tulisan.
Meskipun Kemoceng bukan kucingku, aku merasa terhibur olehnya. Setiap melihat Kemoceng, aku seperti melihat kembali kucingku Opal, warna bulunya mirip. Kini aku kehilangan keduanya.
Selamat jalan Kemoceng.
